Petani Tembakau Minta Pemkab Cirebon Salurkan Dana Bagi Hasil Cukai

SUMBER, (PRLM).- Para petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kab. Cirebon meminta agar pemkab setempat segera menyalurkan dana bagi hasil cukai (DBHC) yang mengendap sejak tahun 2009 dengan nilai miliaran rupiah. "Kalau sampai pertengahan 2011 nanti tidak direalisasikan, para petani terpaksa melakukan aksi untuk menuntut haknya," kata Ketua DPD APTI, Khaerudin di sela-sela musyawarah kerja daerah (Mukerda) V APTI Jawa Barat di Hotel Apita, Cirebon, Minggu (13/2).

Menurut dia, selama ini, alasan pemkab tidak mencairkan dana tersebut karena merasa ada tekanan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM). Namun, sebetulnya jika penyaluran dana sesuai aturan kenapa harus takut pada LSM.

Disebutkan, dana DBHC untuk tahun 2008 Kab. Cirebon mendapatkan sekitar Rp 117 juta, 2009 hingga mencapai Rp 3 miliar dan 2010 menerima Rp 1,4 miliar. "Namun, amat disayangkan, anggaran yang terserap pada setiap nilai tersebut hanya sekitar 10 persen saja, padahal, dalam PeraturanMenteri Keuangan No 20 tahun 2009 anggaran itu untuk lima progam," katanya.

Kelima program tersebut, perbaikan budidaya tembakau, industri, lingkungan sosial, pemberantasan cukai ilegal dan peningkatan derajat kesehatan. Tetapi, karena rasa ketakutan itu penyerapan dari nilai dana hanya 10 persen hingga petani tembakau yang paling dirugikan.

Diakuinya, sampai sekarang belum merasakan adanya sosialisasi dan pembinaan untuk meningkatkan sumber daya manusia serta kualitas produksi. Pembatasan anggaran juga membuat petani tembakau khususnya di Desa Hulubanteng, Kec. Pabuaraan merana. Karena harus bertahan di tengah persaingan kualitas cengkeh di antara daerah lain, bahkan, impor dari Singapura hingga nilai jual rendah.

Dikatakan, pada 2011 Pemkab Cirebon akan menerima lagi DBHC sekitar Rp 1,5 miliar. APTI meminta jangan sampai kejadian sebelumnya terulang lagi di mana dana dari pusat sudah cair namun, tidak disalurkan lagi.
Sementara itu Ketua Apti Jabar, H Suryana mengatakan, apa yang akan dilakukan APTI Kab Cirebon itu sebagai bentuk protes yang wajar, mengingat dana DBHC nilainya mencapai miliaran rupiah, namun ironisnya, belum bisa dirasakan masyarakat petani tembakau se-Jabar. (A-146/C-12/A-88)***

Baca Juga

#KlipingPR Mengintip Harga TV Berwarna Tahun 1980

26 Maret 1980. Tahun 1980-an adalah awal masa keemasan untuk televisi berwarna di rumah-rumah. Saat itu, televisi berwarna adalah simbol kemewahan bagi sebuah keluarga di tengah lingkungannya.

Soal Kasus Pemalsuan Bilyet, BTN Patuhi Proses Hukum

JAKARTA, (PR).- Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Maryono menegaskan, operasional perseroan sampai saat ini berjalan lancar. Masyarakat masih tetap dapat melakukan transaksi seperti biasa di kantor cabang Bank BTN seluruh Indonesia.

Tingkatkan Serapan, Bulog Jabar Tampung Gabah Kualitas Rendah

BANDUNG, (PR).- Untuk meningkatkan serapan, pemerintah pun telah meminta Perum Bulog untuk menyerap gabah kualitas rendah yang mengandung kadar air tinggi 25%-30% dengan harga Rp 3.700 per kg sesuai dengan peraturan pemerintah.

Raja FO Bidik Wisata Halal

BANDUNG, (PR).- Chief Executive Officer (CEO) Perisai Group, Perry Tristianto, yang dikenal sebagai Raja Factory Outlet (FO) membidik pasar wisata halal.