Pengeras Suara Masjid Harus Diatur
BANDUNG, (PRLM).- Penggunaan pengeras suara masjid harus diatur apalagi selama bulan Ramadan yang sering tak terkendali. Meski dengan alasan dakwah, namun speaker bisa mengganggu kenyamanan masyarakat khususnya di malam hari.
“Apabila di kampung-kampung pemakaian speaker masjid sampai malam hari tidak terlalu dipermasalahkan masyarakat. Bahkan, warga sering merasa ada yang kurang apabila di malam-malam Ramadan tidak ada pembacaan Alquran yang dikumandangkan melalui pengeras suara,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kab. Bandung, H. Cecep Kosasih, di sela-sela pelatihan penyuluh agama Kemenag Kab. Bandung di Hotel Kanira, Jumat (6/8).
Lebih jauh Cecep mengatakan, dengan kondisi masyarakat yang makin heterogen dan faktor rumah yang makin berdekatan membuat warga kerap terganggu dengan pengeras suara masjid.
“Sejak 17 Juli 1978 Dirjen Bimas Islam Depag sudah mengeluarkan aturan penggunaan speaker masjid dan musala melalui surat Kep/D/101/78. Aturan itu di antaranya kondisi pengeras suara harus baik sehingga suara yang dihasilkan enak didengar,” ujarnya.
Aturan lainnya, kata Cecep, masjid dan musala harus memiliki dua pengeras suara yakni untuk ke dalam dan ke luar masjid/musala. “Pengeras suara keluar hanya dipakai untuk mengumandangkan azan, ikamat, ceramah dan takbir saat hari raya, sedangkan untuk salat, doa, atau keperluan jemaah cukup dengan pengeras suara di dalam masjid/musala,” ucapnya.(A-71/A-26).***
Urang teh hirup teu ngan umat
Urang teh hirup teu ngan umat Islam wungkul, ummat anu lian oge kudu dihormati, jadi make pengeras suara kudu proporsional!
Post new comment