Pemikiran dan Pengalaman Dewi Sartika, Melawan Stigma agar Impian Jadi Nyata

Dewi Sartika/DOK. PR

CEMOOHAN terhadap profesi guru perempuan tidak membuat Dewi Sartika goyah, apalagi mundur dari aktivitasnya. Semangatnya makin menggebu untuk mewujudkan harapan-harapannya.

”Tatapi nu ngarang teu pisan galideur, unggut kalinduan, gedag kaanginan, sabab geus jamak bae anu hirup teh, najan sakumaha hade bageurna ge, sok aya bae nu dengki. Mungguh di bangsa urang nu matak dengki batur teh aya tilu; banda, bagja, rupa.” (halaman 18).

Masa perjuangan Dewi Sartika bersamaan pula dengan tumbuhnya kesadaran baru di te­ngah masyarakat Indonesia untuk mengubah nasib mela­lui gerakan terorganisasi. Pada tahun 1905 berdiri Sarikat Dagang Islam (SDI), pada 1908 lahir Budi Utomo, dan 1912 dideklarasikan Sarikat Islam (SI). Orang-orang pribumi bermunculan menjadi tokoh penting di kancah nasional.

Figur semacam Abdul Rivai, misalnya, menjadi salah satu referensi bagi dunia perge­rakan. Pemuda asal Sumatra Barat tersebut adalah orang Indonesia pertama yang lulus sebagai dokter Belanda sekaligus sebagai doktor (S-3) pertama. Pada 1910 Abdul Rivai bertugas sebagai dokter militer di Cimahi, lalu Cicadas, dan selanjutnya berpindah-pindah tempat pekerjaan.

Dia juga seorang jurnalis dan aktif di dunia politik. Istilah ”kaum muda” sering muncul dalam berbagai tulisannya dan menjadi tren di kalangan masyarakat. Istilah itu menunjukkan semangat untuk tampil sebagai pelopor bagi kemajuan bangsa.

Dewi Sartika memang melek informasi dan menyerap betul semangat yang dikobarkan Abdul Rivai. Dia mengakui, ”kaum muda” membuatnya makin tegar. ”Sumawona barang geus rame basa ’kaum muda’, beuki pangger hate teh.” (halaman 12).

Dengan demikian, Dewi Sartika makin kuat berjalan dengan keyakinan sendiri dan ber­usaha sebisa mungkin melang­kahkan kaki di ”zaman kemajuan”. Sementara, yang dipi­kirkan siang dan malam tiada lain tentang sekolah kaum perempuan.

Dia berpikir keras, bagaimana caranya agar para orangtua mau menyekolahkan anak perempuannya. Bagaimana pula supaya anak-anak perempuan itu mau bersekolah hingga selesai. Materi pelajarannya juga menjadi bahan pemikiran Dewi Sartika agar membuahkan hasil sesuai dengan harapan.

perempuan tercantik di dunia biografi tokoh inohong sunda

Dewi Sartika tidak sungkan untuk bertanya ke berbagai kalang­an. Bertukar pikiran dengan para sesepuh, orang-orang pintar, para seniman buda­ya­wan, bahkan kepada para bupati.

Dia berterus terang sebetulnya sungkan melakukan hal itu. Namun, mau tidak mau Dewi Sartika harus menjawab per­ta­nyaan: apa sesungguhnya yang dibutuhkan perempuan agar hidup mereka tidak seng­sara?

Pada 1910 berdiri perkumpulan ”Kautamaan Istri” atas inisiatif inspektur sekolah yang baru, yakni JCJ van Bemmel. Dewi Sartika terlibat aktif di dalamnya. Tujuannya untuk lebih memajukan pendidikan kaum perempuan. Perkumpulan ini mengelola sekolah bagi kaum perempuan. Untuk mendu­kung kegiatan tesebut dilakukan pengumpulan dana. Ini merupakan salah satu jawaban atas usaha keras Dewi Sartika.

