[Laporan Mendalam] Tentara Anak: Senjata Lebih Besar dari Tubuhku

Tentara Anak di Myanmar/AFP

HITLERJUGEND atau Pemuda Hitler merupakan divisi yang dibentuk oleh Adolf Hitler pada akhir Perang Dunia II. Pasukan itu terdiri dari pemuda dan anak-yang anak dijadikan sebagai tentara. Mereka kebanyakan berada pada rentang umur 10 sampai 18 tahun.

Pada tahun 1936, Hitler mewajibkan anak-anak di Jerman untuk mengikuti Divisi Hitlerjugend dan jumlahnya mencapai 4 juta di tahun yang sama. Berdasarkan The History Learning Site dan Council of Hemispheric Affairs, tentara anak ternyata bukanlah fenomena baru. Anak-anak yang dijadikan tentara sudah dipakai selama perjalanan sejarah, bahkan hingga sekarang.

Buruknya struktur sosial di daerah konflik modern atau daerah kumuh yang padat penduduk mengakibatkan anak yatim rentan terhadap indoktrinasi sebagai agen perubahan. Anak-anak dianggap lebih mudah untuk direkrut dan secara sukarela menjadi tentara sebagai pilihan mereka untuk bertahan hidup.

Selain itu, tersedianya persenjataan, senjata api dan senjata ringan lainnya yang menyebar di jalanan, mengakibatkan anak-anak lebih mudah mengakses senjata api. Warlords dan geng memanfaatkan anak-anak karena merupakan pejuang yang aktif, murah dan petarung yang mudah digantikan.

Sekitar 300.000 anak di seluruh dunia tercatat telah direkrut menjadi tentara anak. Mereka dipaksa untuk bergabung dalam kelompok bersenjata, milisi sipil, paramiliter, dan angkatan bersenjata pemerintah. Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak-hak Anak menyebut bahwa setiap orang di bawah 18 tahun dianggap sebagai anak-anak, kecuali di bawah undang-undang tertentu.

Sesuai hukum internasional, merupakan tindakan ilegal bagi orang di bawah usia 18 tahun untuk berpatisipasi aktif dalam angkatan bersenjata dan perekrutan anak di bawah usia 15 tahun dianggap sebagai kejahatan perang.

Tentara anak di Tatmadaw Kyi Myanmar

Human Right Watch memberitakan pemerintah Myanmar mengklaim bahwa usia minimum untuk perekrutan anggota militer adalah 18 tahun. Tetapi, Myanmar menjadi negara yang memiliki jumlah tentara anak tertinggi pada tahun 2002. Lebih dari 20 persen anak-anak di Myanmar berpatisipasi aktif dalam angkatan bersenjata. Jumlah prajurit anak meningkat dua kali sejak tahun 1988, yaitu sekitar 350.000 tentara. Mereka menjadi salah satu kelompok tentara terbesar di Asia Tenggara.

Anak-anak di Myanmar direkrut menjadi tentara kelompok oposisi bersenjata Myanmar seperti United Wa State Army, yang memiliki jumlah tentara anak terbesar. Selain itu, Kachin Independence Army, yang juga merekrut anak perempuan dalam kelompok bersenjatanya.

Kelompok oposisi lainnya seperti Shan State Army, Karen National Liberation Army, dan Karenni Army juga melakukan hal serupa. Tak hanya mereka, bahkan pemerintah juga ikut dalam merekrut anak-anak sebagai tentara mereka di angkatan darat, yang disebut Tatmadaw Kyi.

Sejumlah prajurit Tatmadaw, petugas, dan saksi lainnya mengakui perekrutan tentara anak itu saat diwawancarai Human Right Watch pada 2007 lalu. Petugas polisi yang berhasil merekrut satu anggota baru akan diberikan imbalan 3.000 kyat (setara Rp 30.000) dan dua cangkir beras.

Petugas perekrut Tatmadaw dilaporkan sering menangkap anak laki-laki di stasiun kereta api, bus, pasar, dan tempat umum lainnya. Para perekrut ini biasanya mengancam anak-anak itu (kebanyakan lelaki) akan dipenjarakan jika menolak untuk bergabung menjadi tentara. Anak-anak ini bahkan tidak diberi kesempatan untuk menghubungi keluarganya dan langsung dikirim ke kamp pelatihan senjata.

