Surat Bupati Cianjur Merupakan Penggunaan Aksara Latin Pertama di Nusantara?

Surat Bupati Cianjur untuk Thomas Stamford Raffles/DOK. PR

MASYARAKAT nusantara memiliki sejarah panjang dalam penggunaan aksara. Hingga kini, bukti tertua menge­nai keberadaan aksara di nusantara adalah tujuh buah yupa (tiang batu) bertu­lis­kan prasasti mengenai upa­cara waprakeswara yang diselenggarakan oleh Mulawarman, penguasa Kerajaan Kutai (kini termasuk wilayah Provinsi Kalimantan Timur).

Prasasti itu mengandung teks yang di­tulis dengan menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Para ahli menyimpulkan bahwa prasasti tersebut ditulis pada abad ke-4 Masehi, bertepatan dengan masa kekuasaan Dinasti Pallawa di India selatan.

JG De Casparis, dalam buku berjudul Indonesian Palaeo­graphy: a History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C.A.D. 1500, mem­bagi penggunaan aksara di nusantara menjadi beberapa fase.

Pertama, sebelum perte­ngahan abad ke-8 Masehi, masya­rakat nusantara menggunakan aksara Pallawa Awal dan Pallawa Akhir.

Kedua, pada periode 750-925 Masehi, aksara yang digunakan adalah Kawi Awal, mulai dari fase arkaik hingga ditemukan ­bentuk standar.

Ketiga, pada periode 925-1250 Masehi, digunakan aksara yang dinamakan Kawi Akhir. Sejumlah aksara tradisional di nusantara dimasukkan ke dalam kategori ini, terutama aksara Bali, ­Sunda, dan Sumatra Selatan.

Keempat, pada periode 1250-1450 Masehi, Casparis mengate­gorikan aksara yang digunakan di nusantara sebagai aksara ”Jawa aksara-aksara regional pada periode Majapahit”.

Selanjutnya, sejak pertengah­an abad ke-15 itu, barulah aksara-aksara asing—seperti Tamil dan Arab—digunakan. Meskipun demikian, pembagian fase penggunaan aksara itu tidaklah bersifat kaku.

Hal itu lantaran proses penyebaran dan penerapan unsur-unsur budaya baru untuk menggantikan yang lama, termasuk penggunaan aksara, tidak berlangsung sekaligus, tetapi secara bertahap.

Dalam hal aksara Jawi (Arab Melayu), misalnya, ­Casparis menyatakan bahwa aksara itu digunakan pada pertengahan abad ke-15.

Padahal, bukti arkeologis menunjukkan bahwa aksara itu telah digunakan setidaknya pada permulaan abad ke-14 Masehi, sebagaimana ditunjukkan oleh Batu Bersurat Terengganu yang bertarikh 1303 Masehi (702 Hijriah).

Aksara Jawi

Amin Sweeney, dalam buku Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 3: Hikayat Abdullah (2008), mengungkapkan ­bahwa hingga pertengahan abad ke-20, sebagian besar orang Melayu, terutama yang bermukim di Semenanjung, terbiasa menulis menggunakan aksara Jawi daripada Latin (Rumi).

Sementara, di Hindia Belanda, penggunaan aksara Jawi tergeser beberapa dekade lebih awal. Namun, sejak pertengahan abad ke-20 itu, baik di Indonesia maupun di Malaysia, pengetahuan terhadap aksara Jawi merosot secara radikal, digantikan oleh aksara Latin (Rumi).

Menurut Harimurti Kridalaksana, dalam buku Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai (1991), di Indonesia, tradisi penulisan bahasa Melayu menggunakan aksara Latin sudah berlangsung sebelum abad ke-20, tetapi tanpa mengenal ortografi (sistem ejaan) yang se­ragam. Tak heran jika terjadi perbedaan tulisan di antara penulis.

Biasanya, tulisan-tulisan itu bersifat fonetis karena dibentuk oleh dan/atau untuk kepentingan orang asing (bukan Indonesia).

Ejaan baku pertama bahasa Melayu, yang boleh dikatakan mengakhiri ketakseragaman pengejaan itu, dilembagakan oleh Charles Adriaan van Ophuijsen dan diterbitkan melalui karya berjudul Kitab Logat Melajoe pada tahun 1901.

