Liburan Seru "PR"-Telkomsel

Telusur Lampegan, Gunung Padang, dan Curug Cikondang

WISATA

MINGGU (03/07) merupakan tanggal yang perlu diingat karena ini adalah kali pertama NGI Forum Regional Bandung hunting ke luar kota. Saat itu kami tidak pergi sendirian karena ditemani teman-teman dari Teknik Sipil UNPAR. Total peserta sekitar 56. Waktu keberangkatan sempat mundur 15 menit dari pukul empat pagi karena ada hambatan mengenai jumlah peserta dan kapasitas mobil.

 lampengan 1

Satu jam dari Bandung ke Cianjur, kami menemui jalan berundak yang penuh bebatuan menuju Gunung Padang dan sekitarnya. Kondisi jalan yang buruk membuat beberapa teman yang menggunakan mobil rendah kesulitan. Mobil sedan tidak direkomendasikan untuk perjalanan ini.

 

Sebelum ke Gunung Padang, kami pergi ke stasiun kereta Lampegan yang dilewati jalur Bandung-Sukabumi. Karena pernah terjadi longsor, stasiun yang dibangun dari tahun 1879 hingga 1882 ini direnovasi pada tahun 2010. Cat yang masih baru dan keadaan stasiun yang bersih membuktikan stasiun ini dirawat dengan baik. Wakil gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, sudah meresmikan stasiun Lampegan sebagai tempat wisata.

 

Setelah hunting foto dan tulisan di stasiun Lampegan, kami berangkat ke Gunung Padang yang letaknya 6 km dari stasiun dengan waktu tempuh sekitar 15 menit menggunakan kendaraan. Di sana sudah ada teman-teman dari NGI Forum Regional Jakarta yang sedari pagi datang untuk mengejar matahari terbit. Namun pagi itu matahari tidak muncul karena cuaca mendung.

 

Sebelum masuk, kami mendapatkan arahan dari Pak Dadi, perwakilan dari pengelola situs megalitikum ini. Ia menjelaskan bahwa situs megalitikum di Gunung Padang dikelola oleh tiga instansi yaitu kabupaten, provinsi, dan DPRD Serang. Selain itu ia mengingatkan agar pengunjung tidak mencoret, tidak memukul-mukul batu, dan membuang sampah pada tempatnya.

 

Empat ratus anak tangga yang berupa susunan bebatuan andesit ini harus kami lalui. Jarak setiap anak tangga cukup jauh sehingga harus mengerahkan banyak tenaga. Dengan nafas tersenggal-senggal,  kami berusaha menaikinya satu persatu hingga puncak. Selama perjalanan, tidak jarang ditemui teman-teman yang duduk atau berhenti sebentar untuk istirahat.

 lampengan 2

Pak Nanang, pemandu situs ini, sudah siap di atas. Ia menjelaskan tentang sejarah keberadaan situs Padang yang mengarah ke barat laut. Situs diduga sebagai tempat peribadatan nenek moyang karena menghadap Gunung Gede sebagai simbol keagungan Tuhan. Bertepatan dengan kiblat, arah dimana kaum muslim juga beribadat.

 

Tidak hanya untuk mendapatkan pengetahuan mengenai situs megalitikum ini, kami melakukan aksi penanaman pohon di sekitar Gunung Padang yang bibitnya sudah dibawa dari Bandung. Pak Nanang memandu kami dimana saja kami harus menanam karena ada beberapa lahan yang sudah tertutup oleh pohon.

 

Setelah makan siang, beberapa dari kami ada yang mencoba mengangkat batu seberat 80 kg. Mitos mengatakan bahwa barang siapa yang dapat mengangkat batu tersebut maka doanya akan dikabulkan. Pak Dani, yang juga seorang pemandu, memberi tahu teknik bagaimana cara mengangkatnya. Namun hasilnya nihil: mayoritas tidak bisa mengangkat—malah terjatuh atau tergencet batu.

 

Curug Cikondang menjadi tujuan selanjutnya. Jalan menuju curug (air terjun) ini cukup jauh. Selain itu, jalannya tidak kalah rusak dibandingkan jalan menuju Gunung Padang. Lagi-lagi mobil yang rendah mengalami kesulitan sehingga harus dipandu harus melintas ke jalan bagian tertentu.

 lampengan 3

Air terjun berundak ini yang cukup tinggi ini banyak dipakai warga untuk main air, mandi, duduk-duduk menikmati keindahan curug dari kejauhan maupun dari dekat. Namun keindahan Curug Cikondang yang menghadap persawahan ini harus dirusak dengan sampah di sekitar air terjun. Juga tempat peristirahatan yang sangat tidak nyaman karena sampah kering dan sampah basah yang bertebaran.

 

Naik dan turun tangga gunung, mendaki dan menuruni bukit, sepertinya harus dibayar dengan pegal-pegal, terutama di daerah paha dan betis. Namun kelelahan yang didapat tidak sebanding dengan kebersamaan dan serunya hunting bersama teman-teman. (Nia Janiar)***

Baca Juga

Menpar, "Sempurnakan Fasilitas Publik"

WISATA

JAKARTA, (PRLM).- Menteri Pariwisata (Menpar) RI, Arief Yahya terus mengingatkan agar objek-objek wisata nasional terus berbenah, menyempurnakan fasilitas publik, sekaligus mengedukasi warganya untuk menjaga alam dan tradisi budayanya.

Konferensi Asia Afrika 2015

Kemenpar Promo Wonderful Indonesia

WISATA

JAKARTA, (PRLM).- Rangkaian kegiatan Side Event Peringatan Konferensi Asia Afrika 19-24 April 2015 nanti ada satu hal yang menarik yaitu program Small Islands Developing States (SIDS) yang akan dilangsungkan pada 21 April di JCC, Senayan Jakarta.

Shire of Montana Tawarkan Hidup Ala Hobbit

WISATA
 SHIRE of Montana, terletak di sebuah lembah terpencil di barat laut Montana.*

MONTANA, (PRLM).- Para penggemar "Lord of the Rings" dan "The Hobbit" yang tidak mampu melakukan perjalanan ke dunia fantasi tersebut, kini bisa menemukan sepotong Middle-earth di perbatasan Amerika.

Kompleks Gedung Budaya Bisa Jadi Daya Tarik Wisata

WISATA

SOREANG, (PRLM).- Bupati Dadang Naser mengatakan, semua pembangunan di area Gedung Budaya Sabilulungan menjadi pelengkap sarana dan fasilitas untuk mendukung budaya dan pariwisata di Kabupaten Bandung.