AS Sanksi Rusia Atas Serangan Salisbury, Kremlin pun Meradang

Foto combo Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin oleh SputnikPool.*

MOSKOW, (PR).- Rusia marah dan pasar saham setempat pada Kamis pagi menyusul pengumuman sanksi baru AS yang keras atas dugaan penggunaan gas saraf oleh Rusia dalam serangan Salisbury. Seperti dilaporkan laman The  Guardian, Kamis 9 Agustus 2018, juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, mengatakan sanksi itu "benar-benar melanggar hukum dan tidak sesuai dengan hukum internasional.

Sementara para poltisi Rusia bersumpah untuk menanggapi sanksi baru AS terhadap negara mereka dengan langkah-langkah balasan, yang dapat mencakup larangan ekspor roket atau sumber daya untuk manufaktur.
"Teater absurd terus berlanjut," ujar Dmitry Polyanskiy, poltiisi senior yang juga perwakilan tetap Rusia untuk PBB. “Tidak ada bukti, tidak ada petunjuk, tidak ada logika, tidak ada praduga tak bersalah, sanksi yang hanya didasarkan pada ketaksukaan terhadap Rusia. Bagi AS hanya satu aturan: menyalahkan semua yang ada di Rusia, tidak peduli seberapa absurd dan palsu itu. Mari kita sambut United Sanctions of America!," tulis Dmitry mengutarakan kekesalannya atas sikap AS yang suka menyalahkan Rusia atas hal yang terjadi di dunia global.

Anggota parlemen senior Rusia itu pun menyebut AS sebagai "negara polisi".

Sementara politisi lainnya, anggota komite urusan luar negeri Duma, Leonid Slutsky, mengatakan Rusia dapat memblokir ekspor mesin roket RD-180 ke AS sebagai tindakan balasan potensial. Demikian dilaporkan kantor berita RIA Novosti seperti dikutip The Guardian.

Amerika Serikat mengumumkan pada hari Rabu malam waktu setempat bahwa pihaknya akan memberlakukan pembatasan ekspor teknologi sensitif ke Rusia. Sanksi ini diberlakukan setelah AS yakin bahwa Rusia terlibat dalam percobaan pembunuhan mantan mata-mata Rusia dan putrinya di Sallisbury, Inggris beberapa waktu lalu.

Kementrian Luar Negeri Rusia mengatakan sanksi baru akan mulai berlaku pada 22 Agustus dan akan diikuti dengan langkah-langkah yang lebih luas, seperti menangguhkan hubungan diplomatik dan mencabut hak mendarat Aeroflot, jika Rusia tidak mengambil tindakan "perbaikan" dalam 90 hari.

Tolak inspeksi internasional

Parlemen Rusia  diperkirakan tidak akan menyetujui tanggapan yang diperlukan oleh undang-undang AS, yang meliputi membuka fasilitas ilmiah dan keamanan Rusia untuk inspeksi internasional. Inspeksi bertujuan untuk menilai apakah Rusia memproduksi senjata kimia dan biologi yang melanggar hukum internasional. Dalam hal ini, sepertidilansir The Guardian, Moskow akan menjegal upaya pihak luar untuk melakukan inspeksi ke negara mereka.

"Tentu saja terserah Rusia untuk membuat keputusan itu, apakah mereka memenuhi kriteria ini," kata seorang pejabat senior pemerintah. "Putaran kedua sanksi ... secara umum lebih kejam dari putaran pertama."

Pasar Rusia menanggapi sanksi terbaru AS ini dengan sentimen negatif. Saham Aeroflot, operator penerbangan terbesar di negara itu, turun 12% dalam perdagangan sebelum jam makan siang pada Kamis karena kekhawatiran bahwa penerbangan langsung antara Rusia dan AS dapat dihentikan sepenuhnya.

Sementara mata uang Rusia, rubel, jatuh ke bawah 66 terhadap dolar AS, turun 4% dari Rabu pagi saat rancangan draf sanksi mulai bocor ke publik. Di dalam draf sanksi terbaru AS untuk Moskow itu disebutkkan bahwa Rusia adalah sponsor negara teror.

Selama ini AS telah mengusir 60 orang yang dicurigai sebagai mata-mata Rusia sebagai bagian dari respons global terhadap serangan Maret di Salisbury terhadap Sergei Skripal, mantan kolonel intelijen militer Rusia, dan putrinya, Yulia, di mana agen saraf buatan Rusia yang dinamakan novichok itu sangat langka dan efenya sangat mematikan.

Kremlin sendiri dengan tegas membantah tuduhan Inggris bahwa pihaknya terlibat dalam serangan zat syaraf di Sallisbury pada Maret lalu itu.  Rusia menyebutkan bahwa pihaknya tak pernah memproduksi Novichok. Sejak serangan zat saraf Maret lalu itu, dua warga lainnya ikut menjadikorban tewas.