Sistem, yang kelak dikenal sebagai Ejaan Van Ophuijsen 1901, itu menjadi ejaan resmi bahasa Melayu di daerah jajahan Belanda.

Surat dari Cianjur

Ketika menyelusuri koleksi naskah koleksi British Library, melalui situs web www.bl.uk, dimenemukan sebuah surat yang ditulis oleh Bupati Cianjur untuk Thomas Stamford Raffles.

Bupati Cianjur itu bernama Raden Aria Adipati Prawiradireja I, memerintah pada periode 1813-1833, dan kelak dikenal sebagai Dalem Sepuh.

Surat tersebut merupakan bagian dari bundel Add MS 45273 (Raffles Papers Vol III). Bundel itu berisi surat dari para penguasa (dan penduduk) Jawa untuk Thomas Stamford Raffles yang menyudahi tugas sebagai letnan gubernur lalu berlayar menuju London pada warsa 1816. Surat-surat itu mengandung tema yang sama, yakni ucapan salam perpisahan.

Sayangnya, British Library tak memberikan informasi detail ihwal fisik setiap surat, termasuk ukuran kertas yang digunakan.

Di bagian deskripsi fisik, hanya dijelaskan bahwa bundel itu berukuran 385 x 270 milimeter, dengan bagian luar berjilid separuh kulit dan kertas linen warna merah, serta  memuat 125 surat yang di­tulis di atas berbagai jenis dan ukuran kertas. Namun, setelah dihitung ulang, diemukan fakta bahwa bundel itu hanya memuat 54 surat.

Selain itu, terdapat pula hasil terjemahan surat-surat tersebut yang, kemungkinan, dilakukan sendiri oleh Thomas Stamford Raffles.

Menurut Demetrius Charles Boulger, dalam buku The Life of Sir Stamford Raffles (1897), sebagian besar surat tersebut dite­rima Raffles ketika ia sudah ber­ada di London.

Surat-surat di dalam bundel itu pun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan menjadi buku dengan judul Addresses, &c. Presented to Mr. Raffles, on the Occasion of His Departure from Java (1817).

Perpisahan

Jika dilihat dari sisi isi, seperti dikemukakan sebelumnya, semua surat tersebut berisi ucapan perpisahan untuk Thomas Stamford Raffles. Para pengirim surat meng­ekspresikan kesedihan karena ditinggalkan sang letnan gubernur. Mereka juga menya­takan, tidak akan pernah melupakan sosok Raffles sampai kapan pun sekaligus bersyukur atas segala kebaikan yang telah diberikan kepada tanah Jawa.

Kepergian Raffles merupakan konsekuensi dari hasil Konvensi London (13 Agustus 1814) dan Kongres Wina (1 September 1814 hingga 9 Juni 1815).

Raffles sebenarnya ditunjuk sebagai Gubernur Bengkulu. Namun, ia tak bisa langsung menjalankan tugas karena kondisi kesehatan yang kian menurun. Ia meminta waktu untuk terlebih dahulu tetirah di kampung halamannya, Inggris.

Keputusan untuk menggantikan posisi Raffles sebenarnya sudah diambil pada tanggal 5 Mei 1815. Namun, baru pada tanggal 11 Maret 1816, Raffles menerima perintah untuk menyerahkan jabatan kepada Mr Fendall.

Dalam kondisi kesehatan yang memburuk, ia diminta meninggalkan Bogor untuk berpindah ke rumah lain di Cisarua. Raffles berang­kat dari Bogor pada pukul 3.00 menuju Ryswick di Batavia bertemu gubernur jenderal dan menyerahkan jabatan. Pada 25 Maret 1816, ia berlayar hala ke London.

Dari total 54 surat di dalam bundel tersebut, sebanyak 11 surat ditulis oleh para pejabat dan penduduk Pulau Jawa berkebangsaan Eropa.

Terda­pat 9 surat ditulis menggunakan aksara Latin dan bahasa Inggris, sedangkan 2 surat lainnya menggunakan aksara Latin dalam dua bahasa, yakni Inggris dan ­Belanda.

