Gairah Berkesenian Perlu Dukungan

BANDUNG, (PRLM).- Kehidupan berkesenian di Jawa Barat dari waktu ke waktu terus mengalami pasang surut. Meski hanya seniman dan kesenian di daerah tertentu yang mendapat perhatian para pelaku seni tradisi merasa tidak perlu berkecil hati.
“Sudah menjadi nasib kesenian tradisi, di mana pun hampir sama. Namun yang terjadi saat ini di Jawa Barat, banyak program maupun wacana yang dikemukakan pemerintah, tapi implementasi di lapangan hanya beberapa saja yang terealisasi,” ujar Drs. Heri Heryadi, Ketua Paguyuban Seniman dan Budayawan Kab. Bandung (Paseban), saat menerima kunjungan yang diteruskan dengan gelar seni oleh Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat bertempat di Kampung Seni dan Wisata Manglayang, Kamp. Ciborelang, Cinunuk, Cileunyi Kab. Bandung.
Terciptanya gairah berkesenian yang dulu pernah terjadi, saat ini menjadi impian bagi sebagian orang yang peduli dengan kesenian yang ada di setiap daerah, terutama kantong-kantong seni. Pertumbuhan kesenian saat ini kiranya menjadi point penting untuk Jawa Barat, terlebih dengan keberadaan sebagai daerah dengan kekayaan seni budaya. “Akan menjadi sutu hal yang ironis tentunya, jika sebagai sentra seni budaya, namun pertumbuhan keseniannya mengalami pasang surut karena kepedulian pemerintah daerah hanya terhadap segelintir seniman dan budayawan di daerah. Itupun dilakukan dengan terpilah-pilah,” ujar Abah Awi, sapaan Heri Heryadi.
Hal senada dikatakan Nana Munajat, salah seorang seniman yang mengantongi sertifikat asesor Indonesia-Australia Depelopment Skill. Dia mengatakan bahwa pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, tidak memiliki skala prioritas dalam memberikan dukungan. “Sebenarnya sudah ada upaya, seperti pemberian bantuan pembangunan sanggar dan menampilkan kesenian tertentu, namun hal ini justru hanya mengundang kecemburuan,” ujar Nana.
Karena, menurut Nana, seperti halnya yang sudah dilakukan pejabat Disparbud Jabar terdahulu, terhadap program-program yang dilaksanakan dilakukan skala prioritas. Upaya merekonstruksi ataupun merevitalisasi kesenian tradisi dilakukan oleh pihak yang paham di bidangnya serta melibatkan sarjana seni disejumlah kantong seni budaya. Demikian pula halnya manakala ditampilkan. “Jangan sampai yang terjadi saat sekarang ini, yang direvitalisasi seni A tapi yang ditampilkan seni D. Kan, tidak nyambung,” ujar Nana.
Sementara seniman lenong, Rita Hamzah yang merupakan generasi ketujuh dari Topeng Cisalak atau Topeng Depok lebih menyoroti program pemerintah yang setengah-setengah dan terkesan alakadarnya. “Sebenarnya anggaran tidak harus menjadi kendala, yang terpenting adalah niat baik dulu, jangan sampai karena anggaran terbatas program pelestarian seni tradisi tidak tuntas,” ujar Rita Hamzah, cucu dari maestro Topeng Betawi Almarhum H. Bokir.
Karena minimnya keseriusan pemerintah, menururut Rita tidak sedikit seniman tradisi yang berjibaku menyelamatkan kesenian warisan leluhur juga perekonomi rumah tangga masing-masing. Seperti yang digeluti Rita saat ini, meski sudah menjadi artis sinetron tetap menjalani profesinya sebagai seniman tradisi Topeng Cisalak yang merupakan cikal bakal Topeng Betawi ataupun Lenong Betawi. (A-87/A-147)***
Post new comment