Rabu, 19 Jun, 2013

SMA Se-Bandung Pentaskan Ciung Wanara

RETNO HY/"PRLM"
RETNO HY/"PRLM"
SALAH satu adegan Teater Musikal Kolosal The Legend of West Java “Ciung Wanara” diikuti tujuh puluh lebi siswa siswi SMU Se Kota Bandung bertempat di gedung Kesenian Rumentangsiang Jalan Baranangsiang, Kosambi Bandung, direncanakan akan digelar selama tiga puluh hari berturut-turut.*

BANDUNG,(PRLM).- Sebanyak 75 siswa sejumlah SMU di Kota Bandung bergabung mementaskan Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”. Pegelaran yang direncanakan selama tiga puluh hari berturut-turut akan digelar di Gedung Kesenian Rumentangsiang dan Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

“Terus terang, pegelaran yang diprakarsai AAP (Anka Adika Production) ini bukan untuk mengulangi sukses ‘Surabi Bandung’ (Namaku Bukan Juliet) yang juga dipentaskan selama dua puluh hari dan ditonton lebih dari 30.000 orang.

Pegelaran kali ini murni sebagai bentuk apresiasi, kreasi serta ekspresi anak-anak sekolah yang ingin mengembangkan kemampuan mereka dalam berkesenian,” ujar Anton Justian Jr, seusai pegelaran perdana Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, bertempat di Gedung Kesenian Rumentangsiang, Jalan Baranangsiang 1, Kosambi, Bandung.

Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, setiap harinya digelar setiap pukul 15.00 WIB. Di GK Rumentangsiang, Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, tampil mulai tanggal 2 hingga 20 Maret dan disambung pada tanggal 9 hingga 14 Mei, kemudian di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, akan dipegelarkan pada 24 hingga 27 Mei mendatang.

Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, tidak jauh berbeda dengan cerita legenda sebenarnya. Hanya dialog dan cara membawakan yang rada ngepop layaknya teater anak muda.

Diceritakan, Prabu Barma Wijaya Kusuma, Raja Galuh memiliki permaisuri bernama Pohaci Naganingrum dan Dewi Pangrenyep yang tengah mengandung. Dewi Pangrenyep melahirkan lebih awal seorang putra dan diberi nama Hariang Banga.

Saat Hariang Banga berusia 3 bulan, Dewi Pangtenyep khawatir rasa Cinta Prabu Barna Wijaya Kusuma berpaling ke putra Dewi Pohaci. Karenanya begitu Dewi Pohaci melahirkan bayinya diganti dengan anak seekor anjing, sementara bayi aslinya dimasukan dalam kandaga emas berikut sebutir telur dan dihanyutkan ke Sungai Citandui, dan sang bayi dipelihara hingga dewasa oleh Aki dan Nini Balangantrang di Desa Geger Sunten.

Anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ciung Wanara senantiasa membawa ayam jantannya untuk diadukan. Akhir cerita terkuak siapa sebenarnya Ciung Wanara, saat ayam jantan milik Ciung Wanara mengalahkan ayam jantan Raja Galuh. (A-87/A-26).***

tah kitu simkuring nyakseni

Anonymous's picture

tah kitu simkuring nyakseni tawa satuju pisan teu mopohokeun seni buda lokal teh sabab rek kusaha dui atuh di mumulena tawa di lestarikeunna iwal ti ku urang sadaya

alahhhh... uing telat euy

Anonymous's picture

alahhhh... uing telat euy maca koran na... :(

alhamdulliah, saya juga salah

Anonymous's picture

alhamdulliah, saya juga salah satu yang sudah menonton teater musikal ini.
sangat menarik dan di bawakan dengan sukses.

Alhamdulillah, semoga kaum

Anonymous's picture

Alhamdulillah, semoga kaum muda Jawa Barat bisa menggali lebih dalam tentang sejarah dan budaya Sunda, karena dalam muatan pelajaran sejarah di sekolah, sejarah tatar Sunda terabaikan.

Post new comment

Konten ini di bersifat pribadi dan tidak akan diperlihatkan kepada publik If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Alamat Web dan e-mail otomatis menjadi link.
  • HTML Tag yang diijinkan: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragrap akan di break otomatis.
  • Filtered words will be replaced with the filtered version of the word.

Informasi lanjutan tentang opsi format HTML yang berlaku.

CAPTCHA
.

KOMENTAR