Kenaikan Harga Ayam Diduga Ulah Spekulan

NAIKNYA harga ayam yang terjadi belakangan ini, diperkirakan karena ulah spekulan. Hal tersebut disebabkan sampai saat ini produksi ayam masih tetap stabil, bahkan di kandang harga ayam justru mengalami penurunan hingga di bawah titik impas atau break eve
NURHANDOKO/PRLM
NAIKNYA harga ayam yang terjadi belakangan ini, diperkirakan karena ulah spekulan. Hal tersebut disebabkan sampai saat ini produksi ayam masih tetap stabil, bahkan di kandang harga ayam justru mengalami penurunan hingga di bawah titik impas atau break even point.*

CIAMIS, (PRLM).- Naiknya harga ayam yang terjadi belakangan ini, diperkirakan karena ulah spekulan. Hal tersebut disebabkan sampai saat ini produksi ayam masih tetap stabil, bahkan di kandang harga ayam justru mengalami penurunan hingga di bawah titik impas atau break even point.

Sementara itu pantauan di Pasar Manis Ciamis, Jumat (22/10) menyebutkan, saat ini harga daging ayam relatif masih stabil, yaitu berkisar antara Rp 27.000 - Rp 28.000 per kilogram. Harga tersebut masih tetap bertahan sejak tiga minggu yang lalu.

Kenaikan justru terjadi pada penjualan ayam hidup. Pedagang membeli ayam di tingkat pengepul dengan harga Rp 17.500, dari dua minggu sebelumnya yang hanya Rp 16.500 per kilogram. "Harga daging ayam masih stabil, Rp 27.000 - Rp 28.000 per kilogram. Justru harga ayam hidup naik," ungkap Hj. Ori (57) pedagang ayam di Blok C 23 Pasar Manis Ciamis.

Ia mengungkapkan, sejak lebaran hingga saat ini konsumen semakin berkurang. Apabila sebelumnya rata-rata memotong sampai 50 ekor ayam, sekarang hanya 25 ekor. Ayam tersebut dibeli dari pengusaha ayam lokal Ciamis. "Sekarang lagi sepi. Saya juga tidak tahu mengapa pembelinya sepi, padahal harganya juga masih tetap stabil seperti biasa," tambahnya.

Dia juga memerkirakan menjelang Idul Adha, harga ayam kembali bakal naik. Namun demikian kenaikannya tidak setinggi pada masa lebaran. "Waktu lebaran kemarin, harga daging ayam mencapai Rp 32.000, sedangkan ayam kampung Rp 54.000," ungkap Ori.

Berkenaan dengan naiknya harga daging ayam, Ketua Persatuan Peternak Ayam Nasional (PPAN) Priangan Timur, Herry Dermawan mengaku bingung dengan keadaan tersebut. Sebab saat ini di kandang harga ayam sedang turun, menjadi Rp 13.000 per kilogram. Harga tersebut lebih rendah Rp 3.000 apabila dibandingkan tiga hari sebelumnya.

Dengan harga Rp 13.000, lanjut dia, peternak mengalami kerugian, karena untuk mencapai harga mencapai titik impas (break even point) Rp 14.500 per kilogram. "Harga DOC atau ayam umur sehari juga stabil Rp 4.400 per ekor. Anehnya saat harga di kandang turun mengapa di pasaran naik," ungkapnya.

Dia juga tidak menampik kemungkinan naiknya harga karena ulah spekulan. Dengan kenaikan harga tersebut, spekulan berupaya menambah keuntungan dalam jangka waktu lama, terutama menjelang Idul Adha. "Kami prediksi harga ayam naik menjelang Idul Adha, kemudian pada H-3 Idul Adha akan berangsur turun lagi. Harganya pun tidak setinggi saat lebaran," kata Herry.

Dia juga menepis naiknya harga ayam karena stok yang turun. Rata-rata per minggu wilayah Priangan Timur mampu memasok 1,5 juta ekor. Sebanyak 75 persen ayam produksi Ciamis dipasarkan ke Jakarta dan Bandung. (A-101/das)***

Baca Juga

Komitmen Pertamina Geothermal Energy Sediakan Energi Listrik

Penjualan Asset PGE Akan Rugikan Negara

JAKARTA, (PR).- Pengamat ekonomi politik Salamuddin Daeng mengatakan rencana Kementerian BUMN yang akan memindahkan Pertamina Gertamina Geothermal Energy (PGE) kepada perusahaan Listrik Negara (PLN) harus dipertimbankan secara matang. Ia menilai, penjualan asset PGE itu akan merugikan negara.

Akuisisi PGN Bisa Merusak Iklim Investasi

JAKARTA, (PR).- Rencana pembentukan holding BUMN migas dengan adanya change of controlling shareholder atau perubahan di pemegang saham mayoritas dinilai bisa merusak iklim investasi Indonesia. Pada gilirannya, hal ini menciptakan ketidakpastian berinvestasi di Indonesia.

Sektor Manufaktur Stagnan 15 Tahun

JAKARTA, (PR).- Rencana pemerintah membangkitkan sektor manufaktur yang stagnan selama 15 tahun cukup berat. Pemerintah harus melakukan reformasi di segala bidang agar sektor tersebut dapat mendongkrak perekonomian domestik yang lesu.