Mengenal dan Memahami Vladimir Putin, Beruang Merah Degil dari Rusia

Vladimir Putin/REUTERS

“TERKADANG perlu menjadi sendirian demi membuktikan bahwa dirimu benar,” ujar Vladimir Putin, Presiden Rusia, seperti dilaporkan Time. Pernyataan negara penyelenggara Piala Dunia 2018 itu berhubungan dengan kenyataan bahwa Vladimir Putin bersikeras bahwa dukungan terhadap pemberontak Suriah harus dihentikan.di Konferensi Tingkat Tinggi Negara G-8.

Selama masa pemerintahan Vladimir Putin, Rusia adalah salah satu negara yang menetapkan beberapa kebijakan kontroversial.

Aneksasi Krimea dan dukungan terhadap Presiden Bashar al-Assad merupakan dua contoh kebijakannya yang kontroversial. Kebijakan-kebijakan Vladimir Putin sebagai seorang presiden dapat dikaitkan erat dengan pengalamannya di masa lalu. 

Impian seorang remaja

“Walaupun terdengar aneh, (jawabannya) tidak,” kata Vladimir Putin saat ditanyai apakah perilakunya telah berubah sejak ini menjadi presiden.

”Hal tersebut aneh, tetapi begitulah cara kerjanya. Mungkin karena pekerjaan saya sebelumnya,” ujarnya ketika menghadiri program televisi, Vremya.

Dia juga memaparkan bahwa di kehidupan masa lalunya, dia selalu berusaha bertingkah laku seakan-akan dia diawasi secara terus-menerus. Demikian dilaporkan The Moscow Times.

Dalam masa perang dingin, Rusia adalah salah satu aktor utama dan mempunyai peran besar di Jerman Timur. Maka dari itu, seperti disebut dalam buku Steven Lee Myers yang berjudul The New Tsar; The Rise and Reign of Vladimir Putin, sang Presiden yang lahir pada 7 Oktober 1952 ini mempunyai pengalaman sebagai agen Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) atau badan intelijen Uni Soviet.

Buku tersebut juga memaparkan bahwa ketertarikan Vladimir Putin terhadap KGB muncul saat ia remaja.

Film tahun 1968 yang terinspirasi dari buku The Shield and the Sword menarik perhatian Vladimir Putin. Ia pun mengganti impiannya dari menjadi pelaut atau pilot. Ia lantas ingin menjadi mata-mata seperti Major Belov, pemeran utama dalam film tersebut.

Bahkan, saat remaja, dia pergi ke kantor pusat lokal KGB untuk menawarkan bantuannya. Namun, seperti diberitakan Business Insider, dia justru disarankan untuk bekerja keras dan mempelajari hukum.

Kerja keras itu terbayar ketika Vladimir Putin akhirnya bekerja untuk KGB dari tahun 1975 sampai 1991. The Moscow Times memberitakan, Vladimir Putin berhasil mencapai posisi sebagai Letnan Kolonel.

Dia ditempatkan Dresden, Jerman pada 1985 saat berumur 33 tahun. Russia Beyond menyebut, Vladimir Putin memiliki tugas mengumpulkan seluruh informasi mengenai North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang merupakan bagian dari blok Barat.

Merekrut para informan, mengumpulkan informasi, dan mentransfer data yang didapatkan kepada Moskow merupakan tugas-tugasnya.

Menurut para ahli, pengalaman Vladimir Putin di Dresden pada 1989 merupakan salah satu momen penting dalam hidupnya.

“Saya merasa bahwa negara (Uni Soviet) sudah tidak ada lagi,” ujar Vladimir Putin menanggapi kejadian tersebut seperti dinyatakan dalam buku Steven Lee Myers.

“Sepertinya (Uni Soviet) telah hilang. Menjadi jelas bahwa Uni Soviet sedang tidak sehat. Hal tersebut mematikan, penyakit yang tak bisa disembuhkan yang disebut kelumpuhan; kelumpuhan kekuasaan,” katanya.

BBC memaparkan, peristiwa ini terjadi beberapa pekan setelah Tembok Berlin runtuh. Kerumunan orang melakukan demonstrasi di kantor pusat Stasi, polisi rahasia Jerman Timur, di Dresden.

