Museum Apartheid Seperti Lorong Sejarah

JOHANNESBURG, (PRLM).- Memasuki Museum Apartheid di Johannesburg, Afrika Selatan, seperti berjalan dalam lorong sejarah. Di sana tergambarkan tragedi dan kepahlawanan menjadi pelajaran. Tirani harus berhadapan dengan keinginan untuk merdeka, dan kerusuhan harus berhadapan dengan kedamaian.
Ketika akan masuk ke museum, pengunjung akan mengernyitkan dahi. Museum Apartheid memiliki dua gerbang. Di atas gerbang pertama tertulis blankes/whites (khusus untuk kulit putih) dan di atas gerbang kedua tertulis nie-blankes/non-whites (kulit hitam atau berwarna).
Museum Apartheid tiket mengenakan tiket seharga 50 rand (sekitar Rp 60 ribu)/pengunjung. Setiap pengunjung mendapatkan tiket yang berbeda bertuliskan blankes dan nonblankes, tanpa membedakan warna kulit si pengunjung. Jadi, bisa saja si pengunjung berkulit putih mendapatkan tiket nonblankes atau orang kulit hitam memperoleh tiket blankes.
Pengunjung mungkin bisa terkejut dengan pemberlakuan sistem apartheid di museum ini. Namun, setelah mendapatkan penjelasan dari petugas museum, pengunjung bisa tahu maksud dari dua tiket yang berbeda tersebut. Mereka mengatakan, kedua tiket tersebut untuk mengingatkan kembali akan rezim apartheid yang membeda-bedakan warna kulit.
Begitu masuk ke dalam, pengunjung disuguhi dengan kerangkeng yang berisi kartu identitas seperti KTP pada masa apartheid. Dibedakan kartu untuk kulit putih dan kartu untuk kulit hitam dan berwarna. Kartu identitas kulit hitam harus selalu dibawa oleh pemiliknya. Jika tidak dan terkena razia polisi, penjara akan menjadi tempat berikutnya.
Ada 30 lokasi yang bisa dikunjungi di museum ini. "Pameran" kartu identitas hanya salah satunya. Kemudian pengunjung disuguhi dengan berbagai informasi tentang apartheid dan juga sejarah Afrika Selatan pada 2500 tahun lalu ketika orang-orang bushmen, suku asli Afrika Selatan menjadi penguasa di ujung bawah Benua Afrika tersebut.
Pengunjung juga akan disuguhi tayangan film sejarah Afrika Selatan. Dalam tayangan film tersebut, nama negara kita, Indonesia, juga disebut-sebut. Indonesia menjadi negara "pengekspor" budak ke Afrika Selatan bersama dengan Madagaskar pada pertengahan abak ke-18. Mereka dibawa oleh penjajah Belanda untuk menjadi budak.
Pengunjung seperti menjelajah perjalanan Afrika Selatan dari masa lalu hingga rezim apartheid berkuasa, perjuangan Nelson Rolihlahla Mandela, hingga sekarang ini ketika apartheid sudah ditinggalkan. Sayang, pengunjung tidak diberi kesempatan untuk memotret di dalam museum. (A-57/A-147)***
di indonesia juga terkadang
di indonesia juga terkadang masih melakukan Apartheid untuk orang papua.
Betul Tuan Nelson
Betul Tuan Nelson Papua,Indonesia masih melakukan Apartheid untuk orang Papua.
Waktu Papua masih dijajah Belanda,semua laki laki Papua memakai jas dan dasi seperti orang Belanda.Setelah masuk Indonesia,orang Papua hanya disuruh pakai Koteka.
Waktu masih dijajah Belanda,,rakyat Papua mempunyai mobil mobil sedan seperti Belanda.Setelah masuk Indonesia,rakyat Papua cuma disuruh jalan kaki.
Waktu masih dijajah Belanda,rakyat Papua tinggal dikota kota dan mempunyai rumah rumah gedung seperti halnya orang orang Belanda.Setelah masuk Indonesia,,rakyat Papua disuruh pulang kekampungnya dan tinggal digubuk-gubuk,serta ditaruh didaerah terpencil( reservation) khusus Papua( seperti bangsa Aborijin di Australia).
