Pemantauan Burung Pelatuk dari Satelit

IDAHO, (PRLM).- Para ilmuwan AS mengembangkan teknik untuk memantau burung pelatuk dari angkasa. Satu tim Universitas Idaho menggunakan laser yang dibawa satelit untuk mencoba memperkirakan di bagian mana di hutan satu negara bagian burung itu mungkin hidup.

Alat ini tidak bisa melihat burung itu maupun pohon-pohon secara individual, namun bisa menentukan ciri-ciri hutan, seperti selebat apa hutan tersebut.

Pekerjaan awal menunjukkan bahwa peta-peta yang dibangun dari data semacam itu bisa menunjukkan kawasan-kawasan yang disukai oleh burung pelatuk

Para ilmuwan itu ingin mengetahui di mana burung ini berada karena mereka dianggap sebagai indikator bagus tentang keberagaman burung di hutan.

"Mereka membuatkan sarang untuk banyak spesies lain di hutan," kata Dr Kerri Vierling dari jurusan ikan dan satwa liar, Universitas Idaho.

"Mereka membuat lubang dan kemudian lubang-lubang itu digunakan oleh spesies lain untuk bersarang. "Burung pelatuk sangat peka terhadap ciri hutan, dan mereka sangat selektif memilih tempat untuk bermukim," ujar Dr Kerri, yang dikutip “BBC”.

Riset Idaho itu dipaparkan di San Francisco dalam pertemuan Himpunan Geofisika Amerika (AGU), yang merupakan perhelatan terbesar tahunan ilmuwan Bumi dan planet.

Tim itu mempelajari 20.000 hektar hutan di bagian utara negara bagian Idaho di sekitar Pegunungan Moskow.

Mereka menggunakan data yang direkam altimeter laser yang diterbangkan dengan pesawat Icesat NASA sebelum berhenti beroperasi bulan Agustus 2010.
Icesat akan diganti

Icesat yang semula digunakan untuk mengukur ketinggian permukaan es di kawasan kutub, juga sangat berguna untuk mengumpulkan informasi mengenai hutan atau belukar hijau di bagian-bagian lain dunia.

Alat ini memancar sinar ke bawah oleh laser kemudian memantul ke daun-daun, cabang-cabang pohon dan tanah, sehingga dimungkinkan untuk membuat kesimpulan umum tentang ciri-ciri penting hutan.

"Dan kami mendapatkan kelebatan hutan dengan melihat jumlah cahaya yang terpantul dari dedaunan dibandingkan dengan yang terpantul dari tanah. Jadi, dengan melihat kawasan yang memiliki pohon-pohon yang paling tinggi, kami tahu di situ ada pohon-pohon terbesar, dan besar kemungkinan burung pelatuk ada di sana," katanya.

Dr Lee Vieling dari jurusan ekologi hutan biogeosains Universitas Idaho menambahkan, "Ada satu spesies yang memerlukan hutan lebat. Itulah burung pelatuk. Burung ini sangat cantik dengan mahkota merah di kepalanya. Dia itu seperti tukang kayu, jadi semakin lebat hutannya semakin bagus bagi burung ini," tambahnya. (A-147)***

Baca Juga

Jokowi: Semua Negara Harus Hormati Hukum Internasional

JAKARTA,(PR).- Presiden RI Joko Widodo mengatakan Indonesia tidak ingin Asia menjadi kawasan penuh konflik dan proyeksi kekuatan negara-negara besar. Menurutnya, semua negara harus menghormati hukum internasional.

Pemerintah Jepang Siapkan Penyelamatan Warganya

TOKYO, (PR).- Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida, Senin, 30 Mei 2016, mengatakan bahwa hasil analisis pakar komputer menunjukkan bahwa foto terbaru Yasuda yang muncul di internet pada 29 Mei 2016 lalu adalah 100 persen foto terbaru sang jurnalis.

Manusia Bisa Tinggal di Koloni Antariksa pada 2100

CALIFORNIA, (PR).- Empat puluh tahun yang lalu, NASA merilis gambar yang indah dari potensi koloni di ruang angkasa, gambar tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2100, kita bisa memiliki habitat yang besar mengambang di sekitar planet Bumi ini.

Aplikasi Ponsel Baru Bantu Anak-anak Suriah

OSLO, (PR).- Perang saudara selama lima tahun terakhir telah menewaskan sekitar 250.000 sampai lebih dari 470.000 orang, menurut Pusat Riset Kebijakan Suriah.

Selain itu, lebih dari empat juta anak-anak Suriah tidak dapat bersekolah akibat perang.