Sebagian kecil dari para demonstran itu kemudian memutuskan untuk pergi ke depan kantor pusat KGB di seberang jalan. Para demonstran pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kantor tersebut setelah salah satu petugas memberitahukan bahwa rekan-rekannya bersenjata.

Sang petugas juga menyatakan bahwa mereka berwenang untuk menggunakan senjata mereka saat keadaan darurat. Walaupun para demonstran akhirnya tidak jadi memasuki gedung tersebut, Vladimir Putin tahu seberapa berbahayanya situasi tersebut.

Ia pun menghubungi dan meminta bantuan kepada unit tank Tentara Merah.

“Kita tidak bisa berbuat apapun tanpa perintah dari Moskow,” ujar lawan bicaranya. “dan Moskow diam,” kata sang lawan bicara.

Frase “Moskow diam” kemudian membekas dalam diri Vladimir Putin. Myers menulis, bahwa tepat saat itu, Vladimir Putin merasa bahwa negara meninggalkannya dalam keadaan krisis walau dia telah setia menjalankan tugas-tugasnya sebagai pegawai negara.

Setelah peristiwa tersebut, Vladimir Putin dan koleganya menghancurkan semua materi yang berhubungan dengan aktivitas KGB di Jerman Timur. Dokumen-dokumen yang berharga ditransfer ke Moskow. Sementara yang lainnya dibakar.

“Kami membakarnya pada siang hari dan malam hari,” ujar Vladimir Putin. Misinya dan keberadaan KGB di Dresden pun berakhir.

“Kita akan mempunyai Putin yang lain dan juga Rusia yang lain tanpa waktunya di Jerman Timur,” ujar Boris Reitschuster, penulis biografi asal Jerman.

Pengalaman tersebut telah memberikannya pelajaran yang tak akan pernah dilupakan Vladimir Putin dan memberikannya ide-ide akan model masyarakat serta membentuk ambisi-ambisinya akan jaringan yang kuat serta kekayaan personal.

Terlebih, peristiwa tersebut memberikannya kekhawatiran mengenai kerentanan para elite politik dan bagaimana mudahnya mereka bisa digulingkan masyarakat.

The Atlantic memberitakan bahwa pengalaman Vladimir Putin merupakan pelajaran baginya bahwa aktivitas-aktivitasnya di masa depan tidak dapat didasari oleh kesetiaan buta pada ideolog atau seorang pemimpin politik.

Kesetiaannya harus diberikan kepada negaranya sendiri. Maka dari itu, di bawah pemerintah Vladimir Putin, Moskow dipercaya untuk tidak lagi diam.

Jalan dari Leningrad menuju Kremlin

Vladimir Putin terjun ke dunia politik sejak tahun 1991 ketika ia telah secara resmi mengundurkan diri dari KGB.

Dia bekerja di Leningrad (sekarang St. Petersburg) untuk Wali Kota Anatoly Sobchak yang juga merupakan mantan dosen hukumnya. Vladimir Putin merupakan pekerja yang dikenal menyelesaikan tugasnya dan juga setia.

“Lebih baik digantung demi kesetiaan daripada dihargai karena pengkhianatan,” ujarnya ketika Sobchak tidak terpilih kembali menjadi wali kota dan dia ditawari untuk bekerja bagi wali kota baru yang terpilih.

Karier Vladimir Putin berkembang pesat di Moskow sejak dia dan keluarganya pindah ke ibu kota Rusia tersebut. Ia pun kemudian menjadi kepala Federalnaja Sloezjba Bezopasnosti (FSB), penerus KGB pada 1998. Posisi tersebut hanya akan diberikan kepada orang yang sangat terpercaya.

Biography menuliskan, tahun 1999, Vladimir Putin diangkat menjadi perdana menteri Negeri Beruang Merah tersebut setelah presiden kala itu, Boris Yeltsin memecat perdana menterinya.

Ketika Yeltsin mengundurkan diri dari posisinya, Vladimir Putin pun ditunjuk untuk menjadi presiden. Dia pun kembali terpilih menjadi Presiden pada pemilu tahun 2000, 2004, dan 2012. Pada 2008, dia menjadi perdana menteri negara tuan rumah Piala Dunia 2018 itu mendampingi Dmitry Medvedev.

