PT GGF Merasa Kasus Pakan Ternak Beracun Terdapat Kejanggalan

SUKABUMI, (PRLM).- Pihak PT. Green Global and Farm (GGF) sebagai pelapor dalam kasus penipuan pakan ternak sapi perah beracun, merasa penanganan kasus oleh penyidik Polres Sukabumi terdapat beberapa kejanggalan. Kejanggalan tersebut justru berbalik bisa merugikan pihak pelapor. Bahkan mereka mensinyalir, penanganan kasus itu cenderung kental muatan politis sehingga diduga sudah keluar dari prosedur hukum yang berlaku.

"Beberapa kejanggalan itu, seperti tersangkanya tidak ditahan. Bahkan sekarang, tersangka malah menggugat balik kami dengan kasus penipuan, tapi dalam perkara yang sama. Ironisnya, Polres pun malah menerima pelaporannya. Masa iya sih, dalam perkara yang sama ada dua pelaporan. Bahkan pelapornya tersangkanya sendiri," ujar Humas PT GGF, Dhalia Bawole kepada wartawan di Palabuhanratu, Jumat (26/2).

Ia menjelaskan, tersangka Za yang diduga menjual pakan ternak beracun kepada PT GGF di Kec. Bantargadung, Kab. Sukabumi itu, statusnya kini tidak ditahan. Dengan tidak ditahannya tersangka, pihaknya khawatir Za akan menghilangkan barang bukti. Bahkan yang lebih ditakutkan lagi, tersangka akan terus memproduksi pakannya untuk dijual ke peternak lainnya di Kab. Sukabumi. "Jadi bukan hanya kita saja yang dirugikan oleh tersangka, tetapi perbuatannya bisa mengancam peternak lainnya di Kab. Sukabumi," kata Dhalia.

Menurut Dhalia, pakan ternak sapi perah yang dipasok Za, sama sekali tidak dilakukan pemeriksaan apalagi sampai diteliti di peternakan PT GGF. Sebab, dalam proses jual beli pakan ternak dari Za, sebatas tawar-menawar harga sekaligus menghitung jumlah kiriman barangnya. "Tidak benar, kalau pakan ternak kiriman Za sudah diperiksa dan diteliti bersama-sama di peternakan kami. Apalagi kami tidak punya laboraturium khusus pakan ternak," tutur Dhalia.

Justru fakta di lapangan, lanjut Dhalia, ratusan sapi perahnya satu persatu mati setelah mengonsumsi pakan ternak dari Za. Setelah sampel pakan ternak dari Za diteliti di Dinas Peternakan Kab. Sukabumi bahkan diteliti juga oleh penyidik Polres Sukabumi di laboraturium milik Deptan di Bekasi, hasilnya pakan itu positif mengandung racun. Pakan tersebut bisa mematikan ternak sapi.

Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Sukabumi, Ajun Komisaris Suciptono mengatakan, tidak ditahannya tersangka ZA karena kedua belah pihak (termasuk PT GGF) dinilai sama-sama kooperatif. Sedangan alasan penerimaan laporan gugatan balik dari tersangka ZA, dengan pertimbangan sesama warga Indonesia berhak melaporkan apabila punya masalah.

Diakui, sebelumnya tersangka Za melaporkan kasus penipuan yang dilakukan PT GGF. Sebab, perusahaan itu tidak membayar pembelian pakan ternak kiriman terakhir dari Za. Dalam kasus itu, penyidik sudah memerika sejumlah saksi dari PT GGF. "Kasusnya kita persangkakan dengan pasal 378 tentang penipuan. Prosesnya hingga saat ini sudah tahap penyidikan," kata Suciptono.

Ditanya pernyataan PT GGF yang mensinyalir penanganan kasus pakan sapi ternak beracun itu kental muatan politis, ia membantahnya. Penanganan kasus tersebut tetap berjalan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Bahkan berkas-berkasnya, sudah dilimpahkan ke kejaksaan. (A-67/das)**

Baca Juga

razia lalu lintas

Langgar Aturan Lalu Lintas Dihukum Baca Alquran

RUSMANA (43), warga Selakaso, Desa Cikaret, Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi mengaku sangat terharu ketika terjaring razia Satlantas Polres Sukabumi Kota. Ia tidak ditilang, ia justru dihukum baca Alquran.

Ridwan Kamil Tinjau Progres RISA

GARUT, (PR).- Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meninjau progres pembangunan bantuan rumah tapak untuk korban bencana alam di Garut. Rumah bantuan tersebut diberinama RISA (Rumah Instan Sehat dan Aman).