Abdel Fatah al-Sisi Ingin Berkuasa Selamanya di Mesir

Pemilu Mesir 2018/REUTERS
KENDARAAN di Mesir dihiasi poster Presiden Abdel Fattah al-Sisi saat pemilu pada 27 Maret 2018.*

KAIRO, (PR).- Petisi yang mengklaim bahwa presiden Mesir Abdel Fatah al-Sisi akan tetap berkuasa di luar batas dua periode sesuai aturan yang berlaku beredar di lembaga-lembaga Mesir dan di antara tokoh-tokoh pro negara.

The Guardian, Kamis 2 Agustus 2018 melaporkan, foto petisi diberikan kepada jurnalis The Guardian oleh tokoh politik senior. Dokumen tersebut menyatakan bahwa hal itu adalah bagian dari kampanye yang disebut "The People Demand" atau "Tuntutan Rakyat" dan menyerukan perubahan terhadap konstitusi untuk memungkinkan Sisi tetap menjadi presiden di luar masa jabatan keduanya.

Hal tersebut akan membuat Sisi seperti Vladimir Putin dan Recep Tayyip Erdogan yang juga mengubah konstitusi supaya tetap berkuasa lebih dari dua periode.

Penanda tangan memberikan nama dan perincian pribadi mereka seperti nomor identifikasi nasional untuk menyetujui amandemen pasal 140 UUD Mesir yang menetapkan bahwa presiden dipilih untuk dua masa jabatan selama empat tahun. "Kami meminta untuk mengubahnya menjadi tiga istilah." Demikian bunyi petisi itu.

Tidak jelas seberapa luas petisi itu telah beredar atau berapa banyak orang yang telah menandatanganinya. Namun, keberadaannya mengikuti model yang dicoba dan diuji untuk memberikan kesan bahwa petisi tersebut mendapat dukungan golongan masyarakat akar rumput terhadap tujuan kebijakan pemerintah Mesir.

To Build It

Petisi yang sama yang disebut "To Build It", mensyaratkan bahwa Sisi bisa tetap berkuasa setelah masa jabatan kedua selesai.

Petisi itu diprakarsai seorang anggota Parlemen Mesir tujuh bulan sebelum pemilihan umum pada Maret 2018 lalu.

Sisi, yang berkuasa setelah kudeta pada 2013, menang dengan 97,8% suara pada Maret 2018 lalu setelah lima kandidat oposisi dilarang ikut pemilu. Satu-satunya lawan Sisi saat itu adalah Moussa Mustofa, yang juga adalah loyalis Sisi.

Tak heran, saat itu banyak warga Mesir, khususnya anak muda memboikot pemilu mengikuti seruan kelompok oposisi yang calon presiden mereka dilarang mengikuti pemilu Maret lalu.

Pendiri gerakan "To Build It" menyatakan bahwa selama enam bulan kampanye mereka telah mengumpulkan lebih dari 13 juta tanda tangan dukungan untuk periode kedua Sisi di pemerintahan.

Ketika The Guardian mengunjungi markas besar kampanye pada Januari 2018 lalu, hanya satu anggota staf yang hadir di kantor kosong yang dipenuhi dengan setumpuk petisi yang tidak ditandatangani.

Kampanye awal tahun lalu itu tercemari berbagai laporan tentang tekanan dan intimidasi bagi orang Mesir yang dipaksa menandatanngani petisi dukungan terhadap Sisi.

Bahkan, satu saluran televisi lokal menyiarkan bagaimana kalangan buruh dipaksa menandatangani petisi tersebut. Mereka mau menandatangani setelah diiming-imingi bayaran.

Ketika dihubungi The Guardian untuk menanyakan apakah mereka terlibat dalam kampanye baru, staf dari “To Build It” tidak menanggapi. Mereka mengatakan, tidak lagi terlibat dalam kampanye. Bassam Rady, juru bicara kepresidenan, juga tidak menanggapi ketika dihubungi tentang petisi "To Build It" tersebut.

Sebelum menjadi Presiden Mesir, Sisi tak pernah terlibat dalam partai politik. Dia murni berlatar belakang militer. Oleh karena itu, saat empat juta warga berdemonstrasi menuntut Mursi mundur, para demonstran berharap banyak pada Sisi untuk membawa Mesir menjadi negara yang maju.

Kini tujuh tahun setelah Arab Spring dan empat tahun setelah Mursi lengser, kendati kondisi Mesir tak jauh lebih baik ketimbang era Mubarak, warga Mesir masih berharap Sisi melanjutkan kekuasaanya, bahkan lebih dari dua periode.***

Baca Juga