Harun Yahya, Zionisme dan Palestina

Harun Yahya/REUTERS

BUKU tentang Palestina karya Harun Yahya yang diterbitkan menjadi dua jilid oleh Dzikra, Bandung, masing-masing "Palestina, Zionisme dan Israel", dan "Palestina, Intifadah dan Muslihat Israel", cukup spektatuler.

Sebab, dibandingkan dengan buku-buku tentang Palestina lainnya, baik terjemahan, maupun asli bahasa Indonesia, memiliki sudut pandang, pesan dan kelengkapan data tersendiri. Apalagi jika dikaitkan dengan jati diri penulisnya yang asal Turki, negara yang seratus persen menerapkan ideologi sekuler dalam kehidupan sehari-hari bangsanya, sejak 1924.

Lahir di Ankara tahun 1956, Harun Yahya (tidak dijelaskan nama aslinya), mengalami masa kanak-kanak dan masa pendidikan yang penuh intrik dan intimidasi dogma sekulerisme. Pada tahun-tahun itu hingga akhir 1980-an, pemerintah Turki ciptaan Mustapa Kemal Pasha yang meruntuhkan Dinasti Usmani (1300-1924), amat giat mengkampanyekan, memaksakan dan melaksanakan sekulerisme secara menyeluruh, dari orang perorang warga negara hingga kebijakan nasional. 

Harun Yahya berhasil "meloloskan diri" dari kekangan pendidikan sekuler dan menemukan bakat intelektualita serta pandangan hidupnya yang benar-benar Islami. Karyanya tentang Palestina, yang mengungkapkan kekejaman Israel dan keculasan Zionisme, benar-benar keberanian luar biasa. Sebab, di Turki yang sekuler - seperti juga di negara-negara Eropa Barat (terutama Prancis dan Inggris) - siapa saja boleh mengeritik, menentang, menjelek-jelekkan apa saja, termasuk ideologi dan sistem pemerintahan. Tapi, jangan coba-coba mengeritik Zionisme dan Israel. Hukuman pidana penjara tersedia 5-10 tahun. Juga hukuman sosial tuduhan "anti Semit". 

Secara gamblang dan tegas, Harun Yahya mencela media massa Barat yang selalu berpihak kepada kejahatan dan kekejaman Israel terhadap Palestina. Media massa Barat yang mengaku independen, akurat, terbuka, dalam kasus Israel-Palestina selalu membenarkan segala tindakan Israel dan menyalahkan perlawanan Palestina. Padahal, kenyataan menunjukkan, tujuan dasar Israel adalah menghancurkan semua supra dan infrastruktur Palestina agar negara Israel impian kaum Zionis dapat terwujud. 

Jujur menelanjangi kekejaman zionis

Semangat perjuangan Palestina tak pernah redup. Apalagi setelah muncul gerakan intifadah, 8 Desember 1987. Gerakan massal rakyat Palestina bersenjatakan batu, melawan Israel bersenjata lengkap, sangat menggentarkan tokoh-tokoh negara Zionis dan antek-anteknya itu. Pada 1987-1990, seorang rabbi (pemimpin agama Yahudi) di Amerika Serikat, mempertanyakan, mengapa bisa begitu? "Leluhur kita Daud, dulu mengalahkan Jalut dengan lontaran batu. Mengapa sekarang, anak-anak Jalut (maksudnya: Paletina) mengalahkan kita dengan batu? Pasti ada sesuatu yang salah pada diri kita, sehingga kita anak-anak Daud menjadi anak-anak Jalut!" kata rabbi tersebut.

Pemerintah Israel memfokuskan segala daya untuk meredam intifadah. Langkah yang diambil, menyelenggarakan perdamaian dengan Yasser Arafat. Kepada Arafat ditawarkan proposal pembentukan Otoritas Palestina serta penyerahan wilayah Gaza dan Jericho. Proposal Gaza-Jericho First November 1991, mendapat sambutan dari Arafat dan PLO, namun ditentang keras Harakah Muqawwamah al Islamiyah (Hamas) sebagai pencetus dan pelaksana intifadah.

Zionis Israel tampak kuat dan kokoh bersatu. Tapi sesungguhnya mereka lemah dan terpecah-belah. Alquran sudah menunjukkan, "Ba'suhum bainahum syadidun tahsabuhum jami'a wa qulubuhum satta", "Kepengecutan mereka telah terbukti pada perang Khaibar. Mereka tak berani melawan kaum Muslimin di tempat terbuka, kecuali di perkampungan yang sudah dibenteng-benteng dengan tembok" (Q.s. al Hasyr: 14).Tindakan Zionis Israel sekarang membangun tembok penghalang dikritik keras Yahudi Ortodoks karena dianggap mengembalikan situasi Khaibar.

Alhasil, buku "Palestina" karya Harun Yahya, merupakan hasil pemikiran yang jernih dan lugas, berisi pengungkapan fakta yang jujur dan berani tentang kekejaman Zionis Israel di Palestina. Dari buku tersebut dapat ditarik kesimpulan, perlawanan rakyat Palestina melalui intifadah sangat menciutkan nyali Israel. Sehingga berbagai daya tipu muslihat dilancarkan agar intifadah dapat dipatahkan. Israel tahu, dari intifadah akan muncul generasi umat Islam pilihan yang akan mengalahkan dominasi Zionis Israel baik di Palestina maupun di seluruh muka bumi. Generasi yang oleh Quran (S. Isra: 5) disebut, "Ibadallana uliy ba'sin syadid", "Hamba Allah yang memiliki kekuatan fisik-mental sebagai mujahid".(H. Usep Romli HM, penulis, wartawan senior, sastrawan. Tinggal di Garut)***

Judul Buku : Palestina, Zionisme dan Terorisme Israel (1)
Palestina, Intifadah, 
dan Muslihat Israel (2)
Penulis : Harun Yahya
Penerjemah : Yelvi Andri Z
Penerbit : Dzikra, Bandung, 
Mei 2005

**(Resensi buku ini pernah dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 19 September 2005.)

Baca Juga

Festival Indonesia di Tokyo Diminati Warga Jepang

TOKYO, (PR).-  Festival Indonesia yang digelar di Hibiya Park, Tokyo, Jepang, resmi dibuka Mentri Koordinator Bidang Sumber Daya Manusia, Puan Maharani, Minggu 29 Juli 2018.