Moskow tidak pernah diam

“Dia adalah pria kecil jahat yang akan menggigitmu jika kamu terlalu dekat dan negara seperti itulah yang ia telah berusaha bangun,” ujar Masha Gessen, jurnalis Russia seperti dikutip Washington Post tahun 2013.

Di bawah pemerintahan Vladimir Putin, Rusia adalah salah satu negara besar tempat setiap langkah yang diambil akan diawasi, terutama oleh Amerika Serikat dan juga negara-negara tetangganya. Siapa yang memimpin akan sangat menentukan arah kebijakan Rusia.

“Apakah agenda kebijakan luar negeri Rusia? Anda tidak dapat mencari tahu dengan siapakah Rusia berteman, menjual senjata, atau bernegosiasi karena hal ini sangatlah sederhana. Rusia ingin ditakuti. Itu saja,” kata Gessen.

Pada era Vladimir Putin, terbukti bahwa negara tuan rumah Piala Dunia 2018 itu ingin memperkuat diri kembali dan bersedia melawan siapa saja yang bertentangan dengannya. Penguatan diri tersebut dapat dilihat dari aneksasi Krimea dari Ukraina yang dilakukan pada tahun 2014.

Sanksi-sanksi pembekuan aset, larangan ekspor, larangan perjalanan, dan lain-lainnya juga diberlakukan terhadapnya oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.

“Kami tidak akan mengembalikan wilayah kami. Krimea adalah bagian dari Federasi Rusia,” ujar juru bicara Kementrian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova pada Februari 2017 seperti diberitakan CNN.

Selain itu, sebagai salah satu negara dengan kekuatan ekonomi industri besar, Rusia adalah salah satu anggota G-8. Namun, The Telegraph memberitakan bahwa keanggotaan Russia dalam G-8 juga di ditangguhkan pada 2014. Pada awal 2017, Rusia memutuskan keluar dari G-8 secara permanen.

“Format G-20 sebenarnya telah menggantikan G-7 dan G-8,” ujar Dmitry Medvedev, Perdana Menteri Rusia.

“Jelaslah bahwa apa arti G-7 tanpa kekuatan-kekuatan ekonomi lainnya. Tidak ada artinya,” ujanrya lagi. Demikian diwartakan The Independent.

Drama di Suriah

Dukungan Rusia terhadap Bashar al-Assad sering kali menuang perdebatan. Menurut The Huffington Post, negara tuan rumah Piala Dunia 2018 itu mendukung pemerintah Suriah sejak tahun 2015 dengan serangan udara sebagai salah satu caranya.

Rusia adalah pendukung terbesar Assad dan selalu berusaha meminimisasi pengaruh Amerika Serikat di negara tersebut. Negara Beruang Merah itu menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan berbagai resolusi yang menargetkan Assad.

Dukungan tersebut mempunyai keuntungannya tersendiri bagi negara tuan rumah Piala Dunia 2018 itu. Menurut Andrew Parasiliti, ketua Center for Global Risk and Security at the Rand Corporation, keuntungan itu termasuk lokasi Suriah yang berbeda di jantung Timur Tengah, pangkalan angkatan laut Rusia di Tartus yang membuka akses ke Mediterania, pangkalan udara Hmeimim yang dioperasikan oleh Russia, dan juga pencegahan masuknya kaum ekstremis ke pusat Asia.

Assad pun berterima kasih kepada Vladimir Putin atas tindakan menyelamatkan negaranya pada November 2017.

“Lebih dari 2.000 pejuang dari Rusia dan negara pecahan Uni Soviet sedang berada di wilayah Suriah. Terdapat ancaman bahwa mereka (pemberontak yang didukung Amerika Serikat) akan kembali kepada kami. Jadi, daripada menunggu kedatangan mereka, kami lebih baik melawan mereka di wilayah Suriah.” ujar Vladimir Putin pada 2015 lalu, membela tindakan negaranya.

Ekstremisme memang merupakan hal yang penting bagi negara penyelenggara Piala Dunia 2018 itu mengingat keberadaan para pemberontak di Kaukasus Utara, terutama Chechnya.

Menurut Global Terrorism Index 2015, Rusia adalah negara non-Muslim terbesar penyumbang pejuang asing kepada ISIS di Suriah dan Irak.