Tentara anak akan mengalami pelatihan militer dasar selama 18 minggu. Di sana, mereka dipaksa melakukan pekerjaan fisik berat dan dihukum jika mereka gagal. Anak yang mencoba melarikan diri akan diberi hukuman yang berat seperti dipukuli dengan tongkat sebanyak 200 kali.

Luka yang diderita anak-anak terkadang mengakibatkan cacat selama berminggu-minggu. Tentara anak itu kemudian akan dikirim dalam pertempuran melawan kelompok oposisi dan dipaksa melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga sipil, seperti membakar desa dan mengeksekusi warga.

Krisis pasukan Tatmadaw Kyi

Sejak awal 1990-an, jumlah rekrutan sukarela untuk staf Tatmadaw jauh dari cukup. Myanmar membutuhkan banyak anggota militer dengan menargetkan 500.000 tentara. Hal ini disebabkan konflik internal yang ada di Myanmar, seperti konflik antara tentara pemerintah dan grup etnik seperti Kachin, Shah, dan Kayin.

Batalion militer di Myanmar memiliki sistem kuota perekrutan yang harus dipenuhi oleh staf Tatmadaw. Pada pertengahan 2006, seorang jenderal senior meminta untuk merekrut 7.000 tentara baru dalam sebulan. Komandan batalyon yang gagal memenuhi kuota perekrutan akan diberikan sejumlah sanksi, salah satunya kehilangan pos komando mereka.

Tekanan untuk memenuhi kuota perekrutan batalion oleh komandan batalion itu berbentuk perintah untuk merekrut staf baru. Tentara yang berhasil merekrut tentara baru akan diberikan tambahan penghasilan sekitar 25.000-50.000 kyat (setara Rp 250.000-500.000) atau 1,5 sampai 3 kali lipat dari gaji bulanan tentara pribadi.

Iming-iming lainnya, tentara akan diberikan hari libur tahunan jika mereka merekrut setidaknya satu anggota ketika ia kembali bertugas. Tentara yang ingin pensiun setelah bertugas selama 10 tahun harus membawa empat anggota baru untuk direkrut sebelum pensiunnya disetujui.

Anak laki-laki menjadi target paling mudah bagi tentara untuk direkrut menjadi staf baru dalam memenuhi kuota tentara di dalam batalion. Anak-anak itu akan dijanjikan uang, pakaian, pekerjaan, dan pendidikan gratis.

Sebaliknya, mereka diancam akan dipenjara jika tidak ingin bergabung dalam pasukan militer. Mereka akan ditakut-takuti untuk ditahan dalam sel, diborgol, bahkan dipukuli. Lebih miris lagi, anak-anak itu menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan dari satu perekrut ke perekrut batalion lainnya sampai akhirnya dibawa ke pusat perekrutan.

Dibutuhkan dokumen pada saat pendaftaran perekrutan staf baru Tatmadaw untuk membuktikan bahwa mereka memenuhi persyaratan yang ditentukan, yaitu minimal berusia 18 tahun. Meski demikian, pada kenyataannya bukti ini jarang sekali diminta meskipun anak sudah menyatakan bahwa umurnya di bawah 18 tahun.

Petugas perekrutan akan menyogok agar anak bisa direkrut menjadi anggota baru Tatmadaw. Standar minimum fisik, medis, pendidikan, dan usia yang menjadi pedoman persyaratan perekrutan tentara juga sering diabaikan atas dampak dari praktik sogokan oleh petugas perekrutan.

Selain krisis staf di Tatmadaw Kyi, ada beberapa faktor lainnya yang mengakibatkan tingginya angka prajurit anak di Myanmar. Kemiskinan adalah salah satu faktor yang melatarbelakanginya. Banyak keluarga yang tidak bisa membiayai anaknya bahkan hanya di tingkat sekolah dasar. Hal ini mengakibatkan rendahnya pendidikan di Myanmar sehingga anak-anak tidak mengerti hukum negara dan hak mereka sebagai anak.

