Supermoon Muncul Minggu Malam Ini, Momen Tepat untuk Menutup Libur Panjang

Bulan purnama/LANGITSELATAN

BANDUNG, (PR).- Fenomena bulan yang berada pada jarak terdekatnya dengan bumi atau yang lebih dikenal dengan supermoon akan menghiasi langit Indonesia Minggu 3 Desember 2017 malam ini.

Menyaksikan fenomena supermoon bisa menjadi momentum sempurna untuk menutup libur panjang akhir pekan ini.

BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) mengatakan, masyarakat dapat menyaksikan supermoon atau bulan penuh yang berukuran besar malam nanti. 

Kepala lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Thomas Djamaludin mengatakan, saat berlangsungnya fenomena supermoon, terjadi pergeseran jarak dari bulan ke bumi atau sebaliknya yang semula 384.000 km menjadi 357.000 km.

"Jadi, kalau biasanya secara rata-rata jarak bumi ke bulan itu 384.000 km, nanti malam atau saat ini sesungguhnya, bulan berada pada jarak sekitar 357.000 km. Ini jarak paling dekat. Karena puncak purnama itu terjadi nanti malam, nanti malam itu disebut sebagai supermoon atau purnama yang terdekat," ujar Thomas dalam wawancara yang disiarkan Radio PRFM, Minggu, 3 Desember 2017.

Thomas menyatakan, supermoon bukanlah fenomena langka sebab sering terjadi setiap tahunnya. Namun, untuk tahun 2017, supermoon baru terjadi di akhir tahun.

Fenomena supermoon bisa disaksikan setelah matahari terbenam hingga matahari terbit. Thomas menilai, hal tersebut bisa menjadi kesempatan yang baik bagi penggemar fotografi untuk mengabadikan momennya.

"Kita bisa melihat purnama langsung dengan mata telanjang karena cahayanya pun cukup lembut dan tentu juga ini kesempatan yang baik bagi penggemar fotografi. Jadi, manfaatkan fenomena supermoon ini untuk memotretnya, mungkin dengan latar depan yang bagus," ujar Thomas.

Fenomena langit sepanjang Desember 2017

Ada sejumlah fenomena langit lain di penghujung 2017. Situs langitselatan menyebut, Venus dan Saturnus akan pamit dari pengamatan kita, menyisakan Mars dan  Jupiter kala fajar yang saling berkejaran.

Di awal Desember 2017, Merkurius dan Saturnus akan tampak di ufuk barat setelah matahari terbenam. Keduanya akan bergerak ke barat dan terbenam beriringan. Namun, duo planet ini hanya akan menemani pengamat sampai pertengahan Desember 2017 sebelum kemudian menghilang di balik matahari saat kedunya berkonjungsi dengan matahari pada 13 dan 22 Desember 2017.

Merkurius akan kembali menyapa pengamat di pagi hari sebelum matahari terbit jelang akhir Desember 2017, menemani Mars dan Jupiter. Selama Desember ini, Merkurius bisa ditemukan di rasi Ophiuchus.

Venus hanya bisa diamati sebelum fajar di minggu pertama bulan Desember. Setelah itu, Venus akan perlahan menghampiri matahari di ufuk timur sebelum kemudian menghilang di balik matahari.

Planet ini sedang menuju konjungsi dengan matahari yang akan terjadi di awal tahun 2018. Sama seperti Merkurius, Venus juga bisa ditemukan di rasi Ophiuchus selama bulan Desember.

Mars akan terbit lebih dahulu di ufuk timur disusul Jupiter. Planet merah ini bisa ditemukan di rasi Virgo dengan kecerlangan 1,6 magnitudo dan terus bergerak menjumpai Jupiter yang menanjak naik dengan kecerlangan -1,6 magnitudo di Libra.

Tanggal 14 Desember 2017, Mars akan berjumpa dengan bulan dan sehari kemudian giliran Jupiter yang akan berpasangan di langit dengan bulan.

Pasangan Mars dan Jupiter yang tampak berpasangan di langit fajar akan bisa diamati tepat di akhir tahun 2017.

Bagi yang punya teleskop, Uranus dan Neptunus akan tampak sepanjang Desember setelah matahari terbenam sampai tengah malam. Neptunus akan bertemu bulan pada 24 Desember, disusul Uranus pada tanggal 27 Desember.

Kedua planet ini tidak dapat diamati dengan mata telanjang. Jadi, siapkan teleskop dan cari lokasi yang cukup gelap.

Hujan meteor

Pada 14 Desember akan ada hujan meteor Geminid. Hujan meteor Geminid kembali menjadi tontonan menarik dengan 120 meteor per jam saat puncaknya.

Hujan meteor yang tampak datang dari rasi kembar Gemini ini berlangsung dari tanggal 4-17 Desember dan puncaknya akan terjadi tanggal 14 Desember ketika Bumi melintasi pecahan asteroid 3200 Phaethon.

Hujan meteor Geminid yang melintas cepat di langit bergerak dengan kecepatan 35 km/detik dan bisa dinikmati kehadirannya setelah rasi Gemini terbit antara pukul 20.00-21:00 WIB.

Bulan sabit yang sedang menuju fase bulan baru terbit pukul 2:25 WIB dan tidak akan banyak mengganggu pengamatan. Waktu terbaik untuk pengamatan bisa dilakukan setelah pukul 22:00 WIB saat rasi Gemini sudah cukup tinggi.

Sebelum mengakhiri tahun 2017, masih ada stau hujan meteor lagi yang bisa dinikmati. Hujan meteor Ursid yang tampak datang dari rasi Ursa Minor akan berlangsung para 22 Desember 2017 dan hanya pengamat di belahan Bumi Utara atau di atas garis khatulistiwa yang bisa menikmati lintasan meteor Ursid.

Rasi Ursa Minor akan terbit lewat tengah malam bagi pengamat di belahan Bumi Utara. Untuk pengamat di belahan Bumi Selatan, Ursa Minor terbit hampir bersamaan dengan Matahari terbit. Jadi, hujan meteor Ursid tidak akan teramati oleh pengamat yang tinggal di bawah garis khatulistiwa.

Puncak hujan meteor Ursid terjadi tanggal 22 Desember 2017 dan meteor yang melintas di langit akan bergerak dengan kecepatan 33 km/jam. Di malam puncak pengamat hanya bisa melihat 10 meteor per jam dari sisa komet 8P/Tuttle yang dilintasi Bumi.

Rasi bintang dan  Bima Sakti

Pertengahan Desember 2017 juga menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat bulan menuju fase bulan baru. Bimasakti dapat diamati membentang dari Timur Laut ke Barat Daya.

Setelah matahari terbenam, ada Capella di rasi Auriga, Betelguese dan Rigel di rasi Orion, Aldebaran di rasi Taurus, Canopus di rasi Carina, Altair di rasi Aquila, Archenar di rasi Eridanus, Sirius di rasi Canis Major, dan Procyon di rasi Canis Mayor yang dapat dijadikan panduan dalam pengamatan.

Jelang dini hari, pengamat bisa menikmati kehadiran Rasi Crux, Rigel Kentaurus di rasi Centaurus, Crux si salib selatan, Spica di Virgo, dan Arcturus di rasi Bootes.***

Baca Juga

KPK Tahan Fredrich Yunadi 20 Hari

JAKARTA, (PR).- KPK menahan mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi, di Jakarta, Sabtu 13 Januari 2018, seusai diperiksa sebagai tersangka tindakan mencegah dan merintangi penyidikan dugaan tindak pidana korupsi proyek e-KTP atas t