HIV-AIDS dan Tangis Bayi di Sorong

Bayi Terinfeksi HIV-AIDS/TRI JOKO HER RIADI/PR
BAYI dirawat di Ruang Perinatologi RSUD Kaupaten Sorong, Papua Barat, Selasa 22 Agustus 2017. Selain berat lahir yang rendah dan gangguan pernapasan, infeksi HIV-AIDS juga menjadi ancaman utama bayi-bayi di Papua.*

TANGISAN pertama jabang bayi di RSUD Sele Be Solu Kota Sorong, Papua Barat, Senin malam itu disambut dengan perasaan campur aduk oleh semua yang menyaksikan. Mereka gembira sekaligus cemas membayangkan nasib sang bayi.

Sang bayi lahir dengan selamat. Ibunya, seorang perempuan muda dari Kabupaten Raja Ampat, sekitar dua jam perjalanan kapal dari Sorong, juga selamat. Namun semua yang ada di ruang persalinan, termasuk sang suami, tidak akan lupa vonis dokter dalam pemeriksaan sehari sebelumnya: sang ibu positif mengidap HIV-AIDS.

Tim dokter sejak awal menyarankan agar persalinan dilakukan secara sesar. Tujuannya menyelamatkan sang bayi dari ancaman penularan virus HIV-AIDS. Teknik persalinan sesar meminimalkan kontak sang bayi dengan darah ibunya. 

Minggu siang itu semua sudah sudah siap di meja operasi. Sang ibu bahkan sudah berbaring di ranjang. Tiba-tiba datang telepon dari keluarga bersarnya, meminta operasi dibatalkan. "Kami tidak bisa memaksakan operasi sesar meski tahu itu pilihan terbaik. Di sini (Papua), izin operasi tidak cukup dari keluarga inti. Keluarga besar harus memberi persetujuan," kata Hendy Siagian, dokter yang memimpin operasi, Selasa 22 Agustus 2017 lalu.

Akar penyebab pembatalan operasi tersebut menyangkut aturan adat yang rumit. Sang suami belum mampu membayarkan mahar perkawinan ke keluarga sang perempuan. Artinya, keduanya sah menikah secara negara, tapi belum sah secara adat. Keluarga perempuan masih memiliki hak penuh atas anak mereka.

Sang suami tidak memiliki keberanian untuk memberitahu keluarga besar istrinya terkait vonis positif HIV-AIDS. Jika keluarga besar sang perempuan tahu anak mereka mengidap HIV-AIDS, mereka bisa serta-merta menuduh sang suami sebagai sumber penyakit. Ujung-ujungnya, sejumlah denda bisa dijatuhkan. 

Tim dokter sudah berulang kali membujuk sang suami untuk berani mengungkapkan vonis HIV-AIDS tersebut, demi masa depan anak mereka. Negosiasi tak membuahkan hasil sampai akhirnya waktu melahirkan secara normal datang. 

"Kami sedih betul, bahkan terpukul. Namun usaha menyelamatkan sang ibu dan bayinya tidak boleh berhenti. Inilah tantangan berikutnya yang tak kalah sulit," tutur Hendy.

Dilema HIV-AIDS

Temuan ibu hamil yang mengidap HIV-AIDS dua pekan lalu itu bukanlah anomali di RSUD Sele Be Solu, Kota Sorong. Tahun ini, per 21 Agustus 2017, terdapat 15 ibu hamil yang diketahui positif mengidap HIV-AIDS. Tahun sebelumnya, dari total 888 ibu hamil yang diperiksa, 18 orang di antaranya diketahui positif HIV-AIDS. 
 
Bayi yang dilahirkan secara normal oleh ibu pengidap HIV-AIDS tidak secara otomatis tertular. Status pastinya baru akan diketahui lewat pemeriksaan darah, disebut tes PCR (polymerase chain reaction) ketika sang bayi berumur 18 bulan. 

Menurut Hendy, ada setidaknya dua langkah penting yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penularan. Pertama, memastikan sang ibu rutin mengonsumsi obat ARV (antiretroviral). Kedua, menghindari pemberian air susu ibu (ASI). Namun dua langkah ini bukannya tanpa kendala. 

"Kalau si ibu nanti pulang ke rumah lalu tidak memberikan ASI kepada anaknya, keluarga besarnya sangat mungkin tidak setuju. Mereka kan tidak tahu alasannya. Belum lagi pemberian susu formula itu berarti pengeluaran bertambah," katanya. 

