Ribuan Warga Amerika Serikat Pawai Anti-Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump/RETEURS

BOSTON, (PR).- Protes massal terhadap Donald Trump dan kebijakan imigrasinya digelar di seluruh AS pada hari Sabtu 30 Juni 2018 siang waktu setempat, mulai dari Los Angeles ke Boston dan di ibukota negara bagian serta kota-kota kecil.

Seperti dilaporkan laman The Guardian, Minggu 1 Juli 2018, ketika sebagian besar negara bagian di AS dilanda gelombang panas (awal musim panas), para demonstran dengan berani menerjang terik matahari untuk mengekspresikan perlawanan sengit terhadap kebijakan presiden Trump yang memisahkan keluarga imigran gelap (tanpa dokumen sah) di perbatasan selatan. Mereka juga menyuarakan keprihatinan atas orang pilihan Trump yang dalam waktu dekat akan mengisi posisi Mahkamah Agung.

Presiden, yang bermain golf di klubnya di New Jersey, mengecam ribuan warga yang mendemonya itu dan menyebut mereka sebagai kaum "kiri radikal" Demokrat, yang menurut dia berada di balik seruan untuk membubarkan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE), agensi yang punya pandangan keras terkait imigrasi dan pendatang gelap. 

“Untuk semua teman yang bekerja dengan ICE, jangan khawatir atau kehilangan semangatmu. Anda melakukan pekerjaan fantastis untuk menjaga kita tetap aman dengan memberantas unsur-unsur kriminal terburuk. Sangat berani! Kaum Demokrat kiri radikal ingin Anda keluar. Mereka ingin ICE bubar.  Selanjutnya mereka juga ingin intitusi polisi dihilangkan. Camkan kata-kata saya, itu tidak akan pernah terjadi!," ujar Trump lewat akun Twitternya, Minggu 1 Juli 2018.

Kebijakan imigrasi adalah pilar utama dari kampanye Trump kepada para pendukungnya menjelang pemilihan paruh waktu yang akan digelar waktu bulan November. Di saat yang sama kebijakan ini juga menjadi bahan utama perlawanan kelompok oposisi atau kelompok anti-Trump, terutama di kalangan sayap progresif Partai Demokrat.

Di Washington pada hari Sabtu 30 Juni 2018, para pemrotes berkumpul di Lafayette Square, dekat Gedung Putih. Diselenggarakan oleh MoveOn,  kelompok American Civil Liberties Union, dan lusinan kelompok lain, termasuk the Families Belong Together  berpawai menampilkan sejumlah pembicara dari kalangan selebritis seperti Lin-Manuel Miranda, Alicia Keys dan America Ferrera. Miranda menyanyikan lagu pengantar tidur, Dear Theodosia, dari album terlarisnnya, Hamilton.

Sementara di New York, pawai anti-Trump juga digelar besar-besaran seperti halnya di Los Angeles, Dallas, Denver, Chicago, Boston, dan kota-kota besar lainnya. Tokoh-tokoh Demokrat senior berbicara kepada orang banyak; di Boston, pembicara termasuk kandidat presiden untuk pilpres 2020 Elizabeth Warren dan anggota kongres Joe Kennedy III. Di LA, Senator Kamala Harris, kandidat capres potensial 2020 lainnya, berbicara setelah John Legend tampil. Protes dalam skala lebih kecil berlangsung di Texas dan di luar klub Trump New Jersey, tempat sekitar 200 orang berkumpul.

Calon Ketua MA

Masih dilansir The Guardian, Trump diharapkan mulai mewawancarai kandidat ketua MA untuk menggantikan Anthony Kennedy, hakim agung yang mengumumkan pengunduran dirinya minggu ini. Protes-protes itu juga berfokus pada sejumlah kandidat pilihan Trump untuk menempati posisi penting itu, yang dikhawatirkan akan menempatkan pengadilan sulit dalam mengambil keputusan seperti dalam kasus Roe v Wade tahun 1973 soal jaminan hak aborsi. Minggu ini, pengadilan mendukung larangan perjalanan Trump terhadap negara-negara mayoritas Muslim dan memberikan pukulan berat bagi serikat buruh yang banyak anggotanya warga pendatang. Meskipun mereka warga AS, mereka akan sulit pulang sesekali ke kampung halaman di negara-negara mereka yang masuk dalam daftar larangan perjalanan buatan Trump. 

Bulan lalu, Trump akhirnya menghentikan kebijakan pemisahan, setelah kecaman publik atas gambar dan rekaman anak-anak imigran gelap yang dikarantina di sejumlah ruangan mirip penjara milik pemerintah federal. Namun, perintahnya tidak jelas dan pemerintah telah dikritik karena kurangnya rencana untuk menyatukan kembali sekitar 2.000 anak-anak dengan orang tua mereka. Pemerintahan sekarang, mengabaikan penyelesaian pengadilan tahun 1997 yang membatasi berapa lama anak-anak dapat ditahan.

"Reunifikasi keluarga adalah langkah awal yang harus dilakukan, tetapi mengurunng mereka  bukanlah solusi," ujar demonstran Kate Earle dari Maryland yang ikut pawai antiTrump di Washington, Sabtu sore waktu setempat.

Di Indianapolis, ribuan berkumpul di luar pusat pemerintahan di negara bagian asal Wakil Presiden Mike Pence. Ketika orang-orang bersorak, Mahri Irvine, seorang antropolog berusia 35 tahun, berbicara kepada Guardian melalui telepon.

"Negara kami benar-benar, sangat dekat dengan tepi jurang, untuk melakukan beberapa pelanggaran hak asasi manusia yang serius," katanya. “Sebenarnya, kami sudah melakukannya. Bagi saya, itu menjengkelkan jika orang tidak memiliki tingkat imajinasi untuk berpikir, 'Bagaimana perasaan saya jika saya harus melarikan diri dari negara yang penuh kekerasan, dan saya dipenjara, dan anak-anak saya diambil dari saya?," ujar Mahri Irvine kepada The Guardian.

Dari Eau Clare di Wisconsin, Victoria Duarte yang berusia 22 tahun mengatakan bahwa aksi unjuk rasa di sana sungguh menggembirakan, meskipun dimulai dengan seorang pria yang berteriak: "Jika Anda tidak bisa berbicara bahasa Inggris, keluarlah dari negara ini."

“Saya berada di luar sana hari ini untuk banyak alasan,” katanya. “Tetapi terutama karena kami orang muda merasa sangat marah dan banyak frustrasi," ujar Victoria kepada The Guardian.***

Baca Juga

SERANGAN udara Israel di Jalur Gaza, Minggu (13/7).*

Jet Tempur Israel Serang Sejumlah Sasaran di Jalur Gaza

GAZA, (PR).- Jet-jet tempur Israel menyerang sasaran-sasaran di Jalur Gaza pada Rabu 17 Oktober 2018 pagi, setelah sebuah roket yang ditembakkan para militan di kantung pesisir itu mengenai satu rumah di Beersheba, sebuah kota di Israel.