Ikuti Aksi Bela Palestina di Jakarta, 20.000 Orang Siap Berangkat dari Bandung

Dome of the Rock/REUTERS
KUBAH Batu tampak di belakang warga Palestina yang melakasanakan salat Jumat di kompeks masjid Al Aqsa 12 Juli 2013 lalu.*

JAKARTA, (PR).- Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid Aa Gym (Abdullah Gymnastiar) mengatakan, pihaknya mengkoordinasikan sekira 20.000 orang yang rencananya akan berangkat ke Jakarta pada Minggu 17 desember 2017 guna mengikuti unjuk rasa Aksi Bela Palestina. 

"Targetnya 20.000 ikut. Ada yang dari Bandung, Jakarta, dan cabang-cabang," kata Aa Gym saat ditemui di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis 14 Desember 2017.

Saat menghadiri rapat gabungan MUI dengan ormas terkait persiapan demo Aksi Bela Palestina, dia mengatakan, sejauh ini, Daarut Tauhid sudah menyiapkan sekitar 100 bus yang akan digunakan untuk mengangkut peserta aksi unjuk rasa menentang pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Sejumlah jamaah, kata Aa Gym, akan berangkat dari Pondok Pesantren Daarut Tauhid dengan berkumpul terlebih dahulu pukul 22.00 WIB, Sabtu 16 Desember 2017 dan diisi dengan kegiatan iktikaf.

Pada pukul 00.00 WIB, Minggu 17 Desember 2017, peserta aksi akan berangkat dari Bandung menuju Jakarta untuk ikut Aksi Bela Palestina di kawasan Monas, Jakarta pukul 6.00 WIB di hari yang sama. Demikian dilaporkan Antara.

Aa Gym mengatakan, dia bersama para santri Daarut Tauhid akan ikut serta dalam Aksi Bela Palestina sekaligus membantu berperan membantu kebersihan selama aksi unjuk rasa.

"Saya akan hadir bersama santri dan tim, seperti biasa, bagian bantu-bantu kebersihan. Untuk yang hadir, bersiap agar menjadi tertib walaupun bertamu ke Jakarta tidak meninggalkan kotor sekecil apapun. Datang bersih, pulang harus lebih bersih Jakarta ini," kata dia.

Terkait pernyataan Donald Trump, Aa Gym mengatakan, presiden Amerika Serikat itu telah mencirikan dirinya sebagai seorang yang tidak punya moral yang baik karena berusaha untuk terus menekan Palestina.

"Kita bisa bersatu tergugah. Pertama, kita punya tanggung jawab bersama kepada Palestina yang dijajah, sangat tidak bermoral dan siapapun yang mendukungnya juga tidak memiliki kartu komitmen yang baik," kata dia.

"Bahwa ini adalah pelanggaran yang sangat nyata terhadap hukum internasional. Mendukung penjajahan adalah perbuatan yang harus ditolak oleh seluruh masyarakat dunia yang beradab," katanya.***

Baca Juga

Setahun Pemerintahan Donald Trump dan Dampaknya di Timur Tengah

HAMPIR setahun lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dibuat geram oleh tindakan pemerintah Amerika Serikat yang tidak menggunakan hak veto untuk menghentikan resolusi Dewan Keamanan PBB soal pemukiman Israel di tanah Palestina. 

Israel Sahkan RUU Hukuman Mati untuk Warga Palestina

JERUSALEM, (PR).- Parlemen Israel, Rabu 3 Januari 2018 memberikan persetujuan awal bagi rancangan undang-undang yang mengizinkan hukuman mati atas warga Palestina yang melakukan serangan terhadap negara tersebut.