Kamar Mandi dan WC Sangat Terbatas

ARAFAH (PRLM).- Untuk mandi atau sekadar cuci muka di pemondokan, jemaah haji harus antre. Kalaupun sudah dapat giliran, jemaah haji tidak bisa memanfaatkan berlama-lama. Terutama saat berada di Arafah, Muzdalifah, atau Mina, karena di sana terdapat tiga juta jemaah haji. Sementara kamar mandi dan WC tersedia sangat terbatas.

Menghadapi situasi yang demikian, haruskah jemaah haji memaki-maki, marah-marah, atau membatalkan masuk kamar mandi atau WC? Membatalkan masuk WC, silakan, tapi kalau mau masuk WC yang lain harus antre lagi. Kalaupun dapat giliran, belum tentu, kondisinya lebih baik dari WC yang pertama. Atau mau buang hajat di sembarang tempat? Dalam situasi jutaan orang berkumpul, hampir tidak ada tempat yang tidak ada orang lain. Kalaupun nekat melakukannya, ini merupakan pilihan yang amat memalukan.

Menghadapi situasi yang demikian, maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali menjadi jemaah haji yang mabrur. Mabrur berasal dari kata “birru” artinya baik. Haji mabrur adalah haji yang menyebabkan pelakunya menjadi orang yang senantiasa berbuat baik. Apa yang harus dilakukan jemaah haji mabrur saat menghadapi WC yang penuh dan tidak disiram? Bersihkan. Dengan membersihkan WC, kita dapat hajat dengan lebih nyaman. Lagi pula, dengan membersihkan WC, bisa jadi, ini adalah ekspresi kita yang pertama berbuat baik untuk orang lain. Pengguna WC berikutnya pun akan menikmati WC dengan nyaman berkat sentuhan haji mabrur tersebut.

Maka jika semua jemaah haji membawa bekal takwa, niscaya WC dan kamar mandi di Tanah Suci akan senantiasa bersih. Tidak akan terjadi perdebatan, kalaupun ada perbedaan pendapat, dicarikan jalan keluar dengan musyawarah. Solidaritas yang terjalin secara harmonis di antara jemaah haji yang takwa niscaya membangun kekuatan umat yang pada gilirannya mampu membangun baldatun thayibatun warabbun ghafur. Itulah kontribusi besar yang mestinya disumbangkan jemaah haji kepada lingkungan sekitar.  (A-79/A-147)***

Komentari di Facebook !