Mendulang Pelajaran dari Gerak "Invasi" Tiongkok ke Afrika

Tiongkok-Afrika/REUTERS
ANAK-ANAK Liberia memegang bendera Tiongkok saat menyambut kedatangan Presiden Tiongkok tahun 2007 Hu Jintao di Monrovia.*

"SERTA-merta, saya disapa oleh orang lokal dengan bahasa Tiongkok, ni hao (halo)," ujar Xie Tao mengenai perjalanannya ke Ghana dalam melalui tulisannya di The Diplomat.

Xie Tao menjelaskan bahwa setiap 10 menit ia melihat pamflet raksasa yang bertuliskan bahasa Tiongkok di Ghana. Di sana, populasi orang Tiongkok mencapai 70.000 orang.

Tao berharap menemukan makanan lokal setelah bertanya tentang rekomendasi tempat makan di Ghana. Dengan kecewa, tempat makan yang direkomendasikan kepadanya justru menyajikan makanan khas Tiongkok, bukan makanan lokal.

Xie Tao juga menceritakan salah satu opini seseorang berwarga negara Ghana, Nana Awere Damoah, pada harian Daily Graphic mengenai salah satu desa di Ghana, Wassa Akropang. 

"Saya malu ketika saya melihat perubahan kampung halaman saya yang menjadi pecinan. Saya bahkan tidak melihat orang-orang dari bangsa saya lagi," ujar Damoah.

Damoah menyatakan, orang Afrika telah bersikap lembek terhadap orang Tiongkok hanya untuk uang, nasi goreng, dan sup. 

"Tidakah kita malu terhadap diri kita sendiri?" ujar Damoah.

Kisah singkat tersebut bisa menjadi jendela bagi kita untuk menyadari bahwa Tiongkok melakukan pergerakan aksif untuk "menginvasi" Afrika.

BBC memberitakan, Tiongkok menyatakan bahwa mereka tidak tertarik mendominasi benua Afrika. Namun, mereka mengakui sedang mencari "dunia yang harmonis" untuk "koeksistensi perdamaian".

Atase ekonomi Tiongkok di Ethiopia, Yan Xiao Gang, mengatakan, "Tiongkok secara konsisten menghormati dan mendukung negara-negara di Afrika."

Penduduk yang banyak

Situs Atimes memberitakan, beberapa penelitian menyebut bahwa lebih dari sejuta penduduk Tiongkok telah tinggal di Afrika sejak tahun 2001.

Warga negara Tiongkok tersebar di sejumlah wilayah seperti di Afrika Selatan, Tanzania, Zamba, Ghana, Nigeia, Angola, Mauritius, Madagaskar, dan Algeria. 

Situs African Arguments memberitakan, pada 2012, sebanyak 95 persen dari 3.771 orang yang datang ke Zambia adalah tenaga kerja. Mereka bekerja di perusahaan milik Tiongkok di Afrika, perusahaan swasta Tiongkok, pemerintahan Zambia, dan sisanya di perusahaan gabungan berskala internasional. Meledaknya jumlah warga negara Tiongkok di Afrika disebabkan kerja sama antara Tiongkok-Afrika. 

Pintu kerja sama ekonomi 

Tiongkok dan Afrika sudah lama memiliki relasi kerja sama. The Guardian menyebut, ada kerja sama negeri tirai bambu dengan Zambia dan Tanzania pada akhir 1960-an. Kerja sama itu berupa proyek pembangunan rel kereta api yang menghubungkan pelabuhan Tanzania, Dar ed Salaam ke Kapiri Mposhi, salah satu kota di Zambia.

Akan tetapi, hubungan diplomasi Tiongkok dan Afrika diawali saat Tiongkok menjadi tuan rumah pertemuan Forum on China-Africa Cooperation (FOCAC) pertama pada Oktober 2000. 

Pertemuan itu diawali dengan hadirnya empat negara Afrika yang mengharapkan hubungan kemitraan multilateral yang luas. Pada pertemuan ketiga FOCAC yang diadakan enam tahun setelah pertemuan pertama, 44 pemimpin negara Afrika berpartisipasi.

Forbes memberitakan bahwa presiden Tiongkok. Xi Jinping juga mengantarkan era baru kerja sama saling meguntungkan antara Tiongkok dan Afrika. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan antara dua pihak.

Komitmen yang dibuat Xi Jinping adalah pertumbuhan ekonomi meliputi industrialisasi, modernisasi pertanian, infrastruktur, layanan finansial, fasilitas perdagangan dan investasi, pengembangan penghijauan, pemberantasan kemiskinan, kesejahteraan masyarakat, perdamaian, dan keamanan. 

South African Institute of International Affairs melaporkan, sejak tahun 2000, hubungan pedagangan Tiongkok-Afrika terus meningkat. Nilainnya meningkat dari 10,6 miliar dolar pada tahun 2000 menjadi 201,1 miliar dolar tahun 2014. 

