"Mitembeyan Mapag Wuku Taun" di Galura

BANDUNG, (PRLM).- Petikan dawai kecapi yang dimainkan Abah Yayat beriringan bersamaan dengan tembang Rajah Pamuka yang dilantunkan juru pantun Abah Ganda. Membuat yang hadir di ruangan itu berupaya menyimak dengan takzim bait demi bait syair yang berisikan ungkapan keinginan dan harapan keselamatan itu.
“Ini merupakan awal dari kegiatan yang akan kami selenggarakan akhir pekan (Sabtu, 7/8) nanti,” ujar Kang Kawi, Pupuhu Kampung Seni dan Wisata Manglayang, di sela-sela acara Mitembeyan Mapag Wuku Taun yang diselenggarakan di Ruang Rapat Redaksi Koran Sunda Galura, Jalan Belakang Factory, Bandung.
Dikatakan Kang Kawi, Wuku Taun yang diselenggarakan masyarakat Kampung Ciborelang, Desa Cinunuk, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung, tahun ini merupakan kaliketiganya dan akan dipusatkan di Kampung Seni dan Wisata Manglayang. Kegiatan merupakan bentuk hajat syukur nikmat sekaligus "nyaliksik diri" dari masyarakat di kaki Gunung Manglayang.
Guru Besar STSI Bandung, Prof Iyus Rusliana, mengatakan bahwa kegiatan Wuku Taun yang diselenggarakan setiap tahunnya berdasarkan hitungan kalender Sunda maupun Islam, merupakan tradisi yang mulai memudar di masyarakat Sunda, khususnya masyarakat agraris. “Padahal selain memiliki nilai budaya yang sangat tinggi, juga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalamnya,” ujar Iyus.
Hal senada dikatakan Pimpinan Kora Sunda Galura Eddy D Iskandar, bahwa kegiatan Wuku Taun selain kegiatan syukuran masyarakat agraris, secara tidak langsung memperlihatkan potensi yang dimiliki masyarakat. Potensi yang terangkat bukan hanya dalam hal seni budaya, tetapi juga seluruh potensi yang ada termasuk perekonomian.
Sementara Ketua Paguyuban Seniman dan Budayawan Kab. Bandung, Drs. Heri Heryadi mengatakan, penyelenggaraan Wuku Taun dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama anak-anak merupakan upaya menggali kekayaan budaya Manglayang sekaligus sebagai wahana edukasi bagi anak-anak. Selain itu Wuku Taun bukan sekadar menggelar pertunjukan seni, tetapi menjadi event untuk menumbuhkan rasa mibanda terhadap banda budaya Sunda khususnya yang hidup dan berkembang di suku gunung Manglayang, dan menjadi wahana mengungkit ekonomi kreatif bagi kalangan seniman muda, dan menjadi peristiwa budaya yang dapat mengangkat citra pariwisata Jawa Barat.
Wuku Taun Manglayang yang tahun ini diselenggarakan untuk ketigakalinya selain menampilkan kesenian khas Wuku Taun Manglayang mulai dari seni helaran, marawis, reak, bengberokan, benjang, angklung buncis dan lainnya. Selain itu, untuk memberikan kesempatan pada sejumlah sekolah yang akan turut terlibat Wuku Taun yang akan diselenggarakan Sabtu (7/8) juga menampilkan kamonesan barudak Manglayang, semisal seni reak barudak, kaulinan, gagambaran ku dadangdaunan jeung kekembangan, benjang barudak, tutunggulan, dongeng, ibing murangkalih (cetok, ibing hayam jeung ibing Sundung). Juga digelar jajanan tradisi Manglayang berupa kueh apem, gulali, aromanis, surabi gunung dan lainnya. (A-87/das)***
Post new comment