Jalan terjal sang bayi masih jauh dari ujung. Baru 18 bulan ke depan akan ketahuan apakah ia mengidap HIV-AIDS, penyakit yang bertahan di tubuh sepanjang hidup.

Data tulisan tangan 

Cerita serupa datang dari ruang perinatologi RSUD Kabupaten Sorong. Ada sembilan bayi yang sedang dirawat di incubator, menyesaki ruangan tersebut. Sebagian bayi memiliki berat badan kurang, yang lain menderita masalah pernapasan. 

Ruangan perinatologi di rumah sakit ini dibangun pada 2011 lalu. Ketika itu baru ada empat buah inkubator. Saat ini, jumlahnya sudah bertambah menjadi 21 buah inkubator dengan 17 orang perawat yang bertugas dalam tiga giliran jaga. 

"Kasus terbanyak yang kami tangani adalah bayi dengan berat lahir rendah dan bayi dengan gangguan pernafasan. Gangguan pernafasan ini juga menjadi penyebab jumlah terbanyak kematian bayi," ujar Masnia Mahmud, Kepala Ruang Perinatologi. 

Catatan layanan ibu hamil dan bayi mereka di ruang perinatologi RSUD ini tersimpan dalam sebuah buku. Data sepenting itu masih berupa tulisan tangan. 

Sepanjang tahun 2014, RSUD melayani 2.155 persalinan. Dari jumlah tersebut, 1.060 bayi mengalami sakit dan 67 bayi meninggal. Tahun berikutnya, dari 1.850 persalinan, terdapat 46 bayi meninggal. Data persalinan sepanjang 2016 tidak ditemukan. Tahun ini, per Juli 2017, dari 1.055 persalinan, 24 bayi meninggal.

Pencatatan ibu hamil yang positif mengidap HIV-AIDS baru dimulai tahun 2017 ini. Diketahui per Juli 2017, terdapat tiga ibu hamil yang diketahui positif. Berapa jumlah ibu hamil yang positif HIV-AIDS di tahun-tahun sebelumnya tak terekam. 

Layanan tanpa henti

Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Kabupaten Sorong, Habel Pandelaki, menyatakan, manajemen RSUD terus berbenah meningkatkan mutu layanan. Saat ini tengah berlangsung beberapa proyek pengembangan infrastruktur gedung baru. Salah satunya diperuntukkan ruang perinatologi yang baru.

RSUD Kabupaten Sorong, sama seperti RSUD Sele Be Solu, menjadi tujuan berobat bukan hanya oleh warga di kawasan tersebut. Namun juga mereka yang tinggal di pelosok kabupaten tetangga. Peningkatan kapasitas layanan medis menjadi sebuah keniscayaan.

"Prinsip kami, tidak boleh rumah sakit ini menolak pasien. Masak ibu mau melahirkan, ditolak? Meski prosedur rujukan masih banyak yang belum tertib, meski ruangannya terbatas, kami tetap memberikan layanan," tutur Habel yang berulang kali menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan suasana di lingkungan rumah sakit. 

Di antara para pekerja yang lalu lalang siang itu, pasien terus berdatangan. Para dokter dan perawat tak berhenti memberikan layanan. Gedung-gedung baru diharapkan selesai tepat waktu pada akhir tahun nanti sehingga lingkungan rumah sakit semakin nyaman. 

Demikianlah Selasa siang itu di Sorong. Ada tangis bayi dan perasaan cemas, namun ada pula harapan.***

Baca Juga

Siti Maryam: Saya Positif HIV-AIDS, Saya Bicara

SITI Maryam (29) merupakan satu dari beberapa gelintir orang yang berani secara terbuka mengaku sebagai orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Dia menemukan kekuatan dari suami dan ketiga anaknya.

Sebongkah Semangat Literasi dari Batu Lubang Papua

PEMANDANGAN dari Pantai Sorong Rabu 23 Agustus 2017 pagi itu terlihat sempurna. Laut biru membentang jauh sampai langit cerah menangkap ujungnya. Satu-satunya cela barangkali adalah tumpukan sampah berserakan di bibir pantai.

Raja Ampat Siapa yang Punya?

Raja Ampat Siapa yang Punya
Raja Ampat Siapa yang Punya 
Raja Ampat siapa yang punya
Yang Punya Kita Semua