Selain itu, terdapat 43 surat yang ditulis oleh para pejabat/­penguasa dari kalang­an pribumi. Dari jumlah tersebut, terdapat 40 surat ditulis dengan menggunakan aksara Jawa (dan bahasa Jawa), 2 surat menggunakan aksara Jawi berbahasa Melayu, dan 1 surat menggunakan aksara Latin berbahasa Melayu.

Satu-satunya surat dalam aksara Latin bahasa Melayu ­itulah yang ditulis oleh Bupati Cianjur Raden Aria Adipati Prawiradireja pada tanggal 11 Jumadilawal 1231 Hijriah (9 April 1816 Masehi). Begini bunyi surat itu:

Alamat soerat inie moeda moedahan Barang Kiranja disampij ken ole Toean sarwa saklian alam inie kabawa doelie padoeka maha Toean njang maha moelija lagi maha Besar ijaito Toean Goeper Noer Tomas Satem Raples njang ada doedoek didalam Negri Englan dengen sedja Tranja.

Adapoen koemdian dari pada ito hamba mambri taú dari pada Prihal Toean mangasi soerat kapada hamba njang dibawa ole Toean Resdent ma Koeid ito hamba soeda trima sarta soeda mangatahoei didalamja soerat ito den lagi Toean mambri taú kapada hamba jikalo sakarang ada sato orang besar njang manganti kadoedoekan Toean mamarenta dipoelo jawa maka hambapoen Trima lagi prenta Toean dimikian ito den lagi dari pada Toean mambri kabar pada hamba jika Toean henda koembali kanagri Englan ito telaloe manjadi doeka Tjita atij hamba sebab soeda marasa kebetjikan dari pada malakoeken prenta Toean njang jato atas hamba Dengan sagala slamat pada hamba marasaij koernia Toean sabab ito la mang ka hamba manjadi telalo Doeka Tjita mangeneng ken koernia Toean kapada hamba sakarang inie soeda sampe kahenda Toean njang manjadiken sakalian alam soeda sabagito janjinja mangka hamba mohoen moehoenken siang den malem kapada Toean njang manjadiken sakalian alam inie soepaija slamat Per jalanan padoeka maha Toean maka moeda moedahan mandapet njang lebi tingi lagi maha Besar. Den lagi Toean manjataken pada sakalian Regent Regent dimikian lagi kapada sakalian Bala Raijat atas Poelo Jawa ito njang soeda katarima den Toean dari pada prihalnja sakalian aken orang Besar. mangka hamba manarima kasi sarta manjoeng joeng panarimaan padoeka maha Toean njang dimikian itu den lagi ham­ba mambri taú dari prihal istri hamba sarta mama mama hamba sakalian sanget doeka Tjita saperti kailangan tempatnja bernawoeng diri den lagi hamba Par sembaken sakeping soerat inie kabawa doeli Padoeka maha Toean aken jadi ganti Par temoean hamba kabawa <f.36r> Doeli Padoeka Toean saola ola hamba Par temoe sendiri joea adanja

Tertoelies Pada 11 hari Boelan joemadiel awal Taún 1816 (1231)

Toemongoeng P wi Diredja

Regent ditana Tjiandjoer

Mungkinkah surat itu merupakan naskah berbahasa Melayu pertama yang di­tulis menggunakan aksara La­tin?

Mungkinkah pula sang Bupati Cianjur merupakan tokoh pribumi pertama yang menggunakan aksara Latin untuk menuliskan bahasa Melayu?

You voted 'sedih'.

Baca Juga

Ini Daftar 33 Penggunaan Gratifikasi Zumi Zola

JAKARTA, (PR).- Surat dakwaan terhadap Gubernur Jambi periode 2016-2021 Zumi Zola Zulkifli mengungkap bentuk-bentuk penggunaan gratifikasi senilai Rp 40,477 miliar dolar ditambah 177.300 dolar (sekira Rp 2,594 miliar) serta 100.000 dolar S

Prabowo dan Jokowi Berpelukan, Sandiaga Uno Merinding

YOGYAKARTA, (PR).- Bakal calon wakil presiden pasangan Prabowo Subianto, Sandiaga Uno mengaku merinding saat melihat Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto berpelukan di sela menyaksikan Pencak Silat Asian Games 2018.