Headlines

Harga Gabah di Pasaran Tinggi, Bulog Kelabakan

ARIF BUDI K./"PRLM"
ARIF BUDI K./"PRLM"
Petani menjemur gabah di Desa/Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, belum lama ini. Tingginya harga gabah dan beras di pasaran membuat Bulog kesulitan membeli gabah dan beras hasil panen musim kemarau dari petani Kabupaten Indramayu.*

INDRAMAYU, (PRLM).- Tingginya harga gabah dan beras di pasaran membuat Bulog kesulitan membeli gabah dan beras hasil panen musim kemarau dari petani Kabupaten Indramayu. Penyerapan beras masih sulit dilakukan meskipun Bulog sudah menaikan harga pembelian gabah dari petani.

"Per 6 Juli, Bulog menaikan harga pembelian gabah kering giling menjadi Rp 3.900 per kg (dari awalnya Rp 3.475/kg). Namun, penyerapan juga masih sulit karena petani juga cenderung menaikan harga, apalagi, beras Indramayu juga diperebutkan oleh konsumen dari daerah lain yang berani membeli dengan harga lebih tinggi dari yang ditawarkan Bulog," ujar Wakil Kepala Bulog Sub Divisi Regional Kab. Indramayu Taufik Budi Santoso, Rabu (6/7).

Dijelaskannya, melonjaknya harga gabah ikut memicu melambungnya harga beras. Harga beras di pasaran tigkat produsen mencapai Rp 7.000 hingga Rp 7.500 per kilogram di tingkat produsen, sementara HPP sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Perberasan no.7/2009 hanya Rp 5.060 per kilogramnya.

Menurut dia, Bulog sudah berusaha merangsang pembelian dengan menaikan harga pembelian sesuai Inpres 8/2011 tentang peningkatan produksi pangan. Beras dengan kualitas medium atau rata-rata dihargai Rp 5.400 per kg. Bulog juga memberikan harga lebih tinggi untuk beras kualitas lebih baik atau beras komersial dengan harga Rp 5.700 per kg.

"Dengan tingginya harga, tentunya petani lebih memilih menjual berasnya ke pasar yang lebih berani membeli dengan harga tinggi. Kami hanya mengandalkan loyalitas mitra Bulog," ujarnya.

Peyerapan beras Bulog saat ini sudah mencapai 42.000 ton atau 40 persen dari target prognosa tahun 2011 yakni 100.000 ton. Namun menurut Taufik, pencapaian pengadaan sebesar itu masih jauh dari target prognosa. Pasalnya, pada panen musim kemarau petani cenderung lebih memilih menimbun beras dan melepasnya dalam jumlah keceil secara bertahap dengan harga tinggi.

Selain itu, ancaman kekeringan yang melanda sekitar 19.000 hektare sawah di Indramayu berpotensi menurunkan produksi beras para petani yang berdampak langsung pada turunnya penyerapan oleh Bulog. Meski sulit mencapai target penyerapan beras 100 persen yakni 100.000 ton, Taufik masih optimistis pengadaan beras bisa mencapai 80 persen dari prognosa.

"Pengadaan masih berjalan terus setiap hari. Selain itu, masih ada harapan dari musim panen gadu, meski kecenderungannya petani memilih menimbun gabah dan juga mungkin ada penurunan produksi karena kekeringan," tutur Taufik.

Dia juga berharap para petani akan melepas stok beras yang disimpannya menjelang masa panen kedua dan ketiga pada Juni dan Oktober mendatang. Kendati pengadaan beras terhambat tingginya harga, Taufik menegaskan stok beras untuk kebutuhan Indramayu terjamin sampai Juni 2012.

"Stok beras aman Indramayu aman sampai Juni 2012. Namun kami juga tetap terus berusaha menyerap beras dari para petani karena Indramayu juga harus menyediakan untuk beberapa wilayah lain seperti Bogor dan Bandung," ujarnya. (A-168/das)***

Customize This