Headlines

Merapi Meletus karena Mengawini Gunung Ciremai?

TOTO SANTOSA/"PRLM"
TOTO SANTOSA/"PRLM"
MELETUSNYA Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DIY yang ditandai dengan menyemburkan awan panas, tidak berpengaruh terhadap aktivitas Gunung Ciremai di Kab. Kuningan.*

KUNINGAN, (PRLM).- Hanyalah mitos meletusnya Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DIY yang ditandai dengan menyemburkan awan panas sejak Selasa (26/10)l, karena kawin dengan Gunung Ciremai di Kab.Kuningan, sehingga menyebabkan suhu udara di Kuningan menjadi ekstrem antara 26-32 derajat Celcius.

“Ah itu hanyalah mitos kalau ada masyarakat yang menyebutkan meletusnya Gunung Merapi (disebut sebagai laki-laki) setelah kawin dengan Gunung Ciremai, sehingga suhu udara di Ciremai pun menjadi ekstrem. Tidak ada hubungannya sama sekali. Sedangkan naiknya suhu udara dari rata-rata 24-27 derajat C menjadi 26-32 derajat C akibat anomali cuaca sepanjang tahun 2010,” ujar Maman, yang sejak 1985 bertugas sebagai pengamat gunungapi di Pos Pengamatan Gunungapi Gunung Ciremai, yang ditemui ”PRLM” di Sampora Kec.Cilimus, Kab.Kuningan, Rabu (27/10).

Kondisi Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat (3.080 meter di atas permukaan laut), sampai saat ini masih dinyatakan aktif normal. Namun, bagi para pengamat gunungapi khususnya Gunung Ciremai perlu lebih berhati-hati apabila sewaktu-waktu terjadi letusan yang besar, karena makin lama istirahat kemungkinan besar energi yang terkandung dalam magma makin banyak terkumpul.

Pos Pengamatan Gunungapi Gunung Ciremai di daerah Sampora tersebut, berada di bawah naungan Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Secara bergiliran, para petugas melakukan pengamatan kegempaan dan aktifitas Gunung Ciremai dan memantau secara terus menerus dengan menggunakan metoda Seismik.

Peralatan pemantau kegempaannya, menggunakan Radio Telemetri Seismograf (RTS) dan sensor yang digunakan untuk mendeteksi gempa berupa Seismometer yang dipasang di tubuh Gunung Ciremai, pada ketinggian 937 meter di atas permukaan laut atau sekira 5 km dari puncak Ciremai. Sedangkan penerimanya atau rekamannya ditempatkan di Pos PGA (Pengamatan Gunungapi) Desa Sampora.

Meletusnya Gunung Merapi dengan segala aktivitasnya, kata Maman, tidak terpantau atau tidak terekam oleh peralatan yang ada di Ciremai, karena memang kalau kejadian vulkanik memiliki dapur magma masing-masing di setiap gunung. Tapi, alat yang dipasang di Ciremai itu mampu mendeteksi juga kejadian gempa tektonik.

”Kalau ada getaran atau gempa vulkanik dari Gunung Ciremai langsung tercatat atau terekam. Bahkan, saat terjadi gempa tektonik tsunami di Aceh maupun gempa di Yogyakarta beberapa tahun lalu, alat di Ciremai mencatatnya dengan jelas,” katanya.

Maman mengakui, terakhir meletus Gunung Ciremai terjadi pada tahun 1938 dengan masa istirahat yang panjang yakni 72 tahun, memaksa para pengamat gunungapi untuk lebih ekstra hati-hati lagi apabila sewaktu-waktu terjadi letusan yang besar. Ada empat level (tingkatan) pada situasi dan kondisi di setiap gunung, yakni: 1. Aktif normal, 2. Waspada, 3. Siaga dan 4. Awas (gunung sudah meletus).

Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda (barat dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter. “Kondisinya sampai sekarang masih aktif normal,” kata Maman. (A-164/das)***

Komentari di Facebook !