Pada beberapa kasus, polisi seringkali menangkap anak-anak hanya atas kesalahan sepele. Misalnya, ketika anak-anak tidak membawa kartu identitas walaupun mereka terlalu muda untuk memiliki kartu identitas. Anak-anak yang ditangkap akan diberikan dua pilihan oleh polisi yaitu dipenjara bertahun-tahun atau bergabung di pasukan bersenjata sebagai tentara. Seperti diulas sebelumnya, polisi yang berhasil merekrut anggota baru akan diberikan imbalan 3.000 kyat (setara Rp 30.000) dan dua cangkir beras

Anak-anak di sarang ISIS

ISIS adalah salah satu gerakan terorisme yang berbasis di Suriah dan Irak. Huffington Post memaparkan hasil survei akademik Mia Bloom dari Georgia State University. Hasilnya, sekitar 1.500 anak menjadi tentara anak untuk ISIS di Suriah dan Irak.

The Economists memberitakan, anak-anak itu sengaja dikirim ke baris depan untuk mati. Banyak dari mereka dikirim untuk menjalankan operasi bunuh diri. Pada Januari 2016, sebanyak 51 anak meledakkan diri mereka di Mosul. Tak hanya jadi pasukan berani mati, tentara anak juga bekerja sebagai mata-mata, pembuat bom, juru masak, atau sebagai penjaga penjara.

Para jihadis percaya bahwa anak-anak ini adalah masa depan kalifah. Mereka harus memastikan keberlangsungan hidup kelompoknya. Seiring berjalannya waktu, wilayah ISIS di Suriah dan Irak menyusut akibat tekanan operasi Amerika. Untuk mengganti nyawa pejuang dewasa yang gugur, para ekstremis merekrut lebih banyak anak sebagai tentara mereka.

Berdasarkan laporan NBC News, apa yang dilakukan ISIS terhadap anak-anak, tak jauh berbeda dengan Hitlerjugend alias Pemuda Hitler di masa Perang Dunia II. Anak-anak ditempatkan di dalam kamp, diberikan pelatihan militer, dan pengajaran sesuai dengan sistem edukasi mereka yaitu mengajarkan ideologi dan prinsip jihad. Pelatihan ini dapat ditemukan di salah satu kota di Irak dan Suriah, yaitu Mosul dan Damaskus.

The Conversation memberitakan bahwa sejak Suriah jatuh, ISIS mengakui kekuasaan terhadap sekolah dan masjid. Para guru di Suriah diwajibkan untuk mengajar kurikulum yang dikontrol oleh ISIS. Di sini, anak-anak belajar mengenai ideologi ISIS. Kurikulum sekolah lebih mirip seperti indoktrinasi.

Berdasarkan hasil seleksi, hanya beberapa anak yang dipilih oleh ISIS untuk bergabung dengan mereka dan mengikuti pelatihan di kamp. Dengan melimitkan jumlah anak yang bisa menjadi anggota “kalifah cilik” ISIS, maka akan melahirkan kompetisi di antara para pelajar. Itu sebabnya, “kalifah cilik” ISIS ini kadang menjadi sesuatu yang sangat diingini anak-anak.

ISIS telah mendirikan kantor pendaftaran yang ditujukan khusus untuk pendaftaran anak muda, salah satunya ada di Aleppo. Beberapa orang yang datang adalah relawan dan anak-anak yang terpaksa ikut orang tuanya saat berperang.

Anak-anak ikut orang tuanya yang berperang pada akhirnya akan mendaftar menjadi tentara dan dilatih mentalnya secara radikal seperti mengikuti sesi kelas penghafalan kitab suci yang intens dan sekolah hukum syariah. Lalu, mereka diikutkan dalam pelatihan militer.

Setelah lulus, anak-anak tidak langsung ikut berperang. Biasanya mereka menemani tentara dewasa dalam berperang, hingga pada waktunya mereka juga ikut berperang.

Kamp anak-anak menampung kira-kira 40 sampai 60 anak. Fokus pembelajaran bukan hanya menjadi penerus ISIS tetapi juga meneruskan radikalisasi dan ideologi sesuai yang diingini ISIS. Mereka diajarkan cara menggunakan senjata berat seperti AK-47.

Mereka menggunakan boneka untuk mengajarkan anak-anak bagaimana cara memenggal kepala manusia. Mereka juga dipaksa untuk membawa kepala yang dipenggal untuk melatih tentara anak untuk tidak takut. Anak-anak yang lulus dari kamp terkadang dijadikan pelindung dalam perang dan menjalankan operasi bom bunuh diri.

Lebih dari setengah tentara anak ISIS meninggal di Irak dan 26 persen meninggal di Suriah. Sebanyak 40 persen meninggal saat melakukan operasi bunuh diri dengan menggunakan bom di mobil atau truk yang biasa digunakan sebagai transportasi militer. Satu per tiga meninggal dalam operasi pertempuran, satu per lima terbunuh saat melawan musuh dan 6 persen minggal saat bekerja sebagai propagandis.

