Kemenristekdikti Targetkan 17.000 Publikasi Ilmiah untuk Lewati Singapura

Peluncuran Program SHERA/DOK HUMAS KEMENRISTEK DIKTI
MENTERI Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir (tengah) bersama para rektor ITB, Unpad, IPB, UI dan UGM serta perwakilan dari duta besar Amerika Serikat meluncurkan program SHERA di Auditorium Kemenristekdikti, Jakarta, Selasa, 21 Maret 2017. Program tersebut berupa proyek penelitian bersama senilai 20 juta dolar AS.*

JAKARTA, (PR).- Jumlah publikasi ilmiah Indonesia pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus per 2 Oktober 2017 sudah mencapai 12.098 publikasi. Jumlah tersebut meningkat 2.597 publikasi dalam dua bulan terakhir. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan mampu memproduksi 17.000 publikasi pada akhir tahun agar bisa melewati Singapura.

Saat ini, Indonesia berada di peringkat ke-3 ranking publikasi ilmiah di antara sesama negara ASEAN. Di atas Indonesia ada Malaysia dengan 20.304 publikasi dan Singapura sebanyak 14.616 publikasi. Sementara itu, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, Indonesia bisa melewati capaian Thailand yang memproduksi 10.924 publikasi.

Menristekdikti, Mohamad Nasir, menyatakan, sejak 2014 hingga 2017, kinerja dosen dan peneliti Indonesia mengalami kemajuan signifikan di bidang publikasi ilmiah. Menurut dia, peningkatan jumlah artikel ilmiah internasional Indonesia lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan jumlah lektor kepala dan profesor mau pun peningkatan anggaran penelitian. 

“Saya optimistis publikasi ilmiah Indonesia akan melewati Singapura pada akhir tahun ini. Pada akhir tahun 2016 lalu, Indonesia berada di peringkat ke-4 dengan jumlah publikasi sebanyak 11.865. Untuk itu, saya optimis di akhir tahun 2017 publikasi Indonesia mampu mencapai angka 15.000-17.000 publikasi sehingga Indonesia bisa berada di peringkat ke-2 di ASEAN,” ujar Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta Selasa 3 Oktober 2017.

Ia menuturkan, jurnal nasional yang terindeks pengindeks internasional bereputasi pada tahun ini juga mengalami naik signifikan, meningkat dari 0 menjadi 33 jurnal. Sedangkan, jurnal nasional yang terindeks di Directory of Open Access Journal naik drastis dari 76 menjadi 931 jurnal. Jurnal Nasional Terakreditasi pun meningkat dari 75 menjadi 283 jurnal. “Momentum ini harus dijaga,” kata Nasir.

Dalam upaya meningkatkan hasil riset dan publikasi, Menristekdikti pada awal tahun ini menerbitkan Permenristekdikti Nomor 20/2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor. Regulasi itu mengamanatkan publikasi ilmiah merupakan salah satu indikator untuk melakukan evaluasi terhadap pemberian tunjangan profesi dosen dan kehormatan guru besar.

Manfaat positif

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti menegaskan, regulasi tersebut memberi manfaat positif dan mampu mengatrol kinerja para lektor kepala dan dosen untuk produktif melakukan riset dan mempublikasikannya di jurnal internasional bereputasi. Khususnya di dunia penelitian perguruan tinggi dan juga lembaga penelitian.

Aturan tersebut untuk melengkapi Permenristekdikti Nomor 44/2015 yang mendorong mahasiswa strata dua (S-2) dan S-3 mampu menghasilkan publikasi yang terindeks global. Kemenristekdikti juga membuat sistem aplikasi yang dinamakan Science and Technology Index (Sinta) yang diakses melalui Sinta.ristekdikti.go.id untuk mendata publikasi dan sitasi nasional serta internasional oleh dosen dan peneliti Indonesia.

“Jumlah publikasi yang tercapai sekarang sebetulnya sudah melebihi ekspektasi, dan saya bersyrukur. Tapi, kami menargetkan minimal mampu menembus 15.000 publikasi pada akhir tahun ini. Saya akan terus meminta lektor kepala, dosen dan peneliti untuk meningkatkan kinerja dan menyampaikan target yang ingin dicapai pemerintah,” kata Ghufron.***

Baca Juga

Merger PTS akan Dipermudah

JAKARTA, (PR).- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan membentuk panitia khusus untuk mengawal percepatan proses penggabungan (merger) beberapa perguruan tinggi swasta (PTS).