Selasa, 21 May, 2013

Uninus Masih Pertahankan Prodi Pertanian

BANDUNG, (PRLM).-Meski tetap mengamati perkembangan ke depan, Universitas Islam Nusantara (Uninus) masih tetap mempertahankan program studi (prodi) pertanian. Padahal, jumlah peminat prodi tersebut cenderung menurun dari tahun ke tahun.

Rektor Uninus, Didin Wahidin mengakui, jumlah peminat prodi pertanian memang menurun sejak sekitar lima tahun belakangan. Pada 2009, Uninus hanya menerima mahasiswa prodi pertanian kurang dari sepuluh orang. “Tahun ini saya belum terima data pastinya, tapi yang jelas masih belum mencapai setengah kelas di mana satu kelas idealnya sekitar 30-40 mahasiswa,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela halal-bihalal civitas akademika Uninus, Senin (20/9).

Menurut Didin, fenomena penurunan minat terhadap prodi pertanian memang terjadi di seluruh perguruan tinggi se-Indonesia beberapa tahun belakangan. Meski masih tetap bisa memenuhi kuota, PTN juga merasakan hal ini. Pada dasarnya jumlah pendaftar prodi pertanian di PTN juga menurun. “Di PTS, fenomena ini jelas lebih terasa,” tuturnya.

Hal ini, kata Didin, tidak lepas dari cara pandang masyarakat yang masih berpikiran bahwa untuk bergerak di bidang pertanian tidak perlu sekolah tinggi. “Masyarakat masih berpikir sarjana pertanian akan sama saja menjadi petani,” ungkapnya.

Didin berpendapat, perlu adanya diversifikasi ilmu pertanian untuk mengubah pola pikir masyarakat saat ini. Nama prodi dan bidang kerja perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. “Harus disadarkan bahwa seorang sarjana pertanian mampu berbuat lebih dibanding petani biasa. Ada pekerjaan pertanian yang hanya bisa dikerjakan oleh seorang sarjana pertanian dan tidak bisa oleh petani biasa,” paparnya.

Lebih jauh Didin menegaskan, kegiatan agroindustri dan semacamnya saat ini tidak hanya memanfaatkan pertanian untuk konsumsi semata. Namun mampu memicu pengembangan ekonomi. “Orang akan mau belajar kalau jelas dia akan bekerja sebagai apa nantinya dan potensi ekonominya seperti apa,” ujarnya.

Didin mengambil contoh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang saat ini di mana-mana banjir peminat. Dulu, FKIP sempat mengalami penurunan minat karena nasib guru tidak diperhatikan. “Setelah ada Undang-undang guru dan dosen terkait tunjangan sertifikasi yang besar, orang ramai ingin jadi guru,” ungkapnya.

Didin yakin, suatu saat kesadaran masyarakat bahwa Indonesia adalah negara agraris akan muncul kembali. Mereka akan sadar bahwa sarjana hukum akan sangat dibutuhkan. “Untuk itu kami tetap menjalankan prodi pertanian menggunakan subsidi dari fakultas lain, karena pertanian pernah besar dan mensubsidi fakultas lain,” tuturnya.

Sementara ini, tambah Didin, dosen prodi pertanian Uninus yang berjumlah sekitar 30 orang terus didorong untuk mengisi kekosongan dengan kuliah S2 dan S3. Dengan mahasiswa yang kurang mereka memiliki waktu untuk itu. “Saat tren prodi pertanian nanti meningkat kembali, kita sudah siap,” katanya.

Didin menegaskan, saat ini dosen prodi pertanian Uninus hampir seluruhnya sudah bergelar S2 dan beberapa sudah S3. Bahkan, salah seorang guru besar, dipinjam oleh perguruan tinggi Malaysia. “Dengan kualitas SDM yang ada, kami akan mempertahankan prodi pertanian sebisa mungkin,” tuturnya. (A-178/kur)***

Post new comment

Konten ini di bersifat pribadi dan tidak akan diperlihatkan kepada publik If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Alamat Web dan e-mail otomatis menjadi link.
  • HTML Tag yang diijinkan: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragrap akan di break otomatis.
  • Filtered words will be replaced with the filtered version of the word.

Informasi lanjutan tentang opsi format HTML yang berlaku.

CAPTCHA
.

KOMENTAR