Meski Pasokan Normal, Harga Sayuran Masih Tinggi

SALAH seorang pedagang di Pasar Induk Cibitung, Kabupaten Bekasi sedang mengemas cabai. Pedagang di sejumlah pasar di Kabupaten Bekasi masih mengeluhkan tingginya harga sayuran, meski pasokan yang didapat berangsur normal. Pasalnya, dengan tingginya harga
WI:UJENG KHARISMA/PRLM
SALAH seorang pedagang di Pasar Induk Cibitung, Kabupaten Bekasi sedang mengemas cabai. Pedagang di sejumlah pasar di Kabupaten Bekasi masih mengeluhkan tingginya harga sayuran, meski pasokan yang didapat berangsur normal. Pasalnya, dengan tingginya harga, modal yang mereka keluarkan lebih besar dan risiko kerugian juga lebih besar, sementara keuntungan yang didapat sama saja.*

BEKASI, (PRLM).- Pedagang di sejumlah pasar di Kabupaten Bekasi masih mengeluhkan tingginya harga sayuran, meski pasokan yang didapat berangsur normal. Harga cabe yang menembus hingga Rp 45.000/kg kini sudah berangsur turun hingga harganya berkisar Rp 32.000/kg hingga Rp 35.000/kg, begitu juga untuk harga bawang putih dan bawang merah. Harganya kini berkisar Rp 22.000/kg yang sebelumnya kenaikan harga mencapa Rp 25.000/ kg.

"Pasokan kini berangsur normal, tapi harga masih relatif tinggi karena turunnya cuma dikit. Meski harga turun juga masih dikeluhkan pembeli. Karena sebelumnya harga cabe cuma Rp 15.000/kg hingga Rp 20.000/ kg. Pedagang juga susah nyari modal kalau harganya masih tinggi kayak gini," ucap salah seorang pedagang cabe di Pasar Induk Cibitung, Dedi (35) kepada "PRLM", Rabu (21/7).

Menurut Sekretaris Jendral (Sekjen) Peguyuban Pedagang Pasar Induk Cibitung, Supriyadi, Sebelum harga naik pasokan cabe untuk satu pedagang biasanya 4 ton, dan dengan modal Rp 20 juta sudah bisa mendapatkan satu truk cabe. "Namun, naiknya harga menyebabkan pedagang kesulitan modal. Mereka harus mempunyai modal Rp 150 juta untuk mendapatkan pasokan yang normal. Jadi, pedagang sendiri juga susah," katanya.

Supriyadi menuturkan, tidak jarang para pedagang juga impas bahkan merugi, jika beratnya susut bisa satu kuintal. "Jadi kalau pasokan normal 4 ton, dan mengalami susut satu kuintal, dipastikan si pedagang ya impas, kalau susutnya lebih dari satu kuintal pedagang dipastikan merugi. Harga yang tinggi, membuat risiko pedagang lebih besar sementara keuntungan jumlahnya sama," ujarnya.

Sementara itu,untuk harga besar tidak banyak mengalami kenaikan. Bahkan, Bulog Divre (Divisi Regional) Karawang-Bekasi menjamin pasokan beras cukup hingga Mei 2011. "Kami sengaja adakan operasi pasar untuk menjawab keluhan masyarakat. Namun, juga operasi pasar ini tidak banyak yang minat, karena untuk harga beras kelas medium yang banyak dikonsumsi masyarakat harganya masih stabil antara Rp 5.500 hingga Rp 6.000," tutur Wakil Kepala Bulog Divisi Regional Karawang-Bekasi, Din Din Syamsudin.

Menurutnya, untuk pasokan, masyrakat tidak perlu resah, karena pasokan aman hingga tahun depan. Bahkan, untuk bulan puasa seharusnya tidak ada kenaikan harga beras karena bersamaan dengan panen raya. "Harga naik kan jika pasokan kurang, tapi kami berani jamin Bulan Puasa justru pasokan berlimpah. Jika pada Bulan Puasa harga masih tinggi berarti ada spekulan yang bermain," ucapnya. (A-186/das)***

Baca Juga

Sinergi Antar Koperasi Perluas Jaringan Pemasaran

JAKARTA, (PR).- Sinergi antar koperasi di seluruh Indonesia akan memperluas jaringan pemasaran. Selain itu, keterbatasan bahan baku akan teratasi dengan adanya kerja sama antar koperasi.

BNI Bidik Kenaikan Transaksi di GATF 2017

JAKARTA, (PR).- Travelling saat ini dinilai sudah menjadi kebutuhan masyarakat dan bukan barang mewah lagi. Tercatat, segmen travel dan entertainment masuk kategori lima transaksi terbesar kartu kredit setelah groceries, gawai, department store, dan elektronik.

Nilai Ekspor Jabar Naik dalam Dua Bulan Terakhir

BANDUNG, (PR).- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menilai bahwa momentum laju ekonomi 2016 terus terjadi dengan kenaikan nilai ekspor Jawa Barat periode Desember 2016 dan Januari 2017.

Enam Kesepakatan Indonesia-Arab Saudi untuk Majukan UKMĀ 

JAKARTA, (PR).- Penandatangan nota kesepahaman (MoU) antara Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga dan otoritas UKM Arab Saudi saat pertemuan Raja Salman dan Presiden Jokowi segera ditindaklanjuti.