Lebih 1.422 Ruang Kelas Sekolah di Kab. Bogor Rusak

PENDIDIKAN
Seorang guru SDN Megamendung 3, Kec. Megamendung, Kab. Bogor menunjukkan bangunan ruang kelas yang rusak akibat bencana longsor awal pekan ini. Sedikitnya 1.422 ruang kelas mulai tingkat SD hingga SMA, baik negeri maupun swasta di wilayah Kabupaten Bogor
KISMI DWI ASTUTI/PRLM
Seorang guru SDN Megamendung 3, Kec. Megamendung, Kab. Bogor menunjukkan bangunan ruang kelas yang rusak akibat bencana longsor awal pekan ini. Sedikitnya 1.422 ruang kelas mulai tingkat SD hingga SMA, baik negeri maupun swasta di wilayah Kabupaten Bogor mengalami kerusakan dan belum bisa diperbaiki secara serentak karena keterbatasan anggaran.*

BOGOR, (PRLM).- Sedikitnya 1.422 ruang kelas mulai tingkat SD hingga SMA, baik negeri maupun swasta di wilayah Kabupaten Bogor mengalami kerusakan. Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor belum mendapat laporan secara keseluruhan, jumlah sekolah yang rusak akibat bencana, seperti kebakaran, atau longsor.

Demikian dikatakan Humas Disdik Kab. Bogor, Rony Kusmaya, Kamis (12/5). Lebih lanjut dijelaskan Rony, sebagian besar kerusakan terjadi pada ruang kelas SD yakni sekitar 1.285 ruang kelas dari jumlah keseluruhan 1.688 SD yang ada. "Sisanya ruang kelas SMP, SMA dan SMK," kata Rony. Ditambahkan Rony, hampir setiap tahun Disdik Kab. Bogor selalu mengucurkan dana untuk perbaikan sekolah yang rusak tersebut. Hanya saja, jumlah dana yang digunakan untuk memperbaiki sekolah yang rusak tidak sebanding dengan jumlah ruangan sekolah yang rusak.

"Dana yang kita kucurkan sudah miliaran, bahkan triliunan rupiah. Namun, sampai saat ini, dana itu belum mencukupi untuk perbaikan seluruh ruangan kelas. Sebab, dana yang ada tidak hanya untuk perbaikan ruangan kelas, tetapi juga perbaikan sarana, prasarana, serta mutu pendidikan," tutur Rony. Terlebih, kerusakan ruang kelas merata hampir di seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kab. Bogor sehingga perbaikan tidak bisa dilakukan serentak.

Saat ini, nilai anggaran Disdik pada APBD tahun 2011 mencapai Rp 1,2 triliun. Namun, semua itu bukan untuk pembangunan ruang kelas, melainkan dana keseluruhan, baik belanja tidak langsung maupun belanja langsung. Nilai anggaran untuk pembangunan dan perbaikan SD dan SMP di seluruh wilayah Kab. Bogor hanya sekitar Rp 149 miliar. Dikatakan Rony, dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menjamin perbaikan seluruh ruang kelas yang rusak. "Bahkan dengan nilai keseluruhan APBD yang ada sekarang pun tidak akan mencukupi perbaikan ruangan kelas yang rusak," lanjutnya.

Mengingat besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk perbaikan sekolah, maka pihaknya pun berusaha menggandeng sejumlah perusahaan untuk menjaring program corporate social responsibility (CSR). "Salah satu upaya yang sedang dilakukan adalah menggandeng para pengusaha. Tapi itu baru sebagian," katanya.

Akibat perbaikan yang tidak bisa merata ke seluruh sekolah, ada beberapa sekolah yang terpaksa menggunakan ruangan yang rusak dan rawan roboh untuk kegiatan belajar mengajar, seperti di SDN Megamendung 3, SDN Tenjo 2, serta SDN 5 Cisarua. Bahkan, sebagian dari murid SD di sekolah yang rusak itu terpaksa melakukan kegiatan belajar mengajar di emperan sekolah karena kondisi ruangan kelas mereka yang mengkhawatirkan. Tidak sedikit pula sekolah yang terpaksa membubarkan muridnya saat hujan turun karena takut keselamatan murid di bangunan SD tidak terjamin.

Bahkan, saat ujian pun sebagian murid terpaksa menumpang di sekolah lain. Hanya saja, beberapa guru di sejumlah sekolah yang rusak sering mempertanyakan proposal soal permintaan bantuan yang mereka kirimkan tidak pernah direspon, sementara sekolah lain yang kondisinya lebih baik malah mendapatkan bantuan pembangunan sejumlah gedung dan bangunan baru.

Secara keseluruhan, Kabupaten Bogor memiliki 3.047 sekolah negeri dan swasta dari beragam jenjang pendidikan di 40 kecamatan, meliputi 557 Taman Kanak-Kanak (TK) dengan jumlah satu TK negeri dan 556 TK swasta. Kemudian 1.688 SD dengan komposisi 1550 negeri dan 138 swasta, 470 SMP yang terbagi atas 103 SMP negeri dan 367 swasta. Serta 154 SMA terdiri dari 35 negeri dan 119 swasta, serta 178 SMK yang terdiri dari lima negeri dan 173 swasta. (A-155/das)***

Baca Juga

KPK Beri Penghargaan Kepada Siswa Jujur

PENDIDIKAN

YOGYAKARTA, (PRLM).- Pauline Arifin, staf bagian Fungsional Pendidikan pada Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK mendatangi sekolah SMA Negeri 3 Yogyakarta.

‎"Lambang Swara" Akan Memperkuat Mulok Seni Sunda

PENDIDIKAN
KEPALA Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jabar Asep Hilman (kiri) menyerahkan secara simbolis buku "Lambang Swara" karya Atang Warsita kepada para tokoh Sunda dan pemerhati Seni Karawitan dan pendidikan. Penyair Etti RS salah satunya penerima buku tersebut.*

BANDUNG, (PRLM).- "Lambang Swara" dipastikan akan menjadi bahan masukan untuk memperkuat materi bahan pelajaran muatan lokal (mulok) seni Sunda di sekolah.

Siswa SMKN Penerbangan Laporkan Tindak Kekerasan

PENDIDIKAN
KAPOLRES  Majalengka Ajun Komisaris Besar Yudhi Sulistianto Wahid sedang memberikan penjelasan soal pelarangan tindakan aksi kekerasan terhadap tiga orang siswa SMK Negeri Penerbangan, Kertajati yang mendapatkan aksi kekerasan dari seniornya ketika melapo

MAJALENGKA,(PRLM).- Tiga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Penerbangan Kertajati, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka diduga dianiaya seniornya hingga mengalami luka lecet, satu di antaranya sempat jatuh pingsan.

Masuk Sekolah di Purwakarta Pakai Salam Sunda

PENDIDIKAN
Masuk Sekolah di Purwakarta Pakai Salam Sunda

PURWAKARTA, (PRLM).-Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi meminta siswa sekolah di Purwakarta akan mempunyai salam baru, yaitu salam sunda.

Saat siswa ketika masuk ke kelas diharapkan siswa mengucapkan sampurasun, dan gurunya membalas dengan ucapan rampes.