Kinerja Pengelolaan Obyek Wisata TSTJ Kurang Memuaskan

Wali Kota Solo Fx Rudyatmo Saat Siaran di Sebuah Radio/SURAKARTA.GO.ID

SOLO, (PR).- Kinerja pengelolaan obyek wisata Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang berlokasi di tepian Bengawan Solo, sisi timur Kota Solo, dinilai kurang memuaskan. Pengelolaan obyek wisata dengan andalan utama kebun binatang pindahan dari "Kebun Rojo" Sriwedari selama dua tahun terakhir, gagal mendapatkan investor untuk revitalisasi yang dijanjikan Dirut Perusda TSTJ, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso.

Berdasarkan konsep revitalisasi TSTJ disebutkan, Perusda TSTJ akan bekerjasama dengan investor luar untuk memperbaiki infrastruktur, penataan kawasan, meningkatkan kesejahteraan satwa dan pembangunan lingkungan. Namun sampai berlangsungnya rapat umum pemegang saham (RUPS) TSTJ pada Senin 20 Maret 2017 di Balai Kota Solo, proses revitalisasi yang dijanjikan selesai dalam setahun tidak terwujud.

“Sampai sekarang perkembangan TSTJ masih stagnan. Belum ada hasil seperti yang disampaikan saat pengangkatan Dirut yang lalu. Saya nilai perkembangannya masih kurang,” ujar Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo kepada wartawan, di sela-sela RUPS untuk pertanggungjawaban Perusda TSTJ.

Menurut Wali Kota Hadi Rudyatmo, persoalan di TSTJ yang paling pokok adalah gagalnya manajemen menggandeng investor untuk merevitalisasi. Dia menyebutkan, setidaknya ada dua investor yang sudah menyosorkan desain revitalisasi namun sampai kini tidak ada kelanjutannya.

Selain itu, sambungnya, manajemen juga tidak mampu emanfaatkan potensi alam yang belum tergarap, di antaranya kolam "segaran". Wali Kota Solo berpendapat, potensi alam itu sebenarnya bisa direvitalisasi sebagai objek wisata air yang menarik.

“Segaran sebenarnya bisa dibuat menjadi obyek yang lebih menarik. Kalau mengurus satwa memang susah, karena tidak seperti merawat obyek wisata lainnya. Sebab, sebagai tempat konservasi pasti harus berupaya, yang utama jangan sampai ada satwa mati.,” katanya.

Menyinggung kunjungan wisatawan ke TSTJ yang dilaporkan naik setiap tahun, Wali Kota Hadi Rudyatmo tetap mengapresiasi. Namun peningkatan itu harus diimbangi dengan peningkatan pelayanan dan perbaikan obyek wisata.

Dalam laporannya, Dirut Perusda TSTJ menyebutkan, pada tahun 2015 jumlah pengunjung TSTJ mencapai 350.000 orang. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun sebelumnya, yang tercatat sebanyak 235.000 orang. Bahkan, pada 2016 diperkirakan jumlah pengunjung mencapai 400.000-an orang.

Wali Kota Solo menegaskan, dalam dua tahun mendatang manajemen Perusda TSTJ harus menyelesaikan masalah, terutama dalam mencari investor. Menurut dia, modal dari Pemkot Solo relatif kecil, sehingga menjadi kendala untuk pengembangan program revitalisasi TSTJ.

Direktur Utama TSTJ, Bimo, menolak memberi tanggapan atas penilaian wali kota tersebut. Dia mengungkapkan, pihaknya minta waktu untuk menyelesaikan program revitalisasi TSTJ.***

You voted 'tidak peduli'.

Baca Juga

PPDB Gakin dan Berprestasi di Solo Dilayani Offline

SOLO, (PR).- Pendaftaran peserta didik baru (PPDB) jenjang sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP) untuk keluarga miskin (gakin) dan siswa berprestasi di Kota Solo, akan dilaksanakan melalui jalur offline.

Polisi Beri Bekal kepada PSK di Panti Rehabilitasi

SOLO, (PR).- Aparat pembinaan masyarakat (Binmas) Kepolisian Sektor (Polsek) Laweyan, yang termasuk jajaran Polresta Surakarta, Kamis 23 Maret 2017 siang, memberikan penyuluhan kepada puluhan pekerja seks komersial (PSK) di Balai Rehabilitasi Sosial “Wanita Utama”, Kelurahan Pajang, Kecamatan La

Mulai 1 April Grafik Perjalanan KA Daops 6 Berubah

SOLO, (PR).- Grafik perjalanan kereta api (Gapeka) di wilayah PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daops 6 Yogyakarta, berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Nomor KA.07/SK.332/DJKA/12/16, Kementerian Perhubungan, mulai 1 April 2017 akan mengalami perubahan.

Istana Mangkunegaran Gelar Karya Seni Ciptaan Mangkunegoro

SOLO, (PR).- Istana Mangkunegaran Solo, selama dua hari, Sabtu dan Minggu 18-19 Maret 2017, kembali menggelar koleksi karya seni tari dan karawitan, kuliner, foto-foto, seni topeng, tradisi adat "tetesan" dan lain-lain, dalam hajadan "Mangkunegaran Performing Art 2017".