Delegasi Tiongkok juga sering berkunjung ke Afrika seperti yang dilakukan Xi Jingping pada tahun 2013 yang merupakan kunjungan pertamanya sebagai presiden Tiongkok. 

Selain itu, Menteri Luar Negeri Wang Yi dan Perdana Menteri Li Keqiang juga melakukan kunjungan ke beberapa negara di Afrika pada 2014 dan 2015. 

Afrika dan Tiongkok memiliki relasi ekonomi yang kuat sejak tahun 2009 tatkala negeri tirai bambu itu menjadi mitra terbesar Afrika dalam perdagangan. 

Situs Harvard Politics memberitakan bahwa Tiongkok mengimpor berbagai sumber daya alam dari Afrika seperti minyak, bijih besi, kayu, dan tembaga. Sementara Tiongkok mengekspor barang-barang manufaktur yang murah ke mitra dagangnya. Mereka juga memberikan pinjaman dana miliaran dolar AS, memberikan dana investasi asing secara langsung, dan membangun infrastruktur. Lebih dari separuh bantuan luar negeri Tiongkok didistribusikan ke Afrika. 

Global Times memberitakan bahwa Tiongkok telah memberikan investasi infrastruktur dan membangun industri, jaringan kereta api, jalan raya, dan penerbangan di Afrika. 

Salah satunya adalah pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Addis Ababa ke Pelabuhan Djibouti tahun 2016 dengan investasi 4 miliar dolar AS. Selain itu, ada juga pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Mombasa-Nairobi tahun 2017.

The Diplomat memberitakan, pada akhir 2016, Tiongkok membangun 48 institut konfusius di 38 negara dan 27 kelas konfusius di 15 negara Afrika. Sebanyak 60.000 pelajar Afrika juga terbang ke Tiongkok pada 2015.

Tiongkok menjadi kontributor tunggal atas investasi asing langsung Afrika. Dalam laporan Africa News yang menyarikan penelitian Ernst & Young (EY) tentang "daya pikat" Afrika, Tiongkok disebut telah berinvestasi dalam 293 proyek pendaanan langsung sejak 2005 di Afrika dengan total nilai 66,3 miliar dolar AS.

Tiongkok juga memberikan jumlah pekerjaan tiga kali lebih banyak daripada investor Amerika Serikat yaitu 130.750 lapangan pekerjaan. 

Barat yang gerah

BBC memberitakan, dinamika kerja sama Tiongkok-Afrika membuat negara barat tidak merasa nyaman. Hal itu terjadi karena hidupnya kembali kenangan akan dominasi Eropa atas Afrika di era kolonialisme. 

Bantuan Tiongkok lebih menarik untuk Afrika daripada negara-negara barat karena negeri tirai bambu menawarkan kerja sama "tak terikat".

Saat negara-negara barat memberikan donor dengan persyaratan yang berkaitan dengan isu hak asasi manusia di Afrika, negeri tirai bambu itu tidak melihat latar belakang isu yang ada di Afrika dan tidak memberikan persyaratan.

Tiongkok yang kecanduan minyak 

Financial Times menyebut, 70 persen barang impor Tiongkok berasal dari Afrika. Barang yang diimpor berupa bahan bakar mineral, pelumas, bahan mentah, dan barang-barang manufaktur.

Negeri tirai bambu mengimpor 3.470 juta dolar AS hanya untuk bahan bakar mineral dan sumber daya yang serupa pada 2014 dari Afrika. 

Berdasarkan data yang dikumpulkan situs Finansial Dealogic, sekitar 80 persen akuisisi Tiongkok di Afrika berada di sektor pertambangan atau minyak dengan nilai 15.495 juta dolar AS sampai tahun 2015. 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa negeri tirai bambu adalah konsumen minyak terbesar kedua di dunia. Dalam laporan The International Energy Agency’s World Energy Outlook 2014, diperkirakan pada awal 2030-an, Tiongkok menjadi konsumen minyak terbesar di dunia.

Afrika menjadi mengimpor minyak mentah terbesar kedua bagi negeri tirai bambu itu setelah Timur Tengah. Tiongkok mengimpor 1,4 juta barel minyak per hari dari Afrika. Berdasarkan data USITC Executive Briefings on Trade, Tiongkok mengimpor minyak dari Angola, Sudan, Kongo, Libia, Algeria, dan Nigeria.

Kritik dari dalam negeri

Perusahaan Tiongkok mendapat kritik atas perlakukannya terhadap pekerja lokal Afrika. Berdasarkan laporan Human Right Watch pada 2011 ditemukan bahwa perusahaan tambang Tiongkok memberlakukan jam kerja yang eksploitatif serta mempunyai kondisi kerja yang tidak aman. 

Situs Fortune memberitakan bahwa salah satu pertambangan tembaga Tiongkok di Zambia hanya akan memberikan helm keselamatan kepada karyawannya setelah mereka bekerja selama dua jam. 

