Angka Bunuh Diri di Sleman dan Gunungkidul Mengejutkan

Ilustrasi/MEYTA DEANTY

YOGYAKARTA, (PR).- Angka bunuh diri sejak awal tahun 2017 hingga Juli saat ini sudah ada 14 kasus bunuh diri yang ditemukan di Sleman dan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rata-rata mereka mengakhiri hidupnya di di kabupaten paling utara DIY ini dilakukan dengan cara gantung diri.

Kasat Reskrim Polres Sleman, AKP Rony Are Setia mengatakan 14 kasus bunuh diri yang tercatat ini merupakan angka yang dilaporkan ke kepolisian. Secara rinci, dia mengatakan terdapat dua kasus bunuh diri di bulan Januari, tiga kasus di bulan Februari, satu kasus di Maret, sedangkan di bulan April terdapat dua kasus bunuh diri.

Bunuh diri terbanyak ada pada bulan Mei, di mana terdapat empat kasus bunuh diri. Kemudian, Juli ini ada dua orang yang nekat mengakhiri hidupnya sendiri.

"Kalau rentan usia paling banyak di 40 tahun ke atas, sebanyak 7 orang korban. Satu orang di kisaran 15 sampai 20 tahun. dan sisanya berada di kisaran umur produktif, yakni 21 hingga 35 tahun,” katanya.

Pentingnya peran keluarga

Hal ini sangat disayangkan mengingat masih banyak orang meninggal sia-sia, terlebih saat umur mereka terbilang produktif. Terkait hal tersebut, Rony mengimbau agar peran keluarga kembali ditingkatkan. "Bunuh diri tidak menyelesaikan masalah. Malah pertanggungjawabannya berat terutama kepada Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan," tuturnya.

Tidak hanya terjadi di Sleman, di Gunungkidul, hingga Mei tahun 2017 ini tercatat sudah ada 18 kejadian bunuh diri dan bertambah menjadi 20 kejadian hingga pertengahan tahun. "Sebanyak 18 kejadian bunuh diri sampai bulan Mei. Setelah itu ada dua kejadian. Sampai pertengahan tahun ini sudah ada 20 kejadian," ucap Ketua Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji), Jaka Yanuwidiasta.

Imaji mencatat selama tahun 2001 hingga 2016 ada 458 kejadian bunuh diri di Gunungkidul. Berdasarkan data kejadian 2015 sampai 2017 menunjukkan, usia pelaku bunuh diri kelompok usia dewasa lanjut 46-60 tahun sebanyak 31 persen, dan usia dewasa muda 18-45 tahun sebanyak 24 persen.

Kedua kelompok usia tersebut merupakan usia produktif bekerja. Hal tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia dewasa muda dan dewasa lanjut atau yang disebut usia produktif bekerja sesungguhnya merupakan kelompok yang tertinggi pelaku bunuh diri, yaitu 55 persen pada 2015-2017.

Depresi jadi penyebab utama

Jaka mengatakan, pihaknya memaknai bahwa kejadian bunuh diri ini aneh, artinya sudah menimpa usia kerja. Kalau dulu asumsi pulung gantung karena faktor ekonomi saat ini kasus tersebut semakin kompleks.

"Kalau kita lihat dari data kepolisian penyebabnya 43 persen karena depresi. Artinya permasalahan hidup yang menjurus ke gangguan mental paling tinggi. Kompleks dan membutuhkan penanganan untuk upaya pencegahan bunuh diri," ujarnya.

Berbagai upaya pencegahan bunuh diri juga dilakukan oleh Imaji salah satunya dengan memberikan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat. Mereka juga bekerjasama dengan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Ketertiban dan Keamanan Masyarakat (Bhabinkamtibmas) untuk memberikan informasi jika ada warga yang diindikasikan rentan bunuh diri, supaya diberikan pendampingan.***

Baca Juga