25 Negara di Asia dan Afrika Dilanda Kelaparan

WASHINGTON, (PRLM).- Kemiskinan, konflik dan ketidakstabilan politik menyebabkan satu miliar orang menderita kelaparan tahun ini, yang sebagian besar berdampak pada anak-anak di Afrika dan Asia. Demikian dilaporkan Indeks Kelaparan Global yang diterbitkan pada Senin (11/10).

Dari 122 negara yang tertera dalam laporan tahunan, 25 negara di antaranya memiliki tingkat kelaparan yang "mengkhawatirkan" dan empat negara di Afrika berada pada tingkat "sangat mengkhawatirkan", kata laporan oleh Lembaga Riset Kebijakan Pangan Internasional (International Food Policy Research Institute/IFPRI), Concern Worldwide, dan Welthungerhilte.

Republik Demokratik Kongo dinilai sebagai yang terburuk dalam indeks kelaparan, berdasarkan data dari 2003-2008. Tiga per empat dari populasi di negara Afrika tengah itu secara luas menderita kekurangan gizi, dan Kongo juga salah satu negara dengan tingkat kematian anak tertinggi di dunia.

Tiga faktor yang digunakan untuk menghitung Indeks Kelaparan Global (GHI): banyaknya penduduk kekurangan gizi di suatu negara, berat badan anak di bawah rata-rata, dan tingkat kematian anak.

Indeks tersebut menilai bahwa banyak negara dengan skala 100 poin, dengan nol merupakan nilai terbaik -- tidak ada kelaparan -- dan 100 sebagai nilai terburuk, meski secara praktik tidak ada negara yang ditaksir sebagai terbaik atau terburuk.

Negara yang memiliki nilai lebih dari 20 poin dinilai tingkat kelaparan "mengkhawatirkan" dan di atas 30 poin dinilai kelaparan "sangat mengkhawatirkan".

Tiga negara lain dengan tingkat kelaparan sangat tinggi adalah Burundi, Eritrea dan Chad. Kesemuanya terlibat dalam konflik memanas atau terbuka selama bertahun-tahun. Kecuali Haiti dan Yaman, semua 25 negara dengan tingkat kelaparan "mengkhawatirkan" berada di wilayah sub-Sahara Afrika atau Asia.

Negara yang menempati urutan kelaparan terburuk adalah Nepal, Tanzania, Kamboja, Sudan. Zimbabwe, Burkina Faso, Togo, Guinea-Bissau, Djibouti, Mozambik, India, Bangladesh, Liberia, Zambia, Timor Leste, Niger, Angola, Yaman, Republik Afrika Tengah, Madagaskar, Komoro, Haiti, Sierra Leone dan Ethiopia. (das)***

Baca Juga

Hasil Sementara, Clinton Unggul atas Trump

NEW YORK, (PR).- Setelah melalui proses pilpres yang melelahkan selama 18 bulan, termasuk berkampanye secara intensif dalam empat bulan terakhir, kini tiba saatnya capres Partai Demokrat Hillary Clinton (69) dan capres Partai Republik Donald Trump (70), menghadapi penilaian akhir dari rakyat AS.

Hillary Clinton Salahkan Direktur FBI Sebagai Biang Kekalahannya

NEW YORK, (PR).- Hillary Clinton dengan legawa mengakui kekalahannya pada pilpres lalu, kendati secara "popular votes", Hillary sebenarnya unggul tipis atas Donald Trump. Selisih suara di antara keduanya, seperti dilaporkan Reuters, Minggu 13 November 2016, mencapai 600.000 suara.

Aktivis Desak Penghitungan Suara Pilpres AS Diulang

WASHINGTON, (PR).- Hasil pilpres AS secara resmi baru akan diumumkan pada 29 November mendatang. Sepekan menjelang pengumuman tersebut, sejumlah aktivis dan akademisi mendesak otoritas berwenang AS untuk menghitung ulang hasil pemilu di Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin.