Sejarah Penggunaan Aksara Latin di Nusantara, Pada Mulanya Penerjemahan Injil

Sampul Injil Matius terjemahan bahasa Melayu karya Albert Cornelisz Ruyl (1629)/DOK. PR

SIAPA nyana, aksara Latin sudah di­gunakan untuk menuliskan bahasa Melayu setidaknya pada abad ke-17. Meski demikian, Alif Danya Munsyi, dalam buku Bahasa Menunjukkan Bangsa (2005), menyatakan bahwa aksara Latin dikenalkan secara resmi di nusantara pada tahun 1536 melalui sekolah pertama di Indonesia yang didirikan di Ambon oleh penguasa ­Portugis, Antonio Galvao.

Dari situlah masyarakat Ambon mengenal bahasa Melayu, terutama melalui karya-karya Fransiscus Xaverius, sang misionaris.

Sebelum menjalankan misi di Ambon, ia terlebih dahulu meminta seseorang di Malaka untuk me­ner­jemahkan ayat-ayat pegangan Nasrani, se­perti ”Doa Bapa Kami”, ”Salam Maria”, dan ”Syahadat Rasuli”. Ayat-ayat pegangan itulah yang ia ucapkan ketika mengelilingi wilayah Ambon dan sekitarnya dengan membawa ­lonceng.

Munsyi menulis, ”Siapa yang bisa menghafal ayat-ayat pegangan itu lantas dibaptis di bawah nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tapi, baru satu abad kemudian kitab suci ­Nasrani dicetak dalam bahasa Melayu. Dan, sejauh ini, kitab itulah yang boleh dikata se­bagai cetakan tertua dalam sejarah pustaka ­Indonesia bertuliskan Latin, dikerjakan oleh ­Brouwerius, diterbitkan pada 1663.”

Oleh karena itu, tak heran jika bangsa Belanda, yang datang setelah Portugis, menda­pati penduduk Ambon telah mengenal bahasa Melayu. Kenyataan itu menginspirasi Belanda untuk menjadikan bahasa Me­layu sebagai bahasa administratif, tak terkecuali di Maluku.

Pembelajaran bahasa Melayu ke masyarakat pun digalak­kan. Dalam hal ini, satu tokoh paling penting dalam proses pengajaran bahasa Melayu adalah Joseph Kam, pendeta Protestan yang bernaung di bawah Nederlands Zende­lingen Genootschap (NZG).

Akan tetapi, kami berpendapat, penjelasan Munsyi tentang penggalakan pembelajaran bahasa Melayu di nusantara, termasuk peran Joseph Kam, masih kabur.

Soalnya, tidak ada pem­babakan yang jelas tentang sejarah penggunaan aksara Latin di Nusantara. Lagi pun, hingga kini, saya tidak/­belum menemukan bukti konkret berupa naskah dengan teks berbahasa Melayu dan ­ditulis dengan menggunakan aksara Latin.

Selain itu, Munsyi memuat kisah tentang peran Joseph Kam seolah-olah berlangsung pada abad ke-16 atau setidak­nya abad ke-17. Padahal, ber­dasarkan literatur lain, Joseph Kam hidup pada abad ke-18 hingga ke-19.

Misionaris ­Kristen Protestan yang memang ditugaskan untuk wilayah Maluku—sehingga mendapat gelar ”Rasul Maluku”—itu lahir pada tahun 1769 dan meninggal dunia ­pada tahun 1833.

Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink, dalam buku A History of Christianity in Indonesia (2008), menyebut­kan bahwa Joseph Kam ber­layar menuju Pulau Jawa (Batavia) atas bantuan London Missionary Society pada tahun 1814.

Meskipun demikian, ia baru tiba di Ambon pada ­tanggal 3 Maret 1815. Hal itu menegaskan bahwa peran Kam, termasuk dalam peng­ajaran bahasa Melayu, baru terjadi pada dekade kedua abad ke-19.

Penyebaran agama Kristen

Dianne Bergant dan Robert J Karris, dalam buku Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (2002), menyebutkan bahwa penggunaan aksara Latin untuk menuliskan ­bahasa Melayu terutama di­tujukan bagi penyebaran ­agama Kristen.

Disebutkan, tak lama setelah Belanda, dalam konteks ini VOC, menjejakkan kaki di nusantara, penerjemahan Injil ke dalam bahasa Melayu sudah dilakukan.

Hal itu dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa bahasa Melayu merupakan ­bahasa kebudayaan di serata nusantara.

Tokoh pertama yang meng­alihbahasakan Injil ke dalam bahasa Melayu adalah Albert Cornelisz Ruyl. Ia menyelesai­kan terjemahan Injil Matius pada tahun 1612, tetapi baru diterbitkan pada tahun 1629.

Sembilan tahun berselang, ­pada 1638, ia kembali meluncurkan karya terjemah­an Injil Markus. Kini, kedua karya terjemahan Ruyl itu menjadi bagian dari koleksi Württembergische Landes­bibliothek Stuttgart, Jerman.

Selanjutnya, pada tahun 1646, diterbitkan pula Injil Lukas dan Injil Yohanes dengan alih bahasa yang dikerjakan oleh Jan van Hazel.

Pada tahun 1691, Melchior Leydekker dan Petrus van der Vorm ditugaskan untuk meng­alihbahasakan semua Alkitab itu ke dalam bahasa Melayu tinggi yang, sayangnya, tidak dimengerti oleh rakyat biasa. Lagi pula, mereka mengguna­kan banyak sekali kata asing yang berasal dari bahasa Arab dan Persia.

Kenyataan itulah yang menimbulkan ”perlawanan” Francois Valentyn yang kemudian menerjemahkan semua Alkitab ke dalam bahasa Melayu Maluku.

Meskipun demikian, Alkitab terjemahan Leydekker dan van der Vorm tetap diterima, terus direvisi, bahkan diterbitkan kembali pada tahun 1733 serta dicetak berulang kali hingga tahun 1916.

Belanda dan Melayu

Kembali kepada dua Injil terjemahan Ruyl. Ternyata, dalam karya terjemahan itu, dia menggunakan aksara Latin dalam dua bahasa, yakni Belanda dan Melayu.

Ditilik dari sisi ortografi, Ruyl mengguna­kan ”ejaan yang lebih klasik” dibandingkan dengan surat Bupati Cianjur kepada Thomas Stamford Raffles (1816) dan naskah-naskah karya Johannes Adrianus ­Wilhelmus van Ophuijsen (1851 dan 1857).

Berikut ini kami sajikan contoh yang dicuplik dari Bagian awal Injil Matius (EVANGELIVMVLKADVS berʃuratnja kapada, MATTHEVM. Iang bagij Bermula), yakni ayat ­ke-16 hingga ke-20:

16. Dari Iakůb menjadi Iůʃůf ʃůwami mariam, dari sjapa menjadi ber-anak Ieʃus, jang jadi bernamma Chriʃtus.

17. Segala půpů dari Ibrahim ʃampey ka Davůd jadi ampatblas půpů, daan dari Davůd ʃampey ka henterran ka nagri Babilonia jadi ­ampatblas půpů, daan dari henterran ka-nagri Babilonia ʃampey Chriʃtus, ija ­ampatblas půpů.

18. Makka bagitů jadin’ja tatkalla menjadi ber-anaki Ieʃu Chriʃti, tatkalla ibůn’ja Mariam bertogokã kawin dang-an Iůʃof, ʃedang bůlom ber-tidor ʃammaʃamma, makka dian’ja berbonting dari pada růah ůlkadůs.

19. Makka ʃůamin’ja Iůʃof, karna ʃebab dia menjadi adil, daã tiädan’ja hendak memmerin’ja malůhan, hendak tingalkan dianja ­berbi­ʃik-biʃik.

20. Makka tatkala dia berhendak itů, liatla malaïkat Allah meng-hadapn’nja da­lam mimpi, makka oůd’jern’ja Iůʃof anak Davůd, d’jang-an angkou takůt meng-ambil Mariam akan eʃtrimů, karna jang menjadi kadalam Aij diän’ja [dian’ja], jadi ija dari pada Růah ůlkadůs.***

You voted 'terinspirasi'.

Baca Juga

Prabowo dan Jokowi Berpelukan, Sandiaga Uno Merinding

YOGYAKARTA, (PR).- Bakal calon wakil presiden pasangan Prabowo Subianto, Sandiaga Uno mengaku merinding saat melihat Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto berpelukan di sela menyaksikan Pencak Silat Asian Games 2018.