Para pemberontak itu pernah menyandera, membunuh, dan mengebom. Vladimir Putin pun telah melakukan berbagai cara untuk melawannya dengan cara memberhentikan pemilu regional, membunuh pemimpin pemberontak, dan melakukan intervensi di Suriah demi mengurangi aksi di Rusia, mengingat bahwa kelompok pemberontak telah memaparkan sumpah setianya kepada ISIS pada 2015.

Vladimir Putin dan penduduknya

Rusia adalah salah satu negara yang akan kembali memilih pemimpin negaranya pada Maret 2018. Maka dari itu, kebijakan-kebijakan yang diterapkan Vladimir Putin tentunya menimbulkan pertanyaan apakah ia akan terpilih kembali menjadi presiden.

Hal ini muncul berhubungan dengan pernyataannya pada 6 Desember 2017 yang mempaparkan bahwa dia akan kembali mencalonkan diri menjadi presiden Rusia para pemilu Maret 2018 mendatang.

Kebijakan-kebijakan Vladimir Putin mungkin membuat geram negara-negara lainnya. Namun, kebijakan-kebijakan itu membuat tingkat popularitasnya tinggi dan stabil.

Pada Juni 2017, studi dari Pew Research Center menyebut bahwa tingkat kepercayaan masyarakat negara penyelenggara Piala Dunia 2018 itu terhadap Vladimir Putin mencapai angka 87 persen.

Mereka mempercayainya mempunyai kemampuan untuk melakukan hal yang benar terhadap urusan dunia. Angka itu membuatnya menjadi salah satu pemimpin dunia yang paling terkenal.

Penduduk negaranya mempercayai bahwa pengaruh global Rusia sedang meningkat dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Selain itu, pemerintahan Vladimir Putin telah meningkatkan pandangan penduduk Rusia akan pentingnya negara mereka di dunia.

Di sisi lain, tingkat persetujuan Vladimir Putin akan hubungan negara tuan rumah Piala Dunia 2018 itu dengan Uni Eropa dan Tiongkok telah menurun lebih dari 10 persen.

Lembaga riset Levanda Center yang berbasis di Moskow juga menunjukkan bahwa mayoritas penduduk negara penyelenggara Piala Dunia 2018 itu akan memilih Vladimir Putin kembali menjadi presiden mereka.

Survei yang dilakukan Agustus 2017 menunjukkan bahwa 60 persen dari 1.600 orang Rusia di 48 region akan memilih Vladimir Putin kembali serta 67 persen juga menanggapi dengan positif terhadap pertanyaan “Apakah Anda ingin Vladimir Putin memimpin Russia setelah 2018?”.

Pengalaman Vladimir Putin menjadi anggota KGB memang mempengaruhi gaya kepemimpinannya sebagai Presiden. Pengalaman “Moskow Diam” membekas di dalam dirinya.

“Saya pikir, banyak dari rasa kebenciannya kembali ke masa tersebut,” ujar Gessen. “Berada di KGB saat waktu yang buruk, berada di luar negeri ketika semuanya sedang berubah. …Dia adalah seseorang yang sangat pendendam – itulah salah satu sifat dari karakternya. Dendam-dendam tersebut telah dia bawa sampai sekarang. Dia berusaha untuk membalas dendam terhadap setiap orang yang pernah menentang Uni Soviet,” ujar Gessen. (Tanya Lee Nathalia) ***

Baca Juga

Putin Tak Sabar Ingin Bertemu dengan Trump

MOSKOW, (PR).- Rusia berusaha untuk menunjukkan kepada dunia bahwa konfrontasi yang terjadi dengan Barat tak akan membuat negaranya terisolasi dari komunitas internasional.

Belanda Tak Akan Ikut Menyerang Suriah

DEN HAAG, (PR).- Belanda takkan ikut dalam aksi militer yang digagas Amerika Serikat di Suriah. Demikian ditegaskan Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, Sabtu 14 April 2018.

Sekutu Inggris Usir Warga Negara Rusia, Moskow Bereaksi Keras

WASHINGTON, (PR).- Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Senin 26 Maret 2018 waktu setempat memerintahkan pengusiran 60 warga negara Rusia dan menutup konsulat Rusia di Seattle sebagai tanggapan atas serangan racun saraf awal bulan ini di