Waktu masih dijajah Belanda,rakyat Papua boleh masuk tempat tempat hiburan khusus Belanda,setelah masuk Indonesia,,rakyat Papua tidak diperbolehkan masuk ketempat hiburan,pintu masuk dipisah,untuk orang Indonesia dan untuk Papua.
Waktu masih dijajah Belanda,banyak sekali sekolah sekolah dan Universitas didirikan Belanda untuk rakyat Papua,setelah masuk Indonesia,semua sekolah dan Universitas ditutup.
Waktu penjajah Belanda mendengar Indonesia bertekad merebut Irian Barat /Papua,Belanda langsung mendirikan dan menyokong OPM.
Jaksa Agung Amerika Serikat waktu itu Robert Kennedy,mampir ke Belanda dan bertemu tokoh tokoh Belanda dan beberapa orang Papua.
Robert Kennedy bertanya kepada Belanda dan Papua:' Anda ingin Merdeka? Berapa banyak ada dokter orang Papua dan Pengacara orang Papua?."
Tokoh tokoh Belanda tak bisa menjawab,apalagi orang Papua. Karena memang pada waktu itu tidak ada dokter ataupun pengacara orang Papua.
Lalu terbetik kabar bahwa Robert Kennedy berkomentar:" Bagaimana Papua mau merdeka kalau tidak ada dokter dan pengacara orang orang Papua?"
Karena memang Belanda sengaja tidak mendidik rakyat Papua dan membiarkan mereka terbelakang.
Belanda memang mau menjadikan Papua tempat untuk orang orang Belanda atau setengah Belanda saja yang terusir dari Indonesia setelah Indonesia merdeka,tanpa memperdulikan rakyat Papua.
Sewaktu anak milyuner AS Rockefeler di tahun 1961 menghilang di Papua (entah dibunuh,entah dimakan binatang buas dsb)terbongkar bahwa memang Belanda tak pernah ada perhatian terhadap orang orang Papua.
Sebelumnya,penjajah Belanda membuat propaganda film tentang Papua untuk disebarkan di AS, menonjolkan betapa "majunya" orang orang Papua selama dalam penjajahan Belanda.Tetapi setelah rombongan wartawan AS mendarat untuk meliput kabar hilangnya Rockefeler,para wartawan membuat film sendiri tentang Papua,dan menonjolkan ke terbelakangan rakyat Papua selama ratusan tahun penjajahan Belanda.Kenyataan ini membuat Belanda maluuuuuuuu.sekali.
Sampai sekarang.misteri hilangnya Rockefeller masih belum terungkap.Juga barangkali disengaja oleh Belanda dipeti eskan.
Bisa juga dilihat di Australia,sampai sekarang bangsa Aborijin masih tetap terbelakang.Disengaja oleh para penjajah dari Eropa.
Nah Tuan Nelson Papua.silahkan renungkan komentar anda diatas dan bila anda mengetahui sejarah tanah anda sendiri,boleh membandingkannya dengan keadaan sekarang.
Memang,sekarangpun masih jauh dari kepuasan,tetapi dengan kerja keras rakyat Papua sendiri dan dibantu oleh rakyat dari kepualauan lainnya di Indonesia,saya yakin Papua bisa lebih maju.
saya juga orang papua dan
saya juga orang papua dan saya setuju dengan pendapat ANC
Di Indonesia sejak zaman Orde
Di Indonesia sejak zaman Orde Baru sampai kini juga ada apartheid, karena segala sektor, terutama pemerintahan pusat dikuasai kelompok tertentu. Yang lain tak boleh manggung.
Sekarang ini Orde Baru jilid
Sekarang ini Orde Baru jilid dua.
Seperti juga di
Seperti juga di Indonesia,penjajah Belanda memperlakukan sistim Apartheid yang lebih gila selama 350 tahun.
