Headlines

Shaolin Punya 40 Perusahaan di Luar Negeri

BEIJING, 10/1 (AFP) - Kuil Shaolin yang terkenal di China membentuk lebih dari 40 perusahaan di luar negeri dengan harapan agar dapat menyebarkan ilmu bela diri Buddha di seluruh dunia, menurut laporan sebuah media negara tersebut.

Namun pengumuman tentang rencana bisnis besar untuk mengirimkan biksu petarung kuil terkenal itu ke luar negeri menuai protes karena dianggap sebagai komersialisasi agama Buddha, menurut Global Times.

"Saat ini kita menjalankan lebih dari 40 perusahaan di kota-kota di seluruh dunia, seperti Berlin dan London," tulis koran yang mengutip pernyataan seorang biarawan kepala kuil itu, Shi Yonxin, dalam sebuah kesempatan di forum kebudayaan Beijing.

"Kuil Shaolin turut menjalankan beberapa perusahaan terkait industri yang sama, perusahaan-perusahaan itu juga telah membeli sejumlah properti dan lahan di luar negeri," katanya.

Shi, biksu China pertama yang meraih gelar master dalam administrasi bisnis, membantah bahwa bisnis Shaolin bertujuan untuk mencari keuntungan, ia bersikeras bahwa kuil itu memenuhi kekaguman internasional terhadap "budaya Shaolin", tulis koran itu.

Kuil yang didirikan pada tahun 495 masehi, dikenal sebagai tempat lahirnya Buddhaisme Zen dan seni kungfu China.

Para biksu petarung Shaolin memiliki reputasi sebagai legenda di seluruh benua Asia, melalui film dan televisi yang menyebarkan reputasi mereka di seluruh dunia selama 50 tahun terakhir.

Selain mengajarkan ilmu bela diri di seluruh dunia, pusat kegiatan Shaolin juga melakukan kegiatan lokakarya meditasi Zen dan pengajaran bahasa Mandarin, kata Shi.

Shi, yang dikenal sebagai CEO Shaolin sejak memimpin Shaolin satu dekade lalu, telah mengembangkan usaha komersial seperti pertunjukan kungfu, produksi film dan penjualan suvenir dalam jaringan (online).

Tahun lalu ia membantah rencana kuil untuk ambil bagian dalam penawaran publik dengan sebuah perusahaan perjalanan Hong Kong, sementara Beijing menolak pengajuan hak merek Shaolin untuk barang konsumen seperti mie instan.

Upaya bisnis Shi itu telah dikritik luas karena dicap sebagai percobaan untuk mengkomersialisasi agama Buddha, menurut laporan itu.

"Bagi kebanyakan orang, sebuah kuil adalah tempat yang terpisah dengan dunia materi, namun ketika seorang biksu sperti Shi sering berpergian dengan pesawat untuk mempromosikan bisnisnya, masyarakat sekuler tidak dapat menerimanya," tulis koran itu dalam editorial.

"Meskipun penyebaran ajaran merupakan konsep tradisional dalam seluruh agama, usaha bisnis Shaolin ke luar negeri juga membantu China dalam menyebarkan budaya dan pemikiran tradisionalnya, serta membangun pemahaman yang lebih di kalangan masyarakat," tulisnya. (A-26/voa).***