Mengirim anak dengan senang hati

Amina, ibu dari anak berumur 12 tahun, Omar, menceritakan perubahan anaknya kepada The Economist setelah Omar pulang dan menghabiskan 40 hari di pusat pelatihan ISIS. Dahulu, Omar adalah anak pendiam dan penggemar film kartun Spongebob Squarepants. Namun, mendadak Omar jadi anak yang agresif dan pemarah.

Omar suka melarang ibunya memakai riasan wajah. Ia juga tidak ramah terhadap teman perempuannya dan menjadi anak pemarah. “Dia mengatakan, hal-hal itu dilarang di bawah Islam. Mereka telah mencuci otak Omar,” kata Amina sendu.

Tidak lama setelah kepulangannya, Omar terbunuh di Deir Ezzor, kota terbesar di Suriah bagian timur, ketika melawan tentara pemerintah. Amina menyalahkan hal ini kepada ayah Omar karena telah mendorong Omar untuk bergabung kelompok ekstremis tersebut. “Ayahnya berkata, seharusnya saya senang ketika Omar meninggal karena dia sudah ada di surga,” ujar Amina lirih.

The Guardian memberitakan, sebanyak 90 persen anak-anak di Irak terkena dampak perang. Konflik di Irak dan Suriah mengakibatkan 3,4 juta anak tidak sekolah. Di Irak sendiri lebih dari 5 juta anak membutuhkan bantuan saat pertempuran sengit. Untuk beberapa kasus, orang tua di Irak mengirim anak-anak mereka untuk bertarung.

Orang tua berperan penting dalam posisi anak menjadi tentara. Misalnya, berdasarkan laporan Biomedica, di El Savador, 84 persen mantan pejuang anak-anak integrasi kembali kepada keluarga dan masyarakat sipil berkat peran orang tua dalam kehidupan anak-anak tersebut. Kondisi ini berbeda dengan di Suriah dan Irak yang justru pihak keluarga yang mengirim anaknya untuk bergabung dengan militan. Mereka percaya bahwa kematian anak mereka akan membawa anak mereka pergi ke surga seperti yang terjadi pada kasus Omar oleh ayahnya.

Huffington Post memberitakan bahwa keluarga sering terlibat dalam perekrutan tentara anak oleh ISIS dan indokrtinasi religius yang berjalan secara mendalam. Mia Bloom menjelaskan kepada CNN bahwa fenomena ini bukanlah usaha pemaksaan seperti yang kita lihat di Afrika. Anak-anak ini tidak dipaksa. Orang tua memberikan ISIS akses terhadap anak-anak mereka. Mayoritas anak-anak memberikan senyuman dan selamat tinggal kepada orang tuanya sebelum bertemu dengan maut.

Tekanan terhadap keluarga untuk mendaftarkan anaknya menjadi milisi tetap ada. Sekolah dikontrol oleh ISIS dengan kurikulum yang ditetapkan oleh ISIS. Orang tua tetap mengirimkan anak mereka ke sekolah walaupun kekerasan selalu terjadi. Jika keluarga tidak menyekolahkan anaknya, ISIS akan memulangkan anak tersebut kembali ke keluarganya dan tidak memberikan persediaan pangan dan proteksi keamanan.

Newsweek memberitakan bahwa ISIS telah membawa keresahan kepada keluarga lokal karena kurangnya akses keluarga terhadap bahan makanan dan keamanan. ISIS menawarkan pembayaran terhadap keluarga yang mengirim anak-anak mereka untuk bergabung dalam pasukannya. ISIS membayar Rp 3,5 juta hingga Rp 4,8 juta per anak per bulan. Dengan demikian, keluarga dengan senang hati mengirim anak-anak mereka ke ISIS untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. (Ranessa Tri Julieta Nainggolan) ***

Baca Juga

Koalisi Internasional Gempur ISIS di Suriah

DAMASKUS, (PR)- Pasukan Demokrat Suriah (SDF) dukungan Amerika Serikat mulai melancarkan 'serangan penghabisan' yang dikatakan sebagai tahap akhir dari sebuah operasi untuk menumpas kelompok Negara Islam (ISIS) dari Suriah timur laut.