Pengungsi Rohingya Akan Dipulangkan, PBB Nilai Myanmar Belum Kondusif

Pengungsi Rohingya/ADE BAYU INDRA/PR
PENGUNGSI muslim Rohingya berjalan membawa bantuan bahan makanan pokok dari Rumah Zakat yang tergabung dalam Indonesian Humanitarian Alliance (IHA), di Kamp Balukhali, Cox's Bazar, Bangladesh, Senin, 29 Januari 2018. Berdasarkan data Inter Sector Coordination (ISCG) per 20 Januari 2018, jumlah pengungsi Rohingya berjumlah 688.000 jiwa yang terhitung sejak gelombang pengungsian Agustus tahun lalu. Balukhali merupakan salah satu dari lima Distrik Cox's Bazar yang dihuni oleh banyak pengungsi.*

PENYELIDIK hak asasi manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak Bangladesh membatalkan rencana untuk mulai memulangkan ratusan ribu pengungsi Rohingya ke negara bagian Rakhine, Myanmar pada bulan ini. Lantaran jika tetap memaksakan untuk memulangkan para pengungsi rohingya, dikhawatirkan mereka akan menghadapi resiko tinggi dan kembali mengalami penganiayaan.

Kasus penganiayaan para pengungsi Rohingya bermula ketika para pemberontak Rohingya melakukan penyerangan terhadap pihak keamanan militer Myanmar pada bulan Agustus 2017 lalu. Akibatnya terjadi operasi penindakan keras yang dilakukan oleh militer. Sejak saat itu lebih dari 700.000 pengungsi Rohingya menyeberang ke Bangladesh dari Myanmar barat.

Sebelumnya Bangladesh dan Myanmar telah menjalin kesepakatan pada 30 Oktober untuk mulai memulangkan kembali para pengungsi Rohingya ke Myanmar pada pertengahan November. Namun badan bagian pengungsi PBB telah mengatakan bahwa keadaan di Rakhine yang belum kondusif bagi para pengungsi bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Yanghee Lee, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia telah menerima informasi yang dapat dipercaya dari para pengungsi di Cox's Bazar, Bangladesh bahwa “mereka sangat takut nama mereka berada didalam daftar untuk dipulangkan, sehingga mereka merasa tertekan dan cemas terkait hal tersebut”.

Sampai sejauh ini Lee tidak melihat adanya bukti bahwa pemerintah Myanmar telah menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif. Sehingga akan riskan jika para pengungsi tetap dipulangkan ke tempat asal mereka tidak hidup dengan aman juga hak-hak mereka tidak dijamin oleh pemerintah Myanmar.

“Ia (pemerintah Myanmar) telah gagal memberikan jaminan bahwa mereka (pengungsi Rohingya) tidak akan mengalami penganiayaan dan kekerasan mengerikan yang sama lagi," kata Lee dilansir Reuters, Rabu 7 November 2018.

Lebih lanjut, Lee mengharapkan akar penyebab krisis harus ditangani terlebih dahulu, termasuk hak untuk kewarganegaraan dan kebebasan bergerak. Myanmar tidak menganggap Rohingya sebagai kelompok suku asli. Banyak kalangan di negara yang mayoritas beragama Budha menyebut Rohingya adalah “suku Bengali”, yang mengisyaratkan mereka adalah warga dan keturunan Bangladesh.***

Baca Juga

Pneumonia Pembunuh 11 Juta Balita pada 2030

PARIS, (PR).- Pneumonia bakal membunuh hampir 11 juta anak balita pada tahun 2030, demikian diperingatkan para ahli sebagaimana dikutip dari situs www.rte.ie. Komikus Stan Lee yang meninggal dalam usia 95 tahun diperkirakan juga meninggal akibat pneumonia.