Orang Bandung Saling Berperang di Eropa Saat Perang Dunia II

Spitfire V Inggris/DOK. PR
PESAWAT Spitfire V RAF Inggris dari Skuadron 322 yang bernama Bandoeng di Inggris tahun 1943.*

PECAHNYA Perang Dunia II di Eropa tahun 1939-1945 melibatkan hampir seluruh bangsa dan negara. Di wilayah yang banyak dihuni oleh orang-orang Eropa itu, ada sejumlah warga Hindia Belanda asal Bandung. Mereka, dari ras yang sama atau beda, ikut saling serang membela pihak masing-masing. 

Secara umum, orang-orang ras Eropa yang berperang itu berada pada dua kubu. Masing-masing di pihak Jerman, Italia, dan Jepang, menghadapi pihak Sekutu (Inggris dan commonwealth serta Belanda), Amerika, dan Uni Soviet. 

Ke­nyataannya, warga antarbangsa yang ikut berperang di Eropa itu sebenarnya sudah tergolong “urang Bandung” karena lahir di kota kembang.

Seluruh negara yang berperang pada masa itu sama-sama merekrut orang-orang sebangsanya untuk menjadi tentara. 

Bukan hanya mereka yang berada di negeri sendiri, yang lahir di negara lain pun pun ramai-ramai mendaftar menjadi tentara. Mereka masuk angkatan darat, laut, udara, intelijen, dan sukarelawan. 

Tak ada catatan resmi berapa jumlah orang Eropa asal Bandung yang ikut berperang di Eropa saat itu. Bahkan nama-nama mereka pun seakan terlupakan zaman. Yang tercatat misalnya dalam pertempuran udara, “urang Bandung” ada yang memperkuat Luftwaffe (Angkatan Udara Nazi Jerman) dan Royal Air Force (Angkatan Udara Inggris).

Berdasarkan data pilot Luftwaffe yang pesawatnya tertembak jatuh atau hilang selama Perang Dunia II yang disusun Erik Mombeeck dan dilansir di Belgia, tahun 2000-2007 serta Luftwaffe Officer Career Summaries yang disusun Henry L deZeng IV dan Douglas G Stankey dilansir 2014, terdapat nama pilot Jerman asal Bandung, Oberleutnant Friedrich Lyons. 

Friedrich “Fritz” Lyons merupakan salah seorang pilot dalam daftar 40 pesawat tempur Focke Wulf FW 190 yang tertembak jatuh atau hilang dalam pertempuran di Eropa.

 

Disebutkan, pesawatnya Friedrich Lyons jatuh ditembak pesawat musuh pada pertempuran udara di sekitar Liege, Belgia, pada 23 Desember 1944. Jenazah Friedrich Lyons dimakamkan di permakaman Köln-Süd-Friedhof, Koeln, Jerman, dengan nomor urut makam 78.  

Dalam catatan tersebut, Friedrich Lyons lahir di Bandung pada 21 Februari 1922. Dia yang mulai bergabung dengan Luftwaffe pada 30 April 1943 de­ngan pangkat  leutnant menjadi awak pesawat pengebom tempur bermesin ganda Messerschmitt Bf 110 F2. 

Akan tetapi, pesawatnya Friedrich Lyons mengalami kerusakan di Kramatorskaja, Ukraina pada 1 Juli 1943, tiga hari menjelang pertempuran Jerman menghadapi Uni ­Soviet yang kemudian dikenal sebagai ­Battle of Kursk.

Friedrich Lyons naik pangkat menjadi Oberleutnant pada 11 Januari 1944, lalu menjadi pilot pesawat  Focke-Wulf FW190A-8. Selama kariernya tercatat baru sekali menembak jatuh pesawat Sekutu. Namun, pesawatnya Friedrich Lyons tertembak jatuh lalu tewas di Liege, Belgia, pada 24 Desember 1944 saat pertempuran udara melawan Amerika dan Sekutu, dalam rangkaian Battle of the Buldge. 

Di lain pihak, ada pula “urang Bandung” yang memilih memperkuat Royal Air Force (Angkatan Udara Inggris), yang menurut informasi The Pilots of 41 Squadron RAF, 1939-1946 yang disusun Steve Brew and Navarine Publishing  2003-2013, adalah orang Belanda bernama Rijklof van Goens, yang bergabung Skuadron ke 41 RAF terdiri atas sejumlah pesawat Vickers Supermarine Spitfire.

