Di Balik Perjalanan Katsuko Saruhashi, Ada Sosok Yasuo Miyake

Google Doodle 22 Maret 2018/GOOGLE DOODLE

Tak utuh rasanya membicarakan Katsuko Saruhashi tanpa menyinggung Yasuo Miyake. Sosok sang mentor ini, memberi warna dalam kiprah Saruhashi. Perjalanan Katsuko Saruhashi ini dituliskan Lisa Yount dalam bukunya A to Z of Women in Science and Math, (2008:263-264).

Saruhashi mempelajari tingkat karbon dioksida di air laut jauh sebelum orang mulai menyadari bahwa gas ini dapat mempengaruhi tingkat suhu di bumi. Perempuan kelahiran Tokyo, Jepang, 22 Maret 1920 ini juga mencari tahu tentang penyebaran puing-puing radioaktif dari uji coba bom atom atau senjata nuklir yang dilakukan Amerika Serikat.

Melihat perjuangannya yang konsisten, wajar jika hari lahir Saruhashi diperingati Google Doodle hari ini. Saruhashi belajar di Universitas Toho dan lulus 1943. Saat masih di Universitas Toho inilah dia berkenalan dengan ahli meteorologi pemerintahan Yasuo Miyake. 

Miyake pun menjadi teman sekaligus mentor bagi Saruhashi. Setelah perang dunia kedua berakhir, dia meminta Saruhashi menjadi asisten peneliti di Geochemical Research Laboratory, ini bagian dari Japanese Transport Ministry's Meteorological Research Institute.

Sekitar 1950 Miyake meminta Saruhashi mengukur konsentrasi karbon dioksida di laut. "Sekarang semua orang peduli tentang karbon dioksida, tetapi kala itu tidak ada satu pun yang peduli," kata Saruhashi suatu ketika.

Itu sebabnya, kala itu, dia memang harus mendesain sendiri cara pengukuran gas itu. Projek ini kemudian membuat Saruhashi meraih gelar doctor of science degree dari University of Tokyo pada 1957. Dia pun menjadi perempuan pertama yang mendapat gelar itu.

Pada awal tahun 1950-an, Amerika Serikat, Uni Soviet, dan beberapa negara lainnya melakukan uji coba bom nuklir di kawasan terpencil, lalu memenuhi udara dengan puing-puing radioaktif.

Sekitar 1954, kepedulian tentang radioaktif yang bertebaran ini membuat Pemerintah Jepang bergerak. Buku terbitan Fact On File, New York, Amerika Serikat ini mencatat, Pemerintah Jepang meminta laboratorium Miyake mengukur materi radioaktif yang mencapai Jepang baik yang ada di udara dan di air laut.

Miyake lagi-lagi meminta Saruhashi memimpin projek itu. Saruhashi pun menemukan dampak uji coba nuklir Amerika di Pulai Bikini. Sekitar setahun setengah kemudian, ada radioaktif yang bertebaran ditemukan di air laut. Temuan Saruhashi dan timnya itu membuat banyak orang akhirnya menuntut Amerika Serikat untuk menghentikan uji coba bom nuklir pada 1963.

Saruhashi Prize

Katsuko Saruhashi pun terus melanjutkan pengukuran karbon dioksida di air laut dan menemukan air laut Pasifik melepaskan dua kali lebih banyak karbon dioksida ke atmosfir. Hasil penelitiannya ini menunjukkan laut sepertinya tidak memungkinkan mengurangi pemanasan global dengan menyerap kelebihan karbon dioksida itu.

Saruhashi pun menjadi direktur di Geochemical Research Laboratory pada 1979. Dia berhenti setahun kemudian. Kemudian, pada 1990, setelah Yasuo Miyake meninggal, dia menjadi direktur eksekutif di Geochemistry Research Association in Tokyo. Asosiasi ini dipelopori oleh Miyake.

Ketika Saruhashi pensiun dari jajaran direktur Geochemical Laboratory, dia mendapat hadiah dari para pekerja sebesar 5 juta yen atau sekitar 50 ribu dollar AS atau sekitar 688 juta saat ini. Dia menggunakan uang itu untuk mendirikan Saruhashi Prize. Penghargaan ini kemudian diberikan setiap tahun sejak 1981 pada perempuan Jepang yang berkontribusi pada sains alam.

Penerima Saruhashi Prize yang pertama, Tomoko Ohta. Pada akhir tulisannya, Lisa Yount mengutip pernyataan Saruhashi. "Penghargaan ini menyoroti kemampuan perempuan di bidang sains. Setiap pemenang bukan hanya sebagai peneliti sukses tetapi juga manusia yang luar biasa. (The prize highlight (s) the capabilities of women scientists. Each winner has been not only a successful researcher but a wonderful human being as well). Selamat ulang tahun, Katsuko Saruhashi! ***

Baca Juga

Festival Indonesia di Tokyo Diminati Warga Jepang

TOKYO, (PR).-  Festival Indonesia yang digelar di Hibiya Park, Tokyo, Jepang, resmi dibuka Mentri Koordinator Bidang Sumber Daya Manusia, Puan Maharani, Minggu 29 Juli 2018.

Abdel Fatah al-Sisi Ingin Berkuasa Selamanya di Mesir

KAIRO, (PR).- Petisi yang mengklaim bahwa presiden Mesir Abdel Fatah al-Sisi akan tetap berkuasa di luar batas dua periode sesuai aturan yang berlaku beredar di lembaga-lembaga Mesir dan di antara tokoh-tokoh pro negara.