Saluran ventilasi di ruang-ruang bawah tanahnya juga buruk dan kecelakaan kerja yang mematikan sering terjadi. 

BBC menyebut, Tiongkok mempekerjakan warga lokal dengan gaji rendah. Margin keuntungan itu digunakan Tiongkok untuk membangun perusahaan-perusahaan di sepanjang benua Afrika. 

Perusahaan lokal juga tidak bisa bersaing dengan perusahaan negeri tirai bambu karena produksi barang mereka sudah kadung membanjiri pasar di Afrika.

Di Nigeria, 80 persen perusahaan tekstil lokal Nigeria tutup karena barang tekstil Tiongkok yang dijual dengan harga lebih rendah. 

Harvard Politics mengutip laporan Kementerian Perdagangan Tiongkok yang menyebut terdapat 50 miliar dolar kontrak baru di Afrika untuk tahun 2015 dan China Railway Construction Corporation (CRCC) memiliki kontrak lebih dari 5 miliar dolar AS di sana. 

Akan tetapi, program infrastruktur pemerintahan Beijing tidak memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat lokal melainkan untuk tenaga kerja Tiongkok yang ada di Afrika. 

Kontrak kerja Tiongkok yang ada di Afrika menguntungkan tenaga kerja Tiongkok sendiri, bukan kepada tenaga kerja lokal. Contohnya, sebanyak 75.000 lapangan kerja di Afrika Selatan diisi tenaga kerja Tiongkok dari tahun 2000 sampai 2011.

Beijing juga melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Contohnya, berdasarkan hukum Ghana, tidak diperbolehkan adanya praktik penambangan di petak kecil seluas 25 hektare atau kurang dari itu. 

Tetapi, Tiongkok tetap melakukan tindakan ilegal itu dengan mengeksplorasi tambang emas. Hasilnya, banyak orang Afrika melihat wilayahnya dieksploitasi pendatang baru. 

Berdasarkan laporan Business Insider, salah satu proyek Tiongkok yang ada di Afrika adalah pembangunan bendungan Grand Ethiopian Renaissance yang memakan biaya 4,8 miliar dolar AS. Bendungan itu akan menyediakan tenaga hidroelektrik untuk Ethiopia dan sekitarnya. Namun, proyek itu mengundang kontroversi karena harus meggusur sekitar 20.000 orang dari kampungnya. 

Antara tahun 2000 sampai 2014, pemerintah, bank, dan kontraktor Negeri Tirai Bambu telah memberikan pinjaman sebesar 86 miliar dolar kepada Afrika. Republik Kongo, Ethiopia, Kenya, Angola, dan Sudan merupakan negara dengan penerima pinjaman terbesar. 

Proyek kereta api yang menghubungkan Addis Ababa dan Djibouti menghabiskan 4 miliar dolar AS atau hampir seperempat dari kekuatan ekonomi nasional Ethiopia tahun 2016, yaitu 12,57 miliar dolar. 

Hal itu menimbulkan pertanyaan bagaimana negara-negara di Afrika membayar pinjaman tersebut. Afrika berpotensi mengalami krisis hutang dengan menerima pinjaman besar Tiongkok. 

Hubungan kerja sama ekonomi antara Tiongkok-Afrika juga dilihat sebagai kerja sama perdagangan searah. 

Tiongkok mengeksploitasi sumber daya alam Afrika untuk kebutuhan industrinya. Ekspor barang ke Afrika dengan harga yang murah juga tidak mengakibatkan tumbuhnya tingkat persaingan di perusahaan lokal tetapi menumbuhkan kebergantungan Afrika terhadap Tiongkok. 

Penelitian menunjukkan bahwa kehadiran Tiongkok telah gagal menunjukkan adanya perkembangan keterampilan yang signifikan maupun transfer teknologi yang memadai.

Tiongkok juga mendapatkan kritik dari masyarakatnya sendiri. Pada 2013, The Guardian memberitakan bahwa masyarakat Tiongkok, dengan 100 juta penduduk perdesaan masih hidup dengan pendapatan kurang dari 1 dolar AS sehari, mempertanyakan bantuan luar negerinya ke Afrika. 

Penduduk Tiongkok mengkritik bahwa pengeluaran pendapatan nasional atas Afrika sebaiknya digunakan untuk mengakhiri masalah kemiskinan di dalam negeri. (Ranesa Tri Julieta Nainggolan)***

Baca Juga

Jembatan Laut Terpanjang di Dunia Bermasalah

BEIJING, (PR).- Pembangunan jembatan laut terpanjang di dunia sepanjang 55 km yang menghubungkan Hong Kong, Makau, dan Tiongkok tampaknya akan sulit terselesaikan.

Bahasa Indonesia Mekar di Ukraina

KIEV, (PR).- Bahasa Indonesia sangat diminati oleh mahasiswa Universitas Taras Shevchenko di Kiev Ukraina.