Harga Gabah Tinggi, Harga Beras pun Melambung

ARIF BUDI K./"PRLM"
ARIF BUDI K./"PRLM"
Pedagang membersihkan beras di Pasar Indramayu, Kab. Indramayu, Selasa (5/7). Tingginya harga gabah memicu lonjakan harga beras di tingkat agen pasar tradisional maupun pengecer di Kabupaten Indramayu dalam sepekan terakhir.*

INDRAMAYU, (PRLM).- Memasuki masa panen musim kemarau, harga gabah di tingkat petani terus naik. Tingginya harga gabah menyebabkan harga beras di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Indramayu melambung dalam sepekan terakhir.

Kenaikan harga tersebut diprediksi akan terus terjadi sampai masa lebaran meski para petani telah memasuki masa panen kedua (kemarau) mendatang. Berdasarkan keterangan beberapa pedagang di Pasar Baru Indramayu, Selasa (5/7), harga beras naik berkisar Rp 500 sampai Rp 1.000 dalam waktu sepekan.

Salah seorang pedagang grosir beras, Hj. Iim mengatakan harga beras kualitas I naik dari Rp 6.200 per kg menjadi Rp 7.000 per kg. "Di tingkat eceran, harga bahkan bisa mencapai Rp 7.500 sampai Rp 8.000 per kg," ujarnya.

Sementara itu beras kualitas II naik dari Rp 6.000 per kg menjadi Rp 6.500 per kg di tingkat pedagang grosir. "Sudah hampir sepekan, harga beras terus naik, bisa setiap hari mengalami kenaikan, sekarang saja naik sampai Rp 1.000," ujar Hj. Iim.

Dia mengatakan, kenaikan harga beras terjadi akibat minimnya pasokan gabah dari petani. Sementara masa panen kedua (kemarau) diprediksi baru akan berlangsung pada Agustus sampai September mendatang. Namun, Iim menjelaskan, masa panen gadu belum pasti akan menekan harga beras di pasaran menjadi kembali turun. Pasalnya, para petani biasanya memilih menyimpan hasil panen gadu dibandingkan menjualnya ke pasaran.

"Malah, bisa jadi harga beras justru akan terus naik karena petani lebih memilih menyimpan stok dan menunggu harga beras melambung tinggi supaya lebih menguntungkan," ujarnya.

Faktor lain kenaikan harga beras menurut Agus, pedagang lainnya, adalah tingginya harga gabah dari petani. Menurut dia, saat ini petani bisa menjula gabah dengan harga mencapai Rp 440.000 per kwintal, naik dari harga sebelumnya yakni Rp 370.000 per kwintal. "Selain itu, beras juga dihargai tinggi di pasaran Jakarta. Akibatnya, harga di pasaran ikut naik karena barometer harga beras adalah Jakarta," ujar Agus.

Dia menambahkan, harga beras cenderung akan tetap tinggi menjelang panen musim kemarau yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Saat musim panen gadu, gabah yang dipanen biasanya lebih kering dan berkualitas lebih bagus dibandingkan panen rendeng. Gabah bisa disimpan untuk waktu yang relatif lama dan petani baru akan melepas saat pasokan beras di pasaran berkurang dan harga melambung.

Kondisi ini otomatis berdampak pada kenaikan harga beras di pasaran. Akibat lainnya, konsumen mengeluh dan makin sulit memenuhi kebutuhan beras, meski tetap harus membeli beras karena merupakan kebutuhan pokok sehari-hari.

Tingginya harga gabah juga diakui Kepala Bulog Sub Divisi Regional Indramayu Sudarsono. Dikatakannya, berdasarkan pemantauan Bulog, harga gabah kering panen berkisar Rp 3.900 sampai Rp 4.000 per kg, jauh di atas harga pembelian Bulog yakni Rp 3.475 per kg. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung cukup lama. "Soalnya panen raya musim gadu diperkirakan pada akhir Juli atau awal Agustus," ujarnya. (A-168/das)***

Komentari di Facebook !
Customize This