Headlines

Pabrik Tapioka di Bogor Kesulitan Bahan Baku

KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"
KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"
Seorang pekerja sedang menyaring hasil penggilingan singkong untuk diolah menjadi tepung tapioka di Desa Pasir Jambu, Kec. Sukaraja, Kabupaten Bogor. Sejumlah pabrik pengolahan singkong menjadi tapioka mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku singkong dari wilayah Bogor karena harga mahal dan jarangnya pasokan.*

BOGOR, (PRLM).-Sejumlah pabrik pengolahan singkong menjadi tepung tapioka di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor mengaku kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku singkong. Kalau pun ada, harga singkong yang masuk ke pabrik mereka mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan dengan jumlah pasokan yang relatif jauh lebih kecil dibandingkan pasokan normalnya.

Akibatnya, sejumlah pabrik terpaksa menurunkan produksi tepung tapioka mereka hingga lebih dari 50 persen dibandingkan masa normal.

Salah seorang pemilik pengolahan singkong menjadi tepung tapioka di Desa Pasir Jambu, Kec. Sukaraja, Kab. Bogor, Bobby (35) yang ditemui "PRLM" Sabtu (2/4) mengatakan sudah beberapa bulan terakhir ini pasokan singkong ke pabriknyaa menurun hingga lima puluh persen. "Kalaupun ada harganya sekarang naik jadi sekitar Rp 1.400 per kilogram singkong kupas. Padahal, harga normal hanya sekitar Rp 800 hingga Rp 900 per kilogram singkong kupas," kata Bobby.

Selain kenaikan harga singkong, jumlah pasokannya juga menurun dibandingkan hari biasa. Jika biasanya ada sekitar satu hingga dua ton singkong yang dipasok untuk diolah menjadi tepung tapioka, saat ini pasokan yang ada paling banyak hanya 7,5 kuintal singkong. "Enggak sampai satu ton, itupun sudah susah nyarinya. Bukan dari daerah Bogor dapat pasokannya. Malah dari daerah Sukabumi," lanjut Bobby.

Akibatnya, Booby terpaksa menurunkan produksi tepung tapiokanya dari dua ton per hari menjadi maksimal satu ton tepung tapioka per hari.

Padahal, dengan naiknya harga singkong yang dipasok ke pabriknya, Bobby mengaku tidak bisa menaikkan harga jual tepung tapioka untuk para konsumennya. "Ya, rugi-rugi dikitlah. Yang penting pegawai bisa kita kasih makan," tuturnya.

Menurut dia, di Desa Pasir Jambu ini, ada sekitar sepuluh orang yang juga memiliki pabrik pengolahan singkong menjadi tepung tapioka dengan sistem yang masih tradisional.

Hal yang sama juga dikeluhkan para pelaku usaha pengolahan singkong menjadi tepung tapioka di wilayah Cipambuan, Babakan Madang, Kab. Bogor, Encep (40).

Menurut dia, sudah sejak dua tahun lalu, pasokan singkong ke pabriknya terus mengalami penurunan. "Dua tahun yang lalu, setiap pabrik bisa menghabiskan hingga 30 ton singkong per hari. Sekarang, paling banyak delapan hingga sepuluh ton singkong per hari. Itupun dipasok dari luar Bogor semua," kata Encep.

Sulitnya pasokan singkong ini, kata Encep salah satunya karena semakin minimnya lahan yang bisa digunakan petani singkong untuk menanam singkong.

Menurut dia, sebagian besar lahan sudah dibeli oleh pabrik maupun pengembang sehingga tidak bisa lagi ditanami singkong. "Banyak yang dibeli pabrik dan sekarang ditanami pohon yang dimanfaatkan kayunya, seperti jati atau mahoni sehingga lahan singkong makin menyusut," lanjut Encep.

Oleh karena itu, singkong yang diolah di daerah Cipambuan pun sebagian besar dipasok dari daerah Jampang dan Surade Kabupaten Sukabumi saja. "Harapannya, pasokan singkong bisa banyak lagi dengan harga yang relatif murah dan dari berbagai daerah. Ya, kayak beberapa tahun yang lalu," ujarnya. (A-155/kur)***

Komentari di Facebook !