Peneliti Kembangkan Vaksin untuk Terapi Pasien Kanker

Ilustrasi/REUTERS

PENGOBATAN kanker konvensional seperti kemoterapi da­pat menyebabkan efek samping dan merugikan pada sel-sel tubuh yang sehat. Pengembangan teknologi kedokteran kini mengarah pada pembuatan vaksin personal yang dapat bekerja secara lebih spesifik pada sel tumor.

Vaksin personal dibuat hanya untuk pa­sien yang bersangkutan sehingga tidak pernah ada sebelumnya dan tidak akan ada lagi di dunia.

Pada mulanya, pengobatan kanker difokuskan pada bagian tubuh yang terinfeksi, kemudian mulai dikelompokkan berda­sar­kan jenis tumor tertentu. Namun, ternyata pasien kanker yang tam­pak serupa tidak memberikan respons yang sama saat dite­rapi. Pengobatan kanker modern mengusung teori bahwa bukan lokasi di mana kanker berada tetapi tanda genetiknyalah yang pa­ling penting untuk dilawan. 

Vaksin pada umumnya seperti vaksin cacar bekerja dengan me­latih sistem imun untuk mengenali dan melawan penyusup. Na­mun, vaksin personal ini lebih bersifat menyembuhkan penyakit daripada mencegahnya. Uji klinis vaksin personal sedang dila­ku­kan untuk kanker kulit, paru-paru dan kandung kemih, juga glioblastoma, kanker otak.

Ahli onkologi dan hematologi Amerika Serikat Catherine Wu mengembangkan pengobatan baru yang diujikan pada pasien dengan tumor otak dan melanoma (kanker kulit). ”Kesembuhan terhadap penyakit kanker adalah reaksi kompleks yang melibat­kan semua komponen sistem imun,” kata Wu seperti dilansir elpais.com.

Mengamati mutasi tumor

Tim yang dipimpin oleh Catherine Wu dari Dana-Farber Cancer Institute di Boston, Massachusetts, merawat enam orang dengan melanoma. Untuk tiap orang mereka merancang formula vaksin yang mengandung hingga dua puluh fragmen protein yang berkait­an dengan mutasi tumor-tumornya. 

Dua perkembangan penting di bidang onkologi turut memberi­kan harapan bagi keefektifan metode ini. Yang pertama adalah perkembangan teknologi sequence genom tumor lengkap dari pa­sien. Dengan teknologi ini dapat diketahui profil genetik spesifik kanker. Juga algoritma yang memprediksi bagaimana suatu protein tergabung ke dalam permukaan suatu sel dalam bentuk yang dapat dikenali sistem imun.

Prediksi algoritma digunakan untuk memilih beberapa mutasi tumor sebagai target. Kemudian akan dibuat vaksin yang melatih sistem imun pasien untuk belajar mengenali dan melawan sel-sel tumor sehingga hanya menyerang sel dengan target tersebut. Para peneliti menguraikan sequence gen yang mengode protein pada tumor pasien. Setelah itu, protein mutan dengan kemungkinan paling besar untuk memberikan respons imun akan dipilih untuk digunakan sebagai basis vaksin personal.

Genom sel-sel melanoma cenderung memiliki banyak mutasi, sehingga para peneliti mendapatkan banyak pilihan dalam proses perancangan vaksin. Namun, sebagian sel-sel kanker akan memberikan lebih sedikit pilihan target untuk diserang. 

Komponen dalam vaksin

Vaksin personal ini memiliki dua komponen. Yang pertama adalah peptida berdasarkan neoantigen tumor. Peptida ini memandu antigen ke sel sistem imun dan belajar mengenali serta membasmi sel tumor. Komponen kedua adalah serangkaian asam ribo nukleat (ARN) yang meningkatkan respons sistem imun. Jika berfungsi baik, ia akan digunakan secara kombinasi dengan pera­watan imunoterapi lain. 

Seperti diulas di Nature.com, perancangan dan proses produksi vaksin memerlukan waktu kurang lebih tiga bu­lan untuk merancang serta memproduksi vaksin tersebut. Namun, prosesnya bisa diakselerasi hingga kurang lebih enam minggu.

Para peneliti sedang mencari kanker seperti apa yang cocok untuk diterapi dan cara terbaik untuk menggabungkan vaksin dengan terapi lain. Suatu fase baru telah dimulai, yakni imunote­rapi kanker yang rasional. Penentuan obat yang paling tepat un­tuk mendapatkan hasil medis terbaik bagi seorang pasien dila­kukan berdasarkan pertimbangan variasi genetik. Setiap pasien memiliki kondisi biologis yang unik dan perlu dipertimbangkan dalam pemilihan terapi medis agar memberikan hasil terapi optimal serta efek samping minimal. (Fajar Ramadhitya P, alumnus Farmasi Universitas Padja­djaran)***

Baca Juga

CEO Alibaba Jack Ma Akan Pensiun

SALAH satu pendiri sekaligus CEO Alibaba, Jack Ma mengumumkan dia akan meninggalkan raksasa e-commerce Tiongkok itu pada Senin mendatang. Ia ingin mendedikasikan waktunya untuk filantropi yang berfokus pada pendidikan.

Indonesian Weekend London, Kopi Jawa Barat Laris Manis

LONDON, (PR).– Kopi Jawa Barat berhasil menjadi primadona pada Indonesian Weekend London, di Potter Field Park, Inggris, Sabtu-Minggu (8-9/9/18).  Sebanyak 30 kg kopi dari lima daerah di Jawa Barat yang digelar booth Humas Jabar habis terj

Singgung Thanos di Vietnam, Jokowi Memicu Tawa

HANOI, (PR)- Pemimpin Tiongkok dan pemimpin beberapa negara Asia Tenggara, Rabu 12 September 2018, mengatakan Rabu bahwa langkah AS untuk membatasi perdagangan dan melindungi bisnis Amerika merupakan ancaman besar bagi ekonomi dunia.

Koalisi Internasional Gempur ISIS di Suriah

DAMASKUS, (PR)- Pasukan Demokrat Suriah (SDF) dukungan Amerika Serikat mulai melancarkan 'serangan penghabisan' yang dikatakan sebagai tahap akhir dari sebuah operasi untuk menumpas kelompok Negara Islam (ISIS) dari Suriah timur laut.