Misteri Pemicu Meletusnya Gunung Toba Terungkap

Danau Toba/NASA LANDSAT
Gambar satelit danau toba. *

Para ilmuwan akhirnya menemukan penyebab terjadinya erupsi gunung berapi terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah manusia. Gunung Toba, yang saat ini lebih dikenal dengan danau toba, menghasilkan letusan maha dahsyat pada 73.000 tahun yang lalu. Ledakan gunung berapi yang mengerikan dan menghancurkan sebagian besar wilayah, disebut dengan gunung api super (supervolcanoes). Saking besarnya letusan, dampak yang dihasilkan juga tidak main-main, bisa berpengaruh pada perubahan iklim.

Kini para ilmuwan telah berhasil mengetahui apa yang memicu supervolcanoes tersebut meletus. Ini seperti disebutkan dalam hasil penelitian yang dirilis journal Scientific Reports. 

Berapa banyak tepatnya magma yang dikeluarkan, dan mengapa mereka meletus begitu hebat, telah diperdebatkan dalam waktu yang lama oleh para ilmuwan. Diketahui, gunung api umumnya meletus karena adanya kepadatan dan tekanan magma, dan meletus adalah cara daripada bumi melepaskan kelebihan panas dan tekanan yang ada di dalam bumi. Namun apa yang menjadi pemicunya masih menjadi misteri.

Sejumlah peneliti dari Uppsala University mengklaim terlah menemukan jawabannya, terbaring dalam kristal berukuran milimeter yang disebut dengan quartz crystals. kristal tersebut tertanam dalam abu vulkanik dan batuan.

Quartz crystals tumbuh dalam magma, dan mencatat perubahan kimia dan juga termodinamika sebelum letusan. Ini mirip seperti lingkaran pohon yang mencatat perubahan iklim. Hal tersebut diutarakan Dr David Budd, Penulis utama studi tersebut, dari Department of Earth Sciences, Uppsala University. 

"Ketika kondisi dalam magma berubah, kristal merespon dan memproduksi zona pertumbuhan berbeda, yang merekam perubahan ini. Masalahnya, setiap analog 'lingkaran pohon' berukuran hanya beberapa mikrometer. Inilah yangmembuatnya sangat menantang untuk diteliti lebih detail," ungkapnya.

Saat mempelajari Quartz crystals dari Gunung Toba, para ilmuwan menemukan bahwa terdapat perbedaan dalam komposisi dan berat bagian luar kristal, dibandingkan bagian dalamnya. Bagian luar kristal lebih berat dan berisi sejenis oksigen yang disebut 18O. Sementara di bagian dalam terdapat jenis yang lebih ringan, disebut 16O.

Berdasarkan penelitian, rasio menunjukan bahwa sesuatu dalam sistem magmatik berubah drastis sesaat sebelum letusan besar. Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Para peneliti berpikir kemungkinan ketika magma meleleh, dibutuhkan jumlah besar batu di dekat magma yang memiliki rasio yang sama. 

"Jenis baru ini juga sering mengandung banyak air, yang bisa dilepaskan ke magma. memproduksi uap, dengan demikian tekanan gas meningkat dalam ruang magma," ujar penulis lain dalam studi tersebut, Dr Frances Deegan.

Menurut dia, hal tersebut kemudian meningkatkan tekanan gas secara pesat dan akhirnya membuat magma mengalami pecah kerak atasnya, dqan mengirim ribuan kilometer kubik magma ke atmosfer.

Seberapa sering supervolcano meletus? 

Untungnya, gunung api super seperti ini sangat jarang meletus. Level Letusan gunung berapi menggunakan ukuran Volcanic Explosivity Index (VEI). Dimana VEI 7 dan VEI 8 merupakan letusan yang paling kuat. 

Para peneliti menyebut, letusan Toba khususnya sangat begitu luar biasa besarnya, dimana letusannya hampir memusnahkan seluruh manusia. 

Selain Toba, berikut adalah sejumlah supervolcanoes lainnya yang mengalami erupsi terbesar dalam sejarah:

1. La Garita Caldera.
Meletus sekitar 27.800.000 tahun yang lalu. Letusannya melepaskan 5.000 kilometer kubik magma

2. Huckleberry Ridge, Yellowstone 
Memuntahkan 2.500 kilometer kubik magma, pada 2.100.000 tahun yang lalu.

3. Atana Ignimbrit di Chili
Meletus sekitar 4.000.000 tahun yang lalu, dan juga memuntahkan 2.500 kilometer kubik magma.

4. Gunung Tambora, Sumbawa
Meletus pada tahun 1815, dan dicatat sebagai letusan terbesar dalam catatan sejarah. Skala letusannya adalah VEI 7, menelan 100.000 korban jiwa, dan menciptakan musim dingin vulkanik global.

5. Gunung Vesuvius dan Gunung St Helens
Meskipun terkenal, letusan kedua gunung ini pada tahun 1980 sangat kecil jika dibandingkan supervolcanic lainnya.

Baca Juga

Kowani: Bicara Perempuan Tak Hanya Soal Sanggul

JAKARTA, (PR).- Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan, berbicara mengenai perempuan tidak hanya soal sanggul dan kecantikan.

Ketua DPR Dukung Pembentukan Pansus First Travel

JAKARTA, (PR).- Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mendukung langkah Komisi III DPR yang akan membentuk panitia khusus terkait korban penipuan biro perjalanan First Travel. Hal ini agar persoalan tersebut bisa segera diselesaikan.

Makin Halal, Makanan Makin Bernilai

SUDAH setahun ini Nita menerapkan standar yang ketat atas semua produk makanan, minuman, dan obat-obatan yang dibelinya di toko modern, warung, dan rumah makan, bahkan yang dipesannya melalui toko-toko dalam jaringan.

KPAI: Pemberitaan Media Kerap Langgar Hak Anak

JAKARTA, (PR).- Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan pemberitaan media masih kerap melanggar hak-hak anak saat menjadi pelaku, korban maupun saksi tindak kejahatan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers di Gedung Djuanda I, Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu, 22 Maret 2017. Sri Mulyani memaparkan soal hasil pertemuan G-20 tingkat menteri keuangan dan gubernur bank sentral diantaranya perdagangan be

Sri Mulyani Menteri Keuangan Terbaik Asia Pasifik 2018

JAKARTA, (PR).- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dinobatkan sebagai Menkeu terbaik di Asia Pasifik pada 2018 versi majalah keuangan FinanceAsia, menyusul penghargaan sama yang diterima tahun lalu.