Memasuki Hari Ketiga, Banjir Jepang Tewaskan 76 Orang

Banjir di Jepang/REUTERS

TOKYO, (PR).- Jumlah korban banjir ganas Jepang terus bertambah. Seperti dilaporkan laman The Guardian, Minggu 8 Juli 2018, jumlah korban tewas kini lebih dari 70 orang dan puluhan lainnya hilang. Jumlah ini bertambah karena hujan deras kembali mengguyur sejumlah kawasan Jepang  pada hari Minggu 8 Juli 2018 atau hari ketiga banjir. Banjir ganas Jepang mulai terjadi pada Jumat 6 Juli 2018 pekan lalu.

Perdana menteri, Shinzo Abe memperingatkan bahwa tim penyelamat saat ini  "berpacu dengan waktu". Pasalnya, memasuki hariketiga banjir, sulit untuk menemukan korban hilang dalam keadaan selamat. Banjir lanjutan yang terjadi pada Minggu, telah memicu pemerintah mengeluarkan peringatan bencana di pulau-pulau utama Kyushu dan Shikoku di barat daya. Media setempat melaporkan korban tewas telah meningkat dalam semalam menjadi 76, dengan 92 orang hilang.

Perintah evakuasi telah dikeluarkan untuk 4,72 juta orang dari berbagai kawasan di Jepang. Sementara sekira 48.000 anggota pasukan pertahanan diri, polisi dan pemadam kebakaran dimobilisasi untuk mencari orang yang terperangkap atau terluka . Demikian laporan kantor berita Kyodo yang dikutip The Guardian.

Terparah

Juru bicara pemerintah, Yoshihide Suga, mengatakan sebagian besar orang yang hilang berada di bagian selatan prefektur Hiroshima tetapi keberadaan mereka sebenarnya tidak diketahui. Curah hujan terberat yang pernah dialami Jepang dalam beberapa dasawarsa telah menyebabkan banjir dan tanah longsor yang luas - bahaya yang sering terjadi bagi orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan - dengan laporan tentang mobil yang tersapu banjir dan orang yang berlindung di atap rumah mereka yang tergenang air.

Badan Meteorologi Jepang, yang telah mengeluarkan peringatan tingkat tertinggi untuk daerah yang terkena dampak, mengatakan selama tiga jam tingkat curah hujan di Prefektur Kochi mencapai akumulasi 26,3 cm (10,4 inci), tertinggi sejak catatan tersebut dimulai pada tahun 1976.

Abe, yang telah mendirikan pusat tanggap darurat, mengatakan: "Upaya penyelamatan saat ini adalah berpacu dengan waktu," menambahkan bahwa pekerja darurat "melakukan yang terbaik" untuk menemukan orang-orang yang hilang dan menyelamatkan mereka yang terperangkap oleh banjir. Hujan telah menyelimuti beberapa desa, memaksa penduduk yang putus asa untuk berlindung di atap rumah mereka dengan air banjir yang berputar-putar di bawah saat mereka menunggu untuk diselamatkan.

Hujan yang menerjang daerah pemukiman di prefektur Okayama, di pulau utama Honshu, telah membuat danau besar setempat meluap, penuh dengan air dan lumpur. Ini memaksa orang-orang melarikan diri ke atap dan balkon. Cuplikan TV menunjukkan beberapa orang melambai-lambaikan tangannya ke helikopter penyelamat. Perahu dayung militer juga digunakan untuk membawa orang ke tanah kering.

Masih dilansir The Guardian, hujan deras telah menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor. Banyak sungai yang meluap dan jembatan hanyut, sementara layanan kereta cepat telah ditunda di sebagian besar kawasan Jepang barat.

Hiroshima

Penduduk di Hiroshima mengatakan situasinya lebih buruk daripada musim panas 2014, ketika hujan lebat memicu tanah longsor yang menewaskan 77 orang. “Itu hujan yang lebih lebat daripada empat tahun lalu. Saya takut, berpikir apa yang akan terjadi pada saya, ” demikian laporan Kyodo yang mengutip pria berusia 71 tahun.

Nobue Kakumoto (82), penduduk Hiroshima lainnya mengatakan bahwa lingkungannya “berubah menjadi lautan”. Dia menambahkan: "Saya khawatir karena saya tidak tahu berapa lama akan tetap seperti ini."

Petugas penyelamat mengatakan mereka berusaha membersihkan beberapa tanah longsor yang telah memblokir akses ke orang-orang yang membutuhkan bantuan. "Kami melakukan operasi penyelamatan sepanjang waktu," kata Yoshihide Fujitani, seorang pejabat manajemen bencana di perfektur Hiroshima, seperti dikutip The Guardian. "Kami juga membantu memulihkan infrastruktur vital seperti air dan gas," tambahnya. "Kami berupaya keras melakukan yang terbaik." ***

Baca Juga