Nelayan Banyak yang Beralih Profesi
CIAMIS, (PRLM).- Ratusan nelayan di kawasan Ciamis selatan, Kab. Ciamis, mulai banyak yang beralih profesi. Peralihan profesi tersebut terjadi akibat dari berkepanjangannya masa paceklik ikan, dan sebagai persiapan menghadapi gangguan cuaca dan dampak perubahan iklim.
Keterangan diperoleh “PRLM”, Minggu (1/8), setelah sekian lama menjadi nelayan, mereka sekarang banyak yang pindah pekerjaan menjadi pegawai di sejumlah kapal pesiar, menjadi pedagang di pasar wisata, atau untuk sementara pergi ke Bandung atau Jakarta untuk menjadi pekerja kasar. “Menjadi nelayan sekarang tidak bisa diandalkan, tidak seperti dulu. Itu semua karena mencari ikan di laut susahnya bukan main. Karena itu, saya terpaksa meninggalkan pekerjaan yang digeluti sejak kecil itu,” kata Rahman (43), warga Pangandaran kelahiran Cilacap, Jawa Tengah. Ia kini menjadi pedagang kaki lima yang berjualan di kawasan pasar wisata.
Dodo (35), rekan Rahman yang juga menjadi pedagang kaki lima menambahkan, memutuskan berhenti melaut itu merupakan pilihan yang sulit. Sebenarnya ia ingin terus melaut seperti kakek dan ayahnya dulu. Apalagi karena ia tidak mempunyai keterampilan lain untuk beralih profesi. Akan tetapi, pindah profesi itu akhirnya dilakoni juga.
“Anak dan istri saya harus makan. Ya, akhirnya, dengan tekad untuk mengubah nasib, saya mulai memberanikan diri menjadi pedagang kecil-kecilan seperti ini. Mudah-mudahan saja kehidupan saya membaik,” kata Dodo yang kini berjualan rokok dan minuman segar tersebut.
Rahman mengatakan, sepanjang yang ia ketahui, nelayan yang pindah profesi tersebut bukan hanya puluhan orang, tetapi mencapai ratusan orang. Jika paceklik berkepanjangan apalagi jika terjadi gangguan cuaca yang bisa menyebabkan
nelayan tidak diperbolehkan melaut, yang pindah profesi akan semakin banyak lagi.
Sementara itu, Paijo (54), salahseorang nelayan yang mencoba bertahan dengan profesinya mengatakan, dirinya memilih tetap menjadi nelayan bukan karena hasil melautnya tetap bagus dan bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya. Ia
bertahan karena tidak punya keterampilan lain.
“Saya juga merasakan masa paceklik. Tetapi, untuk pindah pekerjaan saya tidak bisa. Saya sudah tua dan tidak punya ‘pangabisa’ lain selain menangkap ikan. Saya juga tidak punya modal untuk usaha lain,” kata Paijo yang dibenarkan oleh sejumlah nelayan lainnya ketika ditemui di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Batukaras, Cijulang.
Jeje Wiradinata, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kab. Ciamis membenarkan soal banyaknya nelayan yang pindah profesi dari nelayan ke pekerjaan lain. Hal itu, kata dia, sudah berlangsung sejak tiga atau empat tahun lalu.
“HNSI sebagai pihak yang bersinggungan langsung dengan persoalan nelayan, sudah meminta pemerintah untuk melakukan kajian-kajian mengapa nelayan terus mengalami paceklik. Namun hingga saat ini, soal itu belum memperoleh jawaban,” kata Jeje.
Menurut Jeje, persoalan tersebut tentu harus mendapat perhatian semua pihak. Pasalnya, menurunnya produksi ikan tersebut, selain merugikan ratusan bahkan ribuan nelayan, juga merugikan bagi Kab. Ciamis. “Tanpa ada perhatian seluruh pihak terkait, persoalan itu tidak akan selesai-selesai,” kata Jeje. (A-112/A-147)***
"Tongkat kayu pun jadi
"Tongkat kayu pun jadi makanan..dstnya" jika tidak salah Koes Plus mendendangkan demikian. Ketika tahun 1960 di SD sering disampaikan bahwa Republik ini subur makmur gemah ripah loh jinawi.
65 tahun usia kemerdekaan, semakin jauh menggapai cita-cita bangsa dan negara. Meski sedemikian melimpahnya sumberdaya alam dibanding negara-negara lain.
Sementara 24 Desember 1945, sebuah negara di Asia ditimpuk BOM ATOM. Hanya luluh lantak hancur lebur berantakan dan menjadi abu.
Selang beberapa tahun negara tersebut mampu bersaing ketat dengan negara-negara maju lainnya. dalam segala bidang.
Sebagai contoh; maka para Dokter selalu menulis pada setiap obat untuk pasiennya. Sebelum diminum harap dikocok terlebih dahulu. Atau diminum sebelum makan. Atau diminum sesudah makan. Sehari 1, 2 atau 3 dan seterusnya.
SEMAR bersabda ; Amarta dan Astina adalah bersaudara ketat. Bahkan Mbah Durna, Mbah Bisma Astina itu Mahaguru para kesatria Amarta. Akhirnya mereka tetap harus bertarung di Kurusetra. Pilihannya hanya MENANG atau KALAH (bonus disimpan di Taman Makam Pahlawan)..
Mau tidak mau. Sebab jika tidak AMARTA tak berwujud, sekian generasi hanyut berlanjut benjut..
Kasihan Nelayan dari dulu
Kasihan Nelayan dari dulu nasibnya gitu-gitu aja katanya pemerintah dan pihak terkait sangat memperhatikan meraka tapi mana buktinya... sabaaaaarr.......Cape dech
Post new comment