Dawn Sturgess meninggal pada bulan Juli setelah menangani botol kecil yang terkontaminasi dengan agen saraf pada 30 Juni. Pasangannya, Charlie Rowley, juga sakit usai terkontaminasi zat saraf.

PETUGAS menghitung uang kertas dolar AS pecahan 100 dolar saat melayani pembeli di penukaran uang DolarAsia di Jln. Cibaduyut, Kota Bandung, Jumat (29/11/2013). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih lemah mencapai Rp 12.005 per satu dola

Dampak ekonomi

Sanksi baru  AS terhadap Rusia  yang melibatkan ekspor daftar peralatan yang panjang yang dianggap sensitif terhadap alasan keamanan nasional. Termasuk mesin turbin gas, sirkuit terpadu, dan peralatan kalibrasi yang digunakan dalam avionik. Seorang pejabat AS mengatakan bahwa sekitar setengah dari ekspor AS ke Rusia mengandung komponen sensitif. Saat ini, ekspor tersebut dipertimbangkan berdasarkan kasus per kasus. Setelah 22 Agustus 2018 mendatang, akan ada "praduga penyangkalan", yang berarti bahwa ekspor untuk semua peralatan tersebut akan dilarang.

“Kami menerapkan sanksi ini terhadap semua perusahaan milik negara atau perusahaan lainnya yang didanai Rusia. Itu akan berdampak terhadap ekonomi Rusia, ”kata seorang pejabat senior AS. "Mungkin ada sesuatu di urutan 70% dari ekonomi mereka dan mungkin 40% dari tenaga kerja mereka terancam di-PHK dalam perusahaan-perusahaan itu."

Pejabat itu mengatakan nilai ekspor yang terkena dampak bisa bernilai "ratusan juta dolar".  Namun, pemerintah AS mengisyaratkan bahwa pihaknya bermaksud untuk memberikan pengecualian untuk bantuan asing, kerjasama dalam proyek luar angkasa dan keselamatan penerbangan.

Pejabat senior tersebut tidak menyebutkan jika hasil penyelidikan intelijen baru telah memicu sanksi, tetapi sanksi tersebut datang pada saat otoritas Inggris tampaknya membuat kemajuan dalam penyelidikan. Dalam hal ini, pemerintah Inggris siap untuk mengajukan permintaan ekstradisi ke Moskow untuk dua orang Rusia yang dicurigai melakukan serangan Salisbury.

Seorang juru bicara pemerintah Inggris menyambut pengumuman Washington yang menerapkan sanksi baru terhadap AS, dengan mengatakan: “Respons internasional yang kuat terhadap penggunaan senjata kimia Salisbury mengirimkan sebuah pernyataan yang tegas ke Rusia bahwa perilaku provokatif dan sembronoannya tidak bisa dibenarkan. 

”Sanksi-sanksi itu adalah yang terbaru dalam serangkaian tindakan keras yang disetujui terhadap Rusia yang tampaknya bertentangan dengan keengganan Trump untuk mengkritik Putin secara terbuka. Selama penampilan publik di Helsinki bulan lalu, Trump tampaknya mengabaikan kesaksian pemimpin seniornya sendiri bahwa Rusia telah mencoba ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2016, dan serangan kimia Salisbury hampir tidak ditangani sama sekali. Tapi sementara Trump telah bertindak dengan hormat terhadap pemimpin Rusia di depan umum, langkah-langkah keras dalam RUU sanksi sebagian besar diatur oleh undang-undang AS tentang penggunaan senjata kimia, dan meninggalkan ruang pemerintahan Trump sedikit untuk bisa bermanuver," demikian pernyataan jubir pemerintah Inggris.

Seperti diketahui, saat Trump bertemu Putin di Helsinki bulan lalu, Trump memuji-muji mitranya itu. Tak ada kecaman terhadap keterlibatan Rusia dalam serangan senjata kimia di Sallisry. Bahkan, Trump dengan bangga bahkan menyebut Rusia sebagai sekutu AS, hal yang tak pernah diucapkan pemimpin AS manapun sebelumnya. Rusia sebelum era Trump dikenal sebagai rival bukan kawan AS.***

Baca Juga

Abdel Fatah al-Sisi Ingin Berkuasa Selamanya di Mesir

KAIRO, (PR).- Petisi yang mengklaim bahwa presiden Mesir Abdel Fatah al-Sisi akan tetap berkuasa di luar batas dua periode sesuai aturan yang berlaku beredar di lembaga-lembaga Mesir dan di antara tokoh-tokoh pro negara.