Hadapi stigma

Sementara, guru perempuan dicemoohkan, anak-anak pe­rempuan juga menghadapi stigmatisasi (sikap merendah­kan). Para orangtua meng­ang­gap anak-anaknya tidak perlu bersekolah dengan ber­bagai alasan, baik alasan karena pemahaman agama maupun karena kebiasaan masyarakat.

Misalnya, ”Ah awewe mah teu kudu sakola, da najan pinter oge moal jeneng cara lalaki. Asal bageur bae, bisa ngejo, bisa nyambel, beberes di imah, keur kumawula ka lalakina. Cenah hayang bisa nulis, menta bae dipapatahan ka salakina.” (halaman 17).

Atau ”Is, awewe mah lain disakolakeun, sina ngaji, diajar rarakatan salat, ngaji sipat dua puluh, ambeh bageur, aya keur megat napsuna; da awewe mah kudu gede bendungan. Awewe mah teu meunang katenjo ku lalaki sejen, anging ku salakina ­jeung akrabna. Ku sabab eta awewe mah teu hade disa­kolakeun.” (halaman17).

Akan tetapi, Dewi Sartika tidak melawan sikap itu dengan frontal. Dia menilai, alasan-alasan itu tidak salah dan didasari kekhawatiran anak perempuan mereka salah melangkah. Dalam pandang­annya, setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan, tidak cukup hanya menjadi orang baik. Mereka harus memiliki pengetahuan dan keterampilan agar kelang­sungan hidupnya terjaga.

Kekhawatiran para orangtua terjadi karena tidak paham manfaat sekolah. Mereka mengira, kata Dewi Sartika, sekolah hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung.

Padahal, di sekolah diajarkan kebersihan, tata pergaulan, berbahasa, disiplin, kepatuhan, hiburan, spiritual, atau juga belajar mengelola keuangan dan menabung.

Bahkan, di sekolah untuk perempuan itu, ditambah tiga pelajaran lagi yang lebih spesifik. Karajinan istri, yang meliputi menyulam, songket, merenda, menjahit, membuat kembang kertas, dan menggambar. Imah-imah, seperti merapikan, mencuci, melipat, dan menyetrika pakai­an, mencuci perabotan rumah, membersihkan ha­laman, dan mengurus makanan. Olah, yakni belajar mengolah makanan.

Dewi Sartika mengisahkan sosok terkenal dari Amerika yang bernama Thomas Alva Edison, sang penemu listrik. Kegigihannya dalam mempelajari sesuatu bidang, membuatnya berhasil dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Walaupun saat itu kondisi bangsa Indonesia bagai bumi dan langit jika dibandingkan dengan bangsa Amerika, itu bukan tanpa harapan.

”Tapi teu mustahil, teu kapanggih ku urang, sugan ku anak incu. Sabab di jaman ayeuna oge geus mimiti bangsa urang maju, kaserepan kapinteran bangsa Eropa. Tapi rereana bangsa pameget, nyaeta putra-putra menak atawa anu baleunghar, ari istri mah tacan pati rea,” kata Dewi Sartika (halaman 23). Tampak sekali optimisme seorang perempuan bersemangat baja.

Pada peristiwa Bandung Lautan Api tahun 1946, Dewi Sartika sekeluarga meninggalkan Bandung, mengungsi ke beberapa tempat dan akhirnya tiba di Cineam, Kabupaten Tasikmalaya. Dewi Sartika meninggal dunia pada 11 September 1947. Pada 1951, jasadnya dipindahkan ke Bandung.

Atas peranannya dalam pendidikan kaum perempuan, pemerintah mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1966. Sayangnya, masyarakat Jabar terkesan kurang peduli terhadap perempuan hebat ini. (Enton Supriyatna Sind)***

You voted 'tidak peduli'.

Baca Juga

Indonesia Didesak Ikut Redam Konflik Yaman

JAKARTA, (PR).- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah diplomatis dan ikut andil dalam upaya menciptakan perdamaian di Yaman. Hal ini dikatakan Ketua Umum PBNU KH.