25 Pejabat Intelejen dari Seluruh Indonesia Kunjungi Redaksi PR

BANDUNG, (PRLM).-Ada kedekatan dan kesamaan antara media dan intelejen. Keduanya sama-sama berkutat dalam informasi. Kinerja anggota-anggota intelejen pun nyaris tidak ada bedanya dengan wartawan yaitu mengumpulkan data-data dan informasi. Karena itu, seringkali wartawan dan anggota intel bertemu di lapangan untuk bertukar informasi.

Perbedaannya terdapat pada tujuan informasi disampaikan. Jika dalam intelejen, informasi itu disampaikan kepada pimpinan. Sementara di media, informasi tersebut diungkapkan ke publik.

Kesamaan tugas itulah yang membuat intelejen memandang perlu adanya hubungan baik antara media dan intelejen. Dan itu yang terealisasi dalam kunjungan 25 orang siswa Pusat Pendidikan Intelejen Mabes Polri, ke Kantor Redaksi Harian ”Pikiran Rakyat”, di Jln. Soekarno-Hatta No. 147, Selasa (12/10) siang.

Para siswa yang berpangkat ajun komisaris besar itu, datang dari polda-polda di seluruh Indonesia. Mereka diterima Pemimpin Redaksi HU ”PR” H. Budhiana Kartawijaya dan Kepala Sekretariat Redaksi H. Dede Sudrajat.

Perwakilan rombongan, Ajun Komisaris Besar Etiko Parmatohadi, mengatakan, kunjungan tersebut merupakan memang masuk dalam agenda Pusdik Intel Mabes Polri. Perkembangan teknologi yang cepat, khususnya internet, membuat intelejen pun mau tidak mau harus mengikutinya. Pasalnya, berita-berita terkini serta informasi-informasi, sekarang bisa dipantau langsung dari media-media online, elektronik, termasuk jejaring sosial.

”Peran media sangat besar dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Dan patut diakui, wartawan kadang lebih cepat mendapat informasi, ataupun sebaliknya. Rekan-rekan wartawan pun sering bertemu dan berkomunikasi dengan anggota intel saat berada di lapangan. Di sanalah kerap terjadi saling tukar informasi,” ujarnya.

Sementara itu, Budhiana menuturkan, wartawan saat ini berbeda dengan wartawan jaman dahulu. Wartawan sekarang mesti memiliki kemampuan lebih mulai dari bahasa asing (minimal bahasa Inggris), melek media dan teknologi, serta punya jaringan yang luas. Keahlian untuk mengambil gambar serta grafis akan menjadi nilai tambah. ”Jadi, wartawan pun harus punya komunitas dan jaringan karena dari jaringan itulah banyak informasi yang diperoleh. Ya, sama saja dengan intel,” ucapnya.

Budhiana menambahkan, konten berita yang banyak disukai masyakarat saat ini ialah olah raga dan kriminal. Mengenai berita kriminal, ”PR” berusaha menyajikan cara yang berbeda, yaitu mengambil sisi lainnya. ”Tidak yang berdarah-darah. Mencari sisi humanisny,” ujarnya.

Budhiana mencontohkan berita soal geng motor. Dari runtutan aksi geng motor yang terjadi di Bandung dan sekitarnya, menunjukkan ada tren peningkatan. ”Semakin diberitakan, sepertinya mereka semakin bangga. Mungkin ada kebanggaan jika ada anggotanya yang ditangkap polisi apalagi berhasil menusuk anggota polisi. Inilah yang berusaha kami cermati. Apakah gara-gara sering diberitakan itukah yang membuat mereka sepertinya terus tertantang melakukan aksi-aksi? Nah, disinilah kami juga memerlukan masukan dari kepolisian, termasuk dari intelejen, soal perilaku geng motor ini,” ucapnya.

Usai sesi tanya jawab, para siswa Pusdik Intel itu mengunjungi beberapa bagian di redaksi. Para siswa juga sempat melihat-lihat proses pencetakan koran di lokasi percetakan. (A-128/kur)***

Komentari di Facebook !