Jokowi Kecam Trump, Pengakuan Sepihak Jerusalem Langgar Ketentuan PBB

DOK. PEMPROV JABAR
Presiden Joko Widodo menghadiri Dies Natalis ke 54 IPB.

BOGOR, (PR).- Presiden Joko Widodo menyampaikan kecamannya terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Ia menilai AS telah melakukan pengakuan sepihak dan telah melanggar ketentuan Dewan Keamanan PBB.

Ia mengatakan, pengakuan sepihak AS bisa mengancam stabilitas keamanan dunia. “Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan meminta AS mempertimbangkan kembali keputusan tersebut,” ujarnya di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis, 7 Desember 2017.

Joko Widodo mengatakan, dirinya bersama-sama rakyat Indonesia akan tetap konsisten memperjuangkan kemerdekaan dan hak Palestina. Hal itu dikatakannya selaras dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Penyikapan

Pernyaaan sepihak AS itu memunculkan desakan kepada negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam agar mengambil sikap yang tegas. Joko Widodo mengatakan, dalam beberapa hari ini pemerintah telah berkomunikasi dengan negara-negara OKI untuk segera melaksanakan sidang khusus.

Menurutnya, setelah komunikasi terjalin dengan negara-negara OKI, muncul rencana sidang khusus akan digelar pada 13 Desember 2017 di Istanbul, Turki. “Kalau OKI sudah memutuskan untuk segera bersidang, saya akan datang langsung ke sana,” katanya.

Joko Widodo juga meminta Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi untuk memanggil Dubes AS. Retno ditugaskan olehnya menyampaikan sikap pemerintah Indonesia terhadap AS.***

Baca Juga

Meresmikan Kereta Api Bandara, Jokowi Berpenampilan Santai

TANGERANG, (PR).- Presiden Joko Widodo meresmikan pengoperasian Kereta Api Bandara di Stasiun KA Bandara Soekarno Hatta, Selasa, 2 Januari 2017. Presiden Jokowi juga menjajal KA dari bandara ke Stasiun Sudirman Baru.

Jokowi Soroti Masalah Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja

JAKARTA, (PR).- Calon tenaga kerja yang latar belakang pendidikannya sekolah dasar dan menengah harus diperbaiki tingkat keterampilan dan kompetensinya. Hal itu agar mereka bisa menjadi tenaga kerja yang bisa diserap oleh industri.