Calo Sulit Peroleh Untung dari Cengkih
NGAMPRAH, (PRLM).- Para calo (perantara) cengkih terancam urung menangguk untung pada musim panen tahun ini. Kondisi tersebut berkaitan dengan cuaca yang kerap hujan. Dengan demikian, penjemuran cengkih tidak bisa dilakukan dengan sempurna sehingga harga jualnya menjadi anjlok.
Salah seorang calo yang mengkhawatirkan kondisi itu adalah Ihin (50), warga Kampung Bongkok, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalongwetan. Saat musim panen tiba, dia biasa meminjam uang kepada tengkulak sebagai modal usaha. Kemudian, dia mencari cengkih ke daerah tersebut dan membelinya. Cengkih hasil pembelian tersebut diolahnya untuk kemudian dijual kembali kepada tengkulak. Proses kerja tersebut dilakoninya saat musim cengkih tiba. Biasanya, usaha itu cenderung menjanjikan karena harga jual cengkih relatif stabil.
Hanya proses pengolahan cengkih tahun ini terkendala cuaca. Hujan yang terus turun selama beberapa waktu terakhir membuat proses penjemuran cengkih tidak berlangsung dengan sempurna. ”Di dieu mah nembe dua dinten ieu caang teh, sateuacanna mah hujan wae (Di sini baru cerah dua hari terakhir, sebelumnya hujan),” kata Ihin.
Padahal, proses penjemuran itu merupakan bagian penting dari bisnis cengkih. Jika tidak dijemur dengan baik, cengkih akan membusuk dan berwarna keputihan. Cengkih dengan kondisi tersebut akan diterima tengkulak dengan harga jauh lebih murah dibandingkan kondisi normal. ”Upami cengkeh sae, tiasa diical Rp 250.000 sakilona, tetapi upami kieu mah, paling ge ngan kahargaan Rp 20.000 (Kalau cengkih bagus bisa dihargai Rp 50.000 per kilogram, sedangkan kalau seperti ini paling
hanya Rp 20.000 per kilogram),” kata Ihin sambil menunjukkan sejumlah cengkih busuk yang dia maksud.
Menurut dia, jika cuaca benar-benar cerah, proses penjemuran cengkih biasanya hanya membutuhkan waktu satu minggu. Akan tetapi, untuk musim tahun ini, setelah tiga minggu penjemuran, cengkih yang diusahakannya tak kunjung kering. Tak heran jika Ihin tidak yakin usaha cengkihnya tahun ini akan mendatangkan hasil. Pasalnya, sekitar 1 kuintal cengkih yang dia beli belum tentu bisa terjual dengan harga normal karena kondisinya busuk.
”Duka tah kanggo taun ieu mah, katingalna mah bakal tekor, etangan ayeuna wae tos tekor Rp 5 juta (Untuk tahun ini tidak tahu, tetapi sepertinya akan merugi, hitungan sekarang saja mungkin sudah merugi sekitar Rp 5 juta),” katanya.
Sejumlah kawasan di Kecamatan Cikalongwetan sejak dahulu terkenal dengan usaha cengkih. Di sepanjang jalan sekitar tujuh kilometer dari kawasan Ciawitali Desa Mandalasari hingga Desa Cipada misalnya, saat ini bisa dilihat penjemuran cengkih yang menjadi tumpuan masyarakat sekitar. Ihin misalnya, sudah melakoni profesi ini sekitar tiga puluh tahun lalu. Namun, usaha itu hanya menjadi sampingan karena dijalankan saat musim cengkih tiba, satu tahun sekali. Sehari-hari, dia tetap mencari mata pencaharian lain, yaitu bertani dan beternak domba.
Mengenai kemungkinan usaha cengkihnya gagal, Ihin sudah memakluminya. Pasalnya, setelah sekian lama bergelut di bisnis cengkih tidak selamanya mendatangkan untung. (A-179/A-147)***
Post new comment