Pengungsi Gunung Agung Mulai Jenuh

Pengungsi Gunung Agung/REUTERS

KARANGASEM, (PR).- Warga pengungsian Gunung Agung mulai merasakan kejenuhan di penampungan pengungsi. Mereka telah mengungsi sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian ESDM menetapkan gunung tertinggi di Bali status level IV sejak 22 September 2017.

Seperti dilansir Kantor Berita Antara, seorang pengungsi, Wayan Sari di Posko Mandiri di Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Senin, 23 oktober 2017 mengaku telah sebulan di pengungsian bersama keluarga dan kerabatnya. Kini sudah merasakan kejenuhan, karena tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan.

Petani asal dari Desa Pura, Kecamatan Selat yang merupakan kawasan rawan bencana (KRB) II itu, semua aktivitas warga terhenti. Sebab sejak ditetapkan status Awas Gunung Agung itu, pihaknya tidak bisa kembali dan melihat ladangnya.

"Sejak gunung itu ditetapkan level Awas, pemerintah sudah memberi peringatan dan larangan untuk memasuki zona berbahaya tersebut. Desa kami termasuk zona merah," tuturnya.

Ia mengatakan di pengungsian hanya duduk-duduk saja, sehingga merasa bosan dengan keadaan yang tidak ada kepastian tersebut. Entah akan terjadi erupsi atau bagaimana Gunung Agung itu, pihaknya tidak tahu berapa lama akan berada di kampung pengungsian ini.

"Saya merasa sedih. Memang selama di pengungsian soal makanan sudah tercukupi. Tapi kalau sudah tidak ada pekerjaan seperti sekarang ini menambah kebosanan saja," ucapnya.

Apalagi, kata dia, menjelang hari suci Galungan dan Kuningan pada bulan November mendatang. Sudah jelas tidak bisa merayakan di kampung halamannya.

"Hari suci Galungan dan Kuningan semakin dekat, kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk merayakan hari tersebut. Biasanya kami menjelang hari raya tersebut sejak pekan ini sudah mempersiapkan runtutan upacara, mulai dari perayaan 'Sugian Jawa dan Bali' hingga puncaknya pada hari suci Galungan dan Kuningan itu," ujar Wayan Sari.

Sementara itu, seorang relawan Posko Rendang, Ketut Wijaya Mataram mengatakan kalau secara psikis warga pengungsian sudah kelihatan merasa jenuh berada di penampungan ini. Tapi pihaknya terus berupaya memberikan motivasi dan dorongan agar mereka mampu menghilanhgkan rasa jenuh.

"Para relawan sudah berupaya memberi motivasi dan dorongan agar mereka tak jenuh di sini atau di tempat-tempat pengungsian itu. Caranya dengan melakukan aktivitas apa yang bisa dikerjakan oleh para pengungsi tersebut. Salah satunya membuat anyaman dari bambu misalnya," katanya.***

Baca Juga

Status Gunung Agung Turun Jadi Siaga

JAKARTA, (PR).- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan status aktivitas Gunung Agung di Kabupaten Karangasem turun dari AWAS (level IV) menjadi SIAGA (level III)

Amerika Serikat Cabut Larangan Kunjungan Panglima TNI

JAKARTA, (PR).- Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melapor ke Presiden Joko Widodo hasil pertemuannya dengan Wakil Dubes Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Erin Elizabeth McKee terkait larangan

Begini Kondisi Retina Mata Novel Baswedan Saat Ini

JAKARTA, (PR).- Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menginformasikan bahwa dokter yang menangani Novel Baswedan di Singapura telah melakukan pemeriksaan retina dan glaukoma pada Selasa, 24 Oktober 2017.

Kenaikan Cukai Tembakau Dinilai Kurang Tinggi

JAKARTA, (PR).- Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LDUI) Abdillah Ahsan menilai kenaikan cukai tembakau yang direncanakan rata-rata 10.04 persen masih kurang tinggi bila dimaksudkan untuk mengenda