Headlines

Masyarakat Bekasi Nyatakan Depot Air Minum Isi Ulang tidak Aman

BEKASI, (PRLM).- Sekitar 64,4% masyarakat Kota Bekasi menyatakan depot air minum isi ulang tidak aman untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, masih banyak masyarakat Kota Bekasi yang bergantung pada ketersediaan air dari sumur bor dibandingkan air dari depot isi ulang.

Persepsi ini didapatkan berdasarkan hasil survei kelompok kerja (Pokja) Strategi Sanitasi Kota (SSK) Pemkot Bekasi dan environmental health risk assessment (EHRA) pada pertengahan tahun 2010 ini.

Anggota Pokja SSK Dwi Puji Astuti, Rabu (24/11) mengatakan sejak Juni-Juli 2010 lalu, pihaknya bersama dengan EHRA telah melakukan survey secara acak di 2.240 rumah tangga Kota Bekasi. Setiap satu kelurahan, pihaknya mengambil sekitar 40 rumah tangga. "Survei ini sebenarnya hanya ingin mengetahui sarana air minum yang digunakan masyarakat Kota Bekasi," kata Dwi.

Dari hasil survei ini diketahui sekitar 9 persen masyarakat menggunakan air PDAM, 36 persen menggunakan air sumur bor. Sementara masyarakat yang menggunakan air munum isi ulang di depot hanya 28,4 persen, sisanya yakni 22,4 persen menggunakan air minum dalam kemasan. Meski hasil survei menunjukkan banyak masyarakat yang telah beralih ke air isi ulang depot maupun kemasan, tim survei menemukan bahwa sekitar 64,4 persen masyarakat tahu konsumsi air minum melalui depot air minum isi ulang dan air sumur bor sangat tidak layak konsumsi.

"Karena harga air minum depot isi ulang sangat murah, maka tetap menjadi pilihan terakhir. Sebab, di pusat kota sumur bor tidak begitu banyak. Sementara mengandalkan air PDAM tidak mungkin karena pasokannya kadang mengecewakan," kata Dwi lebih lanjut.

Meski demikian, masyarakat diminta untuk tetap waspada menggunakan air sumur bor. Sebab, tidak sedikit air yang berasal dari sumur bor pun berdasarkan penelitian mengandung coliform (bakteri indicator sanitasi). Sebab, latar belakang survei ini adalah adanya hasil penelitian yang menyebutkan air di Kota Bekasi tidak aman untuk kesehatan. Bahkan, sejumlah penelitian menyebutkan air di Kota Bekasi mengandung bakteri coliform dan logam.

Ke depan, lanjut Dwi, Pokja SSK lewat Dinas Kesehatan akan mengoptimalkan pengawasan depot air minum melalui Puskesmas yang ada di Kota Bekasi. Hal ini dilakukan untuk memberi rasa aman bagi masyarakat yang mengkonsumsi air minum isi ulang.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Retni Yonthi yang dikonfirmasi mengatakan pihaknya sempat melakukan uji sampel air di sejumlah depot isi ulang di Kota Bekasi pada tahun 2009 lalu. Namun, hasil pengujian menunjukkan air minum isi ulang di depot di Kota Bekasi masih aman dikonsumsi. Terlebih, untuk kota besar seperti Kota Bekasi sangat tidak mungkin hanya mengandalkan air sumur bor. Sementara, pasokan PDAM belum sepenuhnya merata. Akhirnya, salah satu solusi masyarakat mau tidak mau harus menggunakan air isi ulang dari depot yang ada.

Lebih lanjut Retni mengatakan, beberapa penyebab air minum isi ulang tidak layak konsumsi misalnya karena tidak adanya pengawasan yang ketat dari petugas kesehatan terkait keberadaan air minum isi ulang tersebut. Selain itu, perlu juga diwaspadai, harga murah air minum isi ulang dicurigai membuat pengelolaan dan filter dari air minum tersebut bisa dimanipulasi.

"Kami sudah melakukan pengawasan semampu kami. Untuk saat ini, apalagi berdasarkan uji sampel pada tahun 2009 lalu, air minum isi ulang masih aman dikonsumsi," tuturnya. Pihaknya juga berjanji akan terus melakukan pengawasan terhadap sekitar 560 depot air minum isi ulang yang ada di Kota Bekasi. (A-155/kur)***

Customize This