Pasar Kerbau Padakembang Tutup

Permintaan Sapi dan Kerbau Sepi

EKONOMI
Pedagang sapi dan kerbau menjual ternaknya di pasar induk  hewan Manonjaya, Kab. Tasikmalaya.*
UNDANG SUDRAJAT/PRLM
Pedagang sapi dan kerbau menjual ternaknya di pasar induk hewan Manonjaya, Kab. Tasikmalaya.*

TASIKMALAYA, (PRLM).- Puluhan (Bandar) pedagang sapi dan kerbau yang biasa menjual ternaknya di pasar induk hewan Manonjaya, Kab. Tasikmalaya, mengeluh, karena permintaan pembelian sapi dan kerbau belakangan ini menurun. Belum bisa dipastikan penurunan pembelian sapi ini apakah diakibatkan daya beli berkurang, atau masalah lain. "Sudah sebulan ini penjualan sapi terus turun, tetapi pastinya karena masalah apa, belum jelas" kata Ajat Sudrajat, bandar sapi ketika ditemui di pasar hewan Manonjaya, Rabu (23/3).

Pasar hewan Manonjaya merupakan pasar hewan terbesar di Priangan. Pasar tersebut digelar setiap hari Rabu. Rata-rata jumlah sapi yang dijual atau ditawarkan setiap hari bukaan pasar mencapai 250 sampai 500 ekor. Sedangkan kerbaunya rata-rata lima puluh sampai seratus ekor.

Bandar sapi yang masuk ke pasar hewan itu, tidak hanya dari Tasikmalaya, tetapi juga dari Garut, Ciamis, Pangandaran, Kuningan, Sumedang dan Banjar. Puluhan bandar sapi dan kerbau berbaur di pasar hewan seluas dua ha itu.

Ajat datang ke pasar hewan membawa 13 ekor sapi yang akan dijual, tetapi hingga siang hari, hanya tiga ekor yang bisa dilepas. "Susah sekali untuk menjualnya.Padahal, kalau beberapa bulan ke belakang, banyak sekali pembeli," katanya.

Sedangkan bandar sapi lainnya Oleh (45) hanya mampu menjual satu ekor sapi potong dari lima ekor yang dibawa ke pasar hewan. Jaenudin dari tiga ekor hewan yang dibawa, hanya satu ekor yang juga terjual. "Sekarang memang sulit untuk menjual sapi, terutama sapi lokal, karena ditawar murah sekali. Sekarang banyak sapi dari Jawa Timur yang dijual murah. Hal itu merusak harga pasar sapi lokal," kata Jaenudin.

Bandar sapi lainnya Aep asal Gunungtanjung, Manonjaya sedikit beruntung, karena dari enam belas ekor sapi yang dibawah, bisa terjual sembilan ekor. Padahal, biasanya Aep sering mampu menjual habis setiap sapi yang dibawanya. "Tetapi saya bersyukur sudah lumayan ada yang terjual," katanya.

Sampai pukul 12.00 WIB, data dari petugas pencatat penjualan Maman Lukman jumlah sapi terjual hanya 34 ekor. Menurut Maman tingkat penjualan sapi sedang sepi, kemungkinan karena pembelinya berkurang.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pasar Hewan Manonjaya, Kab. Tasikmalaya Edi Abdul mengatakan, secara umum memang belakangan ada penurunan penjualan sapi maupun kerbau. Tetapi, dia berharap penurunan itu tidak permanen, hanya sementara saja.

Sejumlah pembeli dari Medan, Palembang, Lampung, Banten memang tidak terlihat di pasar hewan. Padahal, kalau pembeli dari luar Jabar masuk, biasanya sering mendongkrak penjualan. "Seperti Rabu tadi, ada pembeli dari Jambi yang memborong 30 ekor sapi, sehingga mendongkrak angka penjualan," Kata Edi.

Sementara itu, pasar kerbau di Padakembang, Kab. Tasikmalaya, kata Edi tutup, karena para pedagangnya mulai sepi. Terlebih lagi, banyak pembeli daging kerbau beralih ke daging sapi impor. "Dulu ketika bandar kerbau Pa Haji Ojen masih kuat, penjualan kerbau di pasar padakembang, ramai. Setelah dia tidak berjualan, sekarang diikuti yang lainnya. Sehingga pasar sepi, lalu tutup. Sekarang sebagian beralih keManonjaya. Pasar kerbau manonjaya sendiri sudah puluhan tahun lalu hadir. Sempat pindah ke Cibereum, tetapi sekarang balik lagi," katanya.

Jika pasar sedang ramai, omzet penjualan sapi bisa miliaran rupiah. Rata-rata sapi dijual dari harga Rp 4 juta sampai Rp 10 juta/ekornya. Sedangkan harga kerbau juga tidak jauh berbeda dengan sapi. (A-97/das)***

Baca Juga

Rupiah Melemah, Perajin Serat Alam dan Bambu Justru Raup Untung

EKONOMI
PERAJIN serat alam di Kecamatan Tanggulangin, Kulonprogo, Yogyakarta sedang menganyam kerajinan mereka. Naiknya nilai tukar dollar terhadap rupiah dinilai menguntungkan eksportir kerajinan bambu di Cebongan Kidul, Tlogoadi, Mlati, Sleman dan pengrajin ser

YOGYAKARTA, (PRLM).- Naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah dinilai menguntungkan eksportir kerajinan bambu di Cebongan Kidul, Tlogoadi, Mlati, Sleman dan perajin serat alam di Tanggulangin, Kulonprogo, Yogyakarta.

Harga Gabah dan Beras Naik Pada Agustus

EKONOMI

BANDUNG, (PRLM).- Harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani Jawa Barat bulan Agustus 2015 naik 6,06 persen dari Rp 4.619 menjadi Rp 4.899 per kilogram. Harga GKP terendah Rp 3.725 terjadi di Kabupaten Bogor, sedangkan tertinggi Rp 5.900 dijumpai di Kabupaten Indramayu.

Pemerintah Perketat Impor Jagung Demi Produsen Lokal

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- Pemerintah Indonesia berhenti mengeluarkan izin impor jagung yang digunakan di pabrik pakan ternak, dan sedang berupaya meluncurkan aturan yang hanya akan membolehkan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk mengimpor jagung mulai tahun depan.

Perizinan tidak Sinergi Penyebab Dwelling Time Lambat

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- Ketua Asosiasi Logistik dan Forwader Indonesia, Widjiyanto menilai wajar jika akhir-akhir ini masalah lambatnya dwelling time di Indonesia semakin menjadi sorotan karena maraknya oknum yang menyalahgunakan proses dwelling time sudah lama terjadi dan harus segera dibenahi.