Menurut sejarah,banyak gedung2 diperuntukkan hanya untuk kaum Eropa,dluar gedung tertulis " VERBODEN VOOR HONDEN EN INLANDERS",yang artinya " TERLARANG UNTUK a***g DAN PRIBUMI". Penduduk pribumi Indonesia "disamakan" dengan a***g oleh penjajah Belanda keparat.
www.kukb.nl
Sekarang kita tidak dapat
Sekarang kita tidak dapat hanya me-maki2 orang Belanda terus.Kita harus lihat sekarang ini,negeri kita tercinta ini sudah merdeka hampir 65 tahun bagaimana keadaannya,dimana pemimpin yang memerintah juga orang Indonesia sendiri.
Belanda itu wajib dimaki dan
Belanda itu wajib dimaki dan dikecam oleh rakyat Indonesia.Belanda tidak pernah mengganti rugi kepada rakyat Indonesia yang selama 350 tahun dijajah,dibunuh dan kekayaan alamnya dikuras dan dibawa ke Belanda.Apalagi.Belanda tidak pernah meminta maaf kepada rakyat Indonesia atas perbuatannya.
Waktu Belanda diduduki oleh Jerman selama 5 tahun(1940-1945),Jerman harus meminta maaf dan mengganti rugi pem,Belanda (300 juta gulden ),malah sebagian tanah Jerman, didekat perbatasan Belanda-Jerman. dirampas oleh Belanda ( Dekat Nijmegen.prov.Gelderland).
Keluarga korban pembunuhan sadis tentara Belanda di Rawa Gede- Karawang,prov.Jawa Barat,menutut ganti rugi kepada pem,Belanda,tidak dikabulkan,malah ditertawakan,karena kata pem.Belanda,kasusu tsb.sudah 'kadaluwarsa'.
Kenapa keluarga kaum Yahudi di Belanda masih bisa menuntut kepada pem.Jerman atas kasus pembunuhan mereka waktu dijajah Jerman,padahal perang tsb. sudah berakhir th.1945?
Disinilah ketidak adilan Belanda.Belanda dulu dan sekarang,sama saja.Penjajah!
www.kukb.nl
Setahu saya Indonesia tidak
Setahu saya Indonesia tidak dijajah Belanda sampai kurun waktu 350 tahun lamanya..
Betul, pendapat Anda betul,
Betul, pendapat Anda betul, kami Heeren Zeventien, lewat Kongsi Dagang tidak pernah menjajah Hindia, apalagi sampai ratusan tahun. Yang menjajah Hindia itu adalah Kerajaan Nederland. Kami benci Kerajaan Nederland walaupun mereka seide dengan kami, karena selain pajak yang mereka ambil dari kami, mereka berambisi mengambil alih perdagangan kami di Hindia.
Kami kutipkan salah satu kekeliruan oleh seorang kakek tua yang dibaca jutaan orang di muka bumi ini (dikutip dari Capital volume One, Chapter Thirty-One: Genesis of the Industrial Capitalist) yang menunjukkan Kerajaan Nederland yang menjajah Hindia Timur
The history of the colonial administration of Holland — and Holland was the head capitalistic nation of the 17th century —
“is one of the most extraordinary relations of treachery, bribery, massacre, and meanness” [5]
Nothing is more characteristic than their system of stealing men, to get slaves for Java. The men stealers were trained for this purpose. The thief, the interpreter, and the seller, were the chief agents in this trade, native princes the chief sellers. The young people stolen, were thrown into the secret dungeons of Celebes, until they were ready for sending to the slave-ships. An official report says:
“This one town of Macassar, e.g., is full of secret prisons, one more horrible than the other, crammed with unfortunates, victims of greed and tyranny fettered in chains, forcibly torn from their families.”
To secure Malacca, the Dutch corrupted the Portuguese governor. He let them into the town in 1641. They hurried at once to his house and assassinated him, to “abstain” from the payment of £21,875, the price of his treason. Wherever they set foot, devastation and depopulation followed. Banjuwangi, a province of Java, in 1750 numbered over 80,000 inhabitants, in 1811 only 18,000. Sweet commerce!
Post new comment