Konflik Dua Kubu Pesaing Pilpres Masih Terjadi

POLISI menghadang demonstran saat simulasi pengamanan Pilpres 2014  di Jln. Braga, Kota Bandung, Jumat (30/5/2014). Kegiatan yang digelar oleh Polrestabes Bandung tersebut sebagai bentuk kesiapan dalam mengamankan Pemilihan Presiden 2014.*
ARMIN ABDUL JABBAR/PRLM
POLISI menghadang demonstran saat simulasi pengamanan Pilpres 2014 di Jln. Braga, Kota Bandung, Jumat (30/5/2014). Kegiatan yang digelar oleh Polrestabes Bandung tersebut sebagai bentuk kesiapan dalam mengamankan Pemilihan Presiden 2014.*

JAKARTA, (PR).- Pengamat menilai aroma konflik Pilpres 2014 masih terasa sampai saat ini. Padahal, Pilpres 2014 telah lama berlalu dan tahun 2018 ke depan telah memasuki tahun politik yang baru lagi, yakni memasuki persiapan untuk Pilpres 2019. 

Direktur Eksekutif Rumah Bebas Konflik Abdul Ghofur mengatakan, aroma perebutan kekuasaan antara kubu yang sempat bersaing dalam Pilpres 2014 masih terasa sampai saat ini. Dia menilai, penyebab munculnya persaingan dan perebutan kekuasaan yang belum surut jua adalah karena capres-cawapres yang muncul dalam Pilpres 2014 hanya ada dua pasangan. 

Menurut dia, bila dalam perhelatan pemilu hanya ada dua pasangan calon, kencenderungan konfliknya kuat. "Potensi konfliknya tinggi karena intensitas massa pendukung itu jelas terpecah dua dan terkristalisasi," ujar dosen tetap Ilmu Politik Universitas Negeri UPN "Veteran" Jakarta ini, Selasa, 14 November 2017. 

Dia mengatakan, berkaca kepada pengalaman Pilpres 2014, maka ada baiknya bila dalam Pilpres 2019 ke depan, calon yang muncul bisa lebih dari dua. Untuk bisa mewujudkan capres-cawapres yang lebih dari dua, partai politik sebaiknya bisa diberikan  peluang untuk mengusung calon dengan batasan yang cukup. 

"Untuk mereduksi konflik sebaiknya parpol diberikan kesempatan untuk mencalonkan presiden dengan aturan yang diatur putusan Mahkamah Konstitusi. Harapannya capres yang muncul itu lebih dari dua," tuturnya. 

Menurut Abdul, kalau sampai situasi Pilpres 2014 terulang pada Pilpres 2019, terulang di sini artinya; hanya muncul dua paslon, figurnya sama dan begitu juga dengan konfigurasi dukungan parpolnya sama, maka potensi konflik akan semakin tinggi. 

"Pengalaman Pilpres 2014 kelihatannya sampai hari ini aroma konfliknya tinggi. Pemilunya sudah selesai, tapi rasa-rasa pemilunya masih terasa sampai hari ini," ujarnya. 

Joko Widodo versus Prabowo

Beberapa lembaga survei akhir-akhir ini melakukan simulasi elektabilitas  capres Pemilu 2019. Joko Widodo dan Prabowo Subianto selalu muncul dalam survei tersebut. 

Beberapa hasil survei yang kedua nama tersebut muncul seperti dalam survey Indikator pada 17-24 September 2017, dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 3-10 September 2017. 

Survei Indikator menyebutkan, Joko Widodo meraih 58,9 persen suara  dan Prabowo meraih 31,3 persen suara bila pemilihan diadakan pada masa 17-24 September 2017. Sementara SMRC menyebutkan, Joko Widodo meraih 38,9 persen suara dan Prabowo meraih 12,0 persen suada bila pemilihan diadakan pada rentang waktu 3-10 September 2017.***

Baca Juga

Jokowi Dibohongi?

JAKARTA, (PR).-Presiden Joko Widodo bercerita tentang salah satu proyek infrastruktur transportasi di masa lalu yang sekadar jadi ground breaking saja, namun realisasinya tidak kunjung tercapai.

Ilustrasi Jokowi dan Prabowo/DOK. PR

Di Jabar, Jokowi Salip Prabowo dalam Pilpres 2019

JAKARTA, (PR).- Hasil survei lembaga penelitian Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyatakan Presiden Joko Widodo berpeluang menyalip perolehan suara Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di Jawa Barat pada Pilpres 2019.

Jokowi: Semua TKI Harus Punya Paspor

KUCHING, (PR).- Presiden Joko Widodo bertemu dengan masyarakat Indonesia di Sarawak yang digelar di Stadium Perpaduan, Kuching Sarawak, Malaysia pada Rabu, 22 November 2017.