Goens berpangkat letnan penerbang yang lahir di Bandung 25 Juli 1914 dan mulai memperkuat RAF pada 19 Januari 1944. Goens mulai terbang pada 17 Agustus 1944, tetapi pada hari yang sama ironisnya ia langsung tewas karena pesawat tertembak senjata penangkis serangan udara oleh pihak Inggris sendiri. 

Goens meninggal pada umur 30 tahun, lalu dimakamkan di Runnymede Memorial, Egham, Inggris

Nama pesawat

Dari berbagai ulasan pihak Inggris dan Jerman atas pertempuran udara pada Perang Dunia II, pesawat FW190 dan Spitfire pun menjadi musuh bebuyutan yang masing-masing sebagai andalan Nazi Jerman dan Inggris pada kelasnya. 

Pesawat sama digunakan dalam pertempuran udara di Eropa juga di Afrika Utara. Dari pihak Amerika, imbangannya adalah Vought F4U Corsair dan North American P-51 Mustang menjadi lawan sekelas FW190. 

Nama Kota Bandung pun juga “nampang” pada pertempuran udara di Eropa, yang menurut arsip Royal Air Force tertulis sebagai pengenal salah satu pesawat Supermarine Spitfire MkV dalam Skuadron 322 RAF. 

Ada dua kota asal Hindia Belanda yang saat itu sudah diduduki Jepang dan berubah nama menjadi Indonesia, yang dicantumkan pada Skuadron 322 RAF, yaitu “Bandoeng” dan “Malang”. 

Menurut data Beeldbank Nederlands Instituut voor Militaire Historie, pada Perang Dunia II di Eropa, ­penamaan “Bandoeng” pada pesawat tempur pihak Sekutu, khususnya Belanda sebenarnya ada dua. Yang di Skuadron 322 RAF merupakan pesawat baru bernama “Bandoeng”, menyusul pesawat sebelumnya yang juga bernama “Bandoeng” yang sudah hancur. 

Skuadron 322 RAF khusus orang-orang Belanda yang berlindung kepada Kerajaan Inggris. Mereka adalah pemerintahan pengungsian, setelah Belanda diduduki Jerman pada 10 Mei 1940. 

Sementara Skuadron 322 RAF, yang dibentuk 13 Juni 1943, merupakan bagian pertahanan udara Inggris di Kota London untuk menangkal serangan sejumlah bom terbang V-1 yang diluncurkan Nazi Jerman dari wilayah pendudukan di Belanda dan Pantai Prancis. 

Pada awal tahun 1945, seluruh pesawat Spitfire V pada Skuadron 322 RAF, termasuk yang bernama “Bandoeng” dihentikan operasionalnya dan diganti Spitfire IX yang berfungsi serang darat (ground attack) untuk menyerang pasukan Jerman di Belanda dan Belgia.

Seusai Perang Dunia II, Skuadron 322 dihapus dari daftar Angkatan Udara Inggris. Namun, berbagai pesawat, orang-orangnya, dan nama Skuadron 322, direkrut dan dibentuk lagi oleh Angkatan Udara Belanda dengan nama 322e Jachtvliegtuig.

Awal 1947, Belanda mengi­rimkan Skuadron 322 ke Indonesia dalam aksi militer menyerang pihak Indo­nesia ke sejumlah kota di Pulau Jawa, baik semasa Ope­rasi Produk 1947 dan Operasi Gagak 1948. 

Skuad­ron 322 terakhir kali di Pulau Jawa, berada di Lapang­an Terbang Andir Bandung tahun 1950 (kini Husein Sastranegara Bandung). Pada tahun yang sama, seluruh pasukan ­ditarik setelah Belanda mengakui kedaulatan ­Indonesia.***

Baca Juga

Bom Peninggalan Perang Dunia II Mengancam Bandara London

LONDON, (PR).- Semua penerbangan masuk dan keluar dari bandara London City telah dibatalkan usai ditemukan sebuah bom perang dunia kedua yang belum meledak. Bom tersebut berjenis bom hidrogen seberat 500 kilogram buatan Jerman.

Arca Domas, Kenangan Tentara Nazi Jerman di Indonesia

JIKA ditempuh dari jalan raya Cikopo Selatan, perlu waktu sekira setengah jam untuk sampai ke lokasi makam di Kampung Arca Domas, Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. 

Baru Satu Bus Bandros Per Koridor

BANDUNG, (PR).- Bus Bandros (Bandung Tour on Bus) yang disediakan bagi jalur wisata baru direncanakan hanya satu unit per koridor. Bus Bandros akan lebih mengedepankan estimasi waktu kedatangan bus di setiap halte sebagai